Rabu, 13 Agustus 2014

Jalan Memutar

Fitrah tiap-tiap manusia adalah ingin menjadi orang baik-baik
Menujunya adalah proses perjalanan yang amat panjang
Selama perjalanan itu, banyak yang memilih jalan yang lurus,
namun tak sedikit pula yang memilih jalan memutar

Pada pilihan itulah....
Pada saat proses itulah...
Acapkali belum sampai di ujung pengembaraan
Malaikat lebih dulu me-list daftar tunggu
Bahkan semenit sebelum sampai pada gerbang kebaikan
Nama -nama telah dijatuhi tanggal kematian

Atau...
Sebelum sampai pada gerbang kebaikan
banyak sekali ujian demi ujian yang harus dituntaskan
Saat belum lulus dengan hasil yang memuaskan
Ujian tersebut kerapkali terulang...
Terulang....terulang....
Hingga kita benar-benar sadar, kebaikan tinggal sedepa lagi

Teruslah berproses
Sebab kita sama sekali tak pernah tahu kapan pastinya dijatuhi tanggal kematian
Tak mengapa jika masih belepotan
Tak soal jika belum sempurna,
yang jelas....
Tak ada satu pun manusia yang selamanya menginginkan keburukan...

Dengan seluruh dada yang gemuruh, Bima 13 Agustus 2014

Tulisan ini, saya dedikasikan untuk adik tercinta
Berjuanglah, dek!
kamu bisa melewatinya


Jumat, 08 Agustus 2014

-Kembali-

dan....
laron beterbangan saling mengitari cahaya-cahaya
lalu ketika lelah
dibiarkan sayapnya rebah
kita hanya seperti itu saja
menerbangkan segala kekuatan semampu ikhtiar
hingga benar-benar penat
kemudian...
kita akhirnya jatuh
kembali ke tanah

(Fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallahi innallaha yuhibbul mutawakkilin)
Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya
(Ali-'Imran; 159) 

8 Agustus 2014 

Minggu, 03 Agustus 2014

A Letter to Woman



Sedianya, surat ini akan saya kirimkan pada seseorang yang tengah menempuh ujian hidup. Saya menulis nasehat panjang kali lebar, luas sekali. Buah pikiran yang sebenarnya telah lama mengendap dalam pikiran kerdil saya yang sok tahu. Tulisan itu bukan hanya ingin menasehati, tapi juga ingin menegurnya. 

Ujian.

Kapan sebenarnya kita belajar?

Di kehidupan nyata ini, malah terbalik 180ยบ dari sekolah. Jika di sekolah kita akan menghadapi ujian setelah kita belajar, maka di kehidupan nyata, kita diuji dulu barulah setelah itu kita belajar.
Siapa yang sebenarnya ingin menegur siapa?

Saya terlalu menghukumi seseorang hanya karena serentetan berita yang akhir-akhir ini nongol di TV. Tentang dia yang tiba-tiba saja melepas hijabnya justru saat ia menempuh ujian hidup, saat iman benar-benar diuji.
Tak kurang dari 3 halaman, saya bercerocos, menceramahi dia. Tapi surat itu sekali lagi tak ubahnya seperti seorang bayi mungil yang lahir dengan BB tak ideal, dan harus diinkubasi agar setidaknya bisa mempertahankan kenormalan tubuhnya. Surat itu saya peram, tak berani saya kirimkan. Malam-malam yang saya lewati, sepersekian jam tersita hanya untuk memikirkan surat tersebut.

Sepantas apakah saya menasehatinya? Atau jangan-jangan surat itu sebenarnya jauh lebih tepat jika saya mengirimkannya kepada diri saya, seorang saja?

Ah, jika masih saja memikirkan siapa yang lebih pantas menerima surat itu, lalu kapan kita bisa saling menasehati?
“Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (Qs Al-‘Asr: 2-3)

Maafkan saya, saya hanya ingin menyampaikan pesan ini. Barangkali pesan ini pernah ada dalam setiap memori kanak kita, hanya karena waktu telah merampas semua ingatan, jadilah pesan itu hanya pesan-pesan tertinggal. Terlupakan.

Seandainya bisa memilih, saya yakin, tak ada seorang pun bayi di bumi ini yang ingin terlahir dari keluarga yang tidak sempurna, cacat, terlahir dari  keluarga yang penuh dengan permusuhan. Anak-anak hanyalah buah dari cinta yang sudah terlanjur matang. Mereka bahkan tidak pernah tahu, apakah mereka akan lahir dengan disaksikan seorang ayah dan ibu dengan ikatan pernikahan yang sah, atau malah terlahir dari seorang ayah dan ibu yang belum pantas disebut sebagai orangtua lantaran bukan karena  ikatan pernikahan yang sah?

Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan masing-masing. Orang tuanyalah yang membuat ia bisa menjadi kuat, tegar, luar biasa, sekaligus merekalah yang bisa membuat anak tersebut  menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Maka, sepatutnyalah kita bertanya, sebenarnya, kapan anak-anak itu mulai belajar?

