Sedianya,
surat ini akan saya kirimkan pada seseorang yang tengah menempuh ujian hidup.
Saya menulis nasehat panjang kali lebar, luas sekali. Buah pikiran yang
sebenarnya telah lama mengendap dalam pikiran kerdil saya yang sok tahu. Tulisan itu bukan
hanya ingin menasehati, tapi juga ingin menegurnya.
Ujian.
Kapan
sebenarnya kita belajar?
Di
kehidupan nyata ini, malah terbalik 180ยบ dari sekolah. Jika di
sekolah kita akan menghadapi ujian setelah kita belajar, maka di kehidupan
nyata, kita diuji dulu barulah setelah itu kita belajar.
Siapa
yang sebenarnya ingin menegur siapa?
Saya
terlalu menghukumi seseorang hanya karena serentetan berita yang akhir-akhir
ini nongol di TV. Tentang dia yang tiba-tiba saja melepas hijabnya justru saat
ia menempuh ujian hidup, saat iman benar-benar diuji.
Tak
kurang dari 3 halaman, saya bercerocos,
menceramahi dia. Tapi surat itu sekali lagi tak ubahnya seperti seorang bayi mungil
yang lahir dengan BB tak ideal, dan harus diinkubasi agar setidaknya bisa
mempertahankan kenormalan tubuhnya. Surat itu saya peram, tak berani saya
kirimkan. Malam-malam yang saya lewati, sepersekian jam tersita hanya untuk
memikirkan surat tersebut.
Sepantas
apakah saya menasehatinya? Atau jangan-jangan surat itu sebenarnya jauh lebih
tepat jika saya mengirimkannya kepada diri saya, seorang saja?
Ah,
jika masih saja memikirkan siapa yang lebih pantas menerima surat itu, lalu
kapan kita bisa saling menasehati?
“Sungguh
manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk
kesabaran” (Qs Al-‘Asr: 2-3)
Maafkan
saya, saya hanya ingin menyampaikan pesan ini. Barangkali pesan ini pernah ada
dalam setiap memori kanak kita, hanya karena waktu telah merampas semua ingatan,
jadilah pesan itu hanya pesan-pesan tertinggal. Terlupakan.
Seandainya
bisa memilih, saya yakin, tak ada seorang pun bayi di bumi ini yang ingin
terlahir dari keluarga yang tidak sempurna, cacat, terlahir dari keluarga yang penuh dengan permusuhan.
Anak-anak hanyalah buah dari cinta yang sudah terlanjur matang. Mereka bahkan
tidak pernah tahu, apakah mereka akan lahir dengan disaksikan seorang ayah dan
ibu dengan ikatan pernikahan yang sah, atau malah terlahir dari seorang ayah
dan ibu yang belum pantas disebut sebagai orangtua lantaran bukan karena ikatan pernikahan yang sah?
Setiap
anak dilahirkan dengan kemampuan masing-masing. Orang tuanyalah yang membuat ia
bisa menjadi kuat, tegar, luar biasa, sekaligus merekalah yang bisa membuat
anak tersebut menjadi sosok yang sangat
menyeramkan. Maka, sepatutnyalah kita bertanya, sebenarnya, kapan anak-anak itu
mulai belajar?
Baiklah,
saya ingin mengemukakan mengapa saya acapkali sedih mendengar berita tentang
anak-anak yang tak sempurna. Tunggu! Tak ada manusia yang sempurna, yah,
memang. Tapi anak-anak adalah manusia yang masih suci. Maka saya menyebutnya
sempurna.
Anak-anak
adalah harapan bangsa, bagaimana nasib bangsa ke depan tergangtung sungguh
bagaimana anak-anak itu dididik. Dan saya sedih tatkala melihat perilaku buruk
anak-anak zaman sekarang.
Seandainya
di depan mata anda, tiba-tiba saja muncul seorang anak yang berkata kasar
kepada anda, mencuri milik anda, menyakiti anda, apa yang anda pikirkan?
Tidakkah
itu aneh? Sedang dalam pikiran kita mereka adalah manusia yang suci dan polos?
