Ini kali ke berapa?
Aku bahkan hampir tak
pernah menghitungnya.
Di antara desir ombak
dan angin yang saling beradu lalu pecah di lambung kapal, di antara kaki langit
yang hanya terlihat seperti titik-titik sembul cahaya pada atmosfer yang gelap,
pada suhu malam yang bertengger rapat tak terbaca di derajat keberapa, aku
kembali berlayar. Mungkin ada baiknya meninggalkan apa yang aku harapkan
beberapa saat, barangkali saja memang aku yang kurang bersabar.
Setelah puluhan hari
menunggu jawaban, aku tak dipanggil-panggil. Penolakan bukanlah hal yang
menyedihkan. Barangkali Tuhan sudah menuliskan hal yang berbeda jauh dengan
keinginanku, angan-anganku, di Lauh
Mahfuz. Aku tak boleh bersedih, bukan?
Yang aku tahu, Tuhan
begitu pemurah. ditahanNya beberapa keinginanku untuk sesuatu yang pasti akan
digantikan dengan yang lebih baik. Ya, tentu aku harus mempercayainya. Sebab
jika tidak, matilah aku!
Sebelum aku mendapat
teguran yang jauh lebih keras, seseorang telah mewakafkan sepersekian harinya
untuk menasehati perempuan yang cengeng ini. “kau hanya butuh bersabar, anggap
saja gajimu itu adalah pahala yang kau tabung. Orang-orang sukses tidak pernah
mendapatkan kesuksesan semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang
yang telah mereka lalui. Bersabarlah.”
Tak ada hal lain yang
mampu membuat seseorang jauh lebih baik selain sebuah nasehat tulus. Penawaran
solusi pasti akan semakin melengkapinya.
Ah, ada apa di sana nanti, Setelah kapal ini
berlabuh? Aku pasti akan tersenyum-senyum menyaksikan sesuatu yang telah tergantikan
itu. Ya, manusia sepenuhnya lemah. Tak memiliki daya, satu-satunya kekuatan
yang mampu membuat manusia tetap tegar, hanyalah kepercayaannya akan
kemampuannya juga kemampuan lain yang melingkupinya; Tuhannya.
Sirimau, 10 Maret 2014
Tulisan ini lahir saat warna langit benar-benar menyatu dengan warna lautan. Pekat. Sekiranya bukan nasehat, entah, apa lagi yang bisa menguatkan!
Saya mendedikasikan tulisan ini untuk seseorang, guru yang menuntun saya pelan-pelan.