Jika
anak-anak adalah jiwa yang murni, mengapa seringkali kita melihat anak-anak
yang demikian? Salahkah mereka?
Anak-anak
adalah penjiplak paling andal. Ya, jika tidak dari orang tuanya, maka dari
lingkungannyalah mereka belajar. Jadi, apakah boleh saya mengatakan bahwa
perilaku buruk itu secara tidak langsung mereka jiplak hanya dari dua orang
saja. Pertama, orang tuanya. Kedua, orang dewasa di sekitarnya.
Yah,
hal ini seringkali tidak pernah kita sadari. Kita terlalu baik mengajari mereka
banyak hal tentang kebaikan. Tapi sayang sekali, kita lupa memberi mereka
contoh.
Pikiran
anak-anak sederhana sekali. Sesederhana mereka memainkan balok dan kubus kayu.
Mereka bukan seperti orang dewasa yang bisa membaca dan memahami teori
sekaligus macam-macam konsep. Tidak juga mampu berretorika. Anak-anak bukan
orang dewasa dalam ukuran mini, Mereka belajar dengan sangat praktis. Apa yang
yang mereka lihat, itulah yang mereka lakukan. Maka, saat ia menyaksikan orang
tuanya dan orang dewasa di sekelilingnya berbuat baik, saya dapat pastikan
anak-anak itu akan berbuat hal yang sama. Juga sebaliknya.
Sampai
di sini, saya ingin menggarisbawahi hal penting: beri anak-anak contoh yang
baik karena mereka akan menjiplak semua yang mereka dengar dan lihat.
Perihal
surat yang tak sampai itu, saya khusus menuliskan tentang betapa anak-anak yang
tak sempurna sebenarnya terlahir dari keluarga yang porak-poranda, atau jika
tidak, lingkungan telah membesarkannya. Anak-anak adalah anugerah sekaligus
ujian bagi orangtuanya.
Saya
teringat sebuah kisah yang sangat menyentuh dari negeri Barat. Seorang ayah
yang ingin dibayar oleh anaknya sendiri lantaran sang anak merasa ayahnya sama
sekali tak memiiki waktu luang untuk bermain bersamanya. Maka untuk
menggantikan jam kerja ayahnya di kantor, ia mencoba mengkalkulasi berapa harga
perjam yang harus dibayar oleh pihak kantor kepada sang ayah. Untuk memenuhi
sejumlah uang tersebut, anak itu lalu menabung uang jajannya. Hingga sampailah
waktu itu, di mana ayahnya terisak menyadari betapa ia telah melalaikan
kewajiban sebagai seorang ayah. Benar, kebutuhan materi sangat krusial. Tapi
ketenangan jiwa manusia tak pernah mampu dibeli dengan uang.
Lalu,
bagaimana jika keadaan lain pun terjadi? Orangtua bercerai.
Lihatlah apa yang akan terjadi dengan
anak-anak anda. Mungkin tak akan langsung sekejap mata terlihat perubahan yang
signifikan. Tapi sebagian besar kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan karena broken home. Maka benarlah: You can buy the house, not a home.
Jiwa
anak-anak mana yang tak pecah jika orangtua mereka bercerai? Tapi, barangkali
anak-anak pun tak akan pernah mampu memahami perasaan dan apa sebenarnya yang
sedang terjadi dengan orangtuanya. Ya, sungguh hal demikian adalah benar-benar
kompleks. Sebagian besar orangtua tetap mempertahankan rumahtangga mereka hanya
untuk menjaga jiwa anak-anaknya, dan sebagian lain memilih untuk benar-benar
berpisah. Tapi ketahuilah, saat rumah dalam keadaan porak-poranda, saat
anak-anak kehilangan perhatian, mereka akan mencari perhatian dari
lingkungannya.
Akhirnya,
saya sampai juga pada titik ini. Tentang perempuan dan anak-anak. Tentang
kekuatan perempuan juga betapa anak-anak membutuhkan sosok ibu sebagai panutan.
Saya tak pernah tahu berapa persisnya jumlah laki-laki yang mampu membesarkan
anak mereka sendirian. Tanpa sosok isteri. Tetapi, lihatlah, betapa banyak
perempuan yang mampu berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya Sendirian.
Ada semacam stigma yang telah melekat kuat pada pikiran saya. Dalam kondisi
tertentu, perempuan jauh lebih kuat dari laki-laki. Maaf, sama sekali tak ada
niatan saya untuk merendahkan laki-laki.
Saya
yakin, di setiap bilik dada perempuan terdapat kekuatan dahsyat yang akan
muncul pada waktu mereka tengah menempuh ujian. Yah, meskipun saya juga tidak
menafikan sebagian perempuan ada yang tidak mampu bertahan.
Saya
teringat pesan terakhir almarhum dr. Gauk, perempuan adalah investasi negara
selain anak-anak dan sumber daya alam.
Mengapa?
Ah,
pertanyaan yang konyol.
Mengapa
saya harus bertanya hal tersebut kepada anda? Tidakkah terlalu terlihat sok
pintar?
Baik,
disadari atau tidak, suka atau tidak, fitrah tiap-tiap perempuan adalah menjadi
guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Laki-laki
tidak akan pernah mampu untuk melahirkan, sampai kapan pun, secanggih apapun
dunia ini. Itu adalah sunnatullah. Maka, tugas itu diembankan kepada perempuan.
Struktur anatomi tubuh perempuan telah diciptakan sempurna oleh Tuhan, dan atas
kehendakNya dia bisa hamil sekaligus melahirkan. Secara normal bayi mendiami
rahim ibunya selama 37-42 minggu. Selama rentang waktu itu, sesunggunya bayi di dalam rahim
sudah mampu merasakan dunia sekitarnya. Maka ibunyalah yang paling pertama ia
rasakan. Bahkan detak jantung sang ibu.
Saat
bergaul dengan ibu-ibu hamil, seringkali saya dapati cerita-cerita aneh
sekaligus luar biasa. Semisal saat kakak kedua saya mengikuti sebuah seminar di
sebuah tempat. Saat itu beliau tengah hamil tua. entah dengan penjelasan yang
seperti apa agar dia mampu benar-benar meyakinkan saya bahwa bayi di dalam
rahimnya seolah-olah ikut menikmati suasana keramaian di sekitarnya. Bayi itu
bergerak-gerak terus.
Ibu
adalah sekolah bagi anak-anaknya. Maka, manusia-manusia hebat hanya akan terlahir
dari perempuan hebat.
Hee
Ah Lee. Dia adalah Pianis muda. Meski dengan tubuh yang cacat, dia sukses
tampil di gedung putih, Amerika. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu
bukanlah hal yang luar biasa. Tetapi, dengan keterbatasan fisiknya, bagi saya,
dia adalah anak yang luar biasa. Jemarinya tak lengkap. Hanya persis seperti
capit kepiting saja. Yah, jemari yang tak sempurna. Kakinya tak senormal
panjang kaki anak seusianya. Tapi dengan sangat telaten, ibunya terus menerus
mengajari anaknya. Tak peduli dengan ocehan orang-orang di sekitarnya yang
menganggap bahwa ia anak yang cacat. Kepercayaan penuh pada sang anak telah
membuat perempuan itu berusaha keras di atas rata-rata ibu lainnya. Ia rajin
sekali melatih jemari anaknya yang tak lengkap itu. Dan, Hee Ah Lee pun menjadi
pianis muda yang banyak menguasai musik klasik, memainkan piano dengan
jemarinya yang tak sempurna.
Sampailah
saya pada sebuah ujung. Surat ini sama sekali tak memberikan solusi apapun,
kecuali hanya ingin saling menasehati saja.
Kepada
perempuan, kaulah yang akan menjadi tulang punggung bagi lahirnya generasi
hebat. Tak peduli seberapa sering kau melakukan kesalahan dan acapkali tak menyadari
peran penting itu. Tak ada kata terlambat untuk terus belajar.
“Perempuan,
menjunjung separuh langit” (A. Azalea)
Bima, 3 Agustus 2014