Baiklah, saya ingin mengemukakan mengapa saya acapkali sedih mendengar berita tentang anak-anak yang tak sempurna. Tunggu! Tak ada manusia yang sempurna, yah, memang. Tapi anak-anak adalah manusia yang masih suci. Maka saya menyebutnya sempurna. 

Anak-anak adalah harapan bangsa, bagaimana nasib bangsa ke depan tergangtung sungguh bagaimana anak-anak itu dididik. Dan saya sedih tatkala melihat perilaku buruk anak-anak zaman sekarang.
Seandainya di depan mata anda, tiba-tiba saja muncul seorang anak yang berkata kasar kepada anda, mencuri milik anda, menyakiti anda, apa yang anda pikirkan?
Tidakkah itu aneh? Sedang dalam pikiran kita mereka adalah manusia yang suci dan polos?

Jika anak-anak adalah jiwa yang murni, mengapa seringkali kita melihat anak-anak yang demikian? Salahkah mereka? 

Anak-anak adalah penjiplak paling andal. Ya, jika tidak dari orang tuanya, maka dari lingkungannyalah mereka belajar. Jadi, apakah boleh saya mengatakan bahwa perilaku buruk itu secara tidak langsung mereka jiplak hanya dari dua orang saja. Pertama, orang tuanya. Kedua, orang dewasa di sekitarnya. 

Yah, hal ini seringkali tidak pernah kita sadari. Kita terlalu baik mengajari mereka banyak hal tentang kebaikan. Tapi sayang sekali, kita lupa memberi mereka contoh.
Pikiran anak-anak sederhana sekali. Sesederhana mereka memainkan balok dan kubus kayu. Mereka bukan seperti orang dewasa yang bisa membaca dan memahami teori sekaligus macam-macam konsep. Tidak juga mampu berretorika. Anak-anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini, Mereka belajar dengan sangat praktis. Apa yang yang mereka lihat, itulah yang mereka lakukan. Maka, saat ia menyaksikan orang tuanya dan orang dewasa di sekelilingnya berbuat baik, saya dapat pastikan anak-anak itu akan berbuat hal yang sama. Juga sebaliknya.

Sampai di sini, saya ingin menggarisbawahi hal penting: beri anak-anak contoh yang baik karena mereka akan menjiplak semua yang mereka dengar dan lihat.

Perihal surat yang tak sampai itu, saya khusus menuliskan tentang betapa anak-anak yang tak sempurna sebenarnya terlahir dari keluarga yang porak-poranda, atau jika tidak, lingkungan telah membesarkannya. Anak-anak adalah anugerah sekaligus ujian bagi orangtuanya.

Saya teringat sebuah kisah yang sangat menyentuh dari negeri Barat. Seorang ayah yang ingin dibayar oleh anaknya sendiri lantaran sang anak merasa ayahnya sama sekali tak memiiki waktu luang untuk bermain bersamanya. Maka untuk menggantikan jam kerja ayahnya di kantor, ia mencoba mengkalkulasi berapa harga perjam yang harus dibayar oleh pihak kantor kepada sang ayah. Untuk memenuhi sejumlah uang tersebut, anak itu lalu menabung uang jajannya. Hingga sampailah waktu itu, di mana ayahnya terisak menyadari betapa ia telah melalaikan kewajiban sebagai seorang ayah. Benar, kebutuhan materi sangat krusial. Tapi ketenangan jiwa manusia tak pernah mampu dibeli dengan uang.

Lalu, bagaimana jika keadaan lain pun terjadi? Orangtua bercerai.
Lihatlah apa yang akan terjadi dengan anak-anak anda. Mungkin tak akan langsung sekejap mata terlihat perubahan yang signifikan. Tapi sebagian besar kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan karena broken home. Maka benarlah: You can buy the house, not a home.

Jiwa anak-anak mana yang tak pecah jika orangtua mereka bercerai? Tapi, barangkali anak-anak pun tak akan pernah mampu memahami perasaan dan apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan orangtuanya. Ya, sungguh hal demikian adalah benar-benar kompleks. Sebagian besar orangtua tetap mempertahankan rumahtangga mereka hanya untuk menjaga jiwa anak-anaknya, dan sebagian lain memilih untuk benar-benar berpisah. Tapi ketahuilah, saat rumah dalam keadaan porak-poranda, saat anak-anak kehilangan perhatian, mereka akan mencari perhatian dari lingkungannya.

Akhirnya, saya sampai juga pada titik ini. Tentang perempuan dan anak-anak. Tentang kekuatan perempuan juga betapa anak-anak membutuhkan sosok ibu sebagai panutan. Saya tak pernah tahu berapa persisnya jumlah laki-laki yang mampu membesarkan anak mereka sendirian. Tanpa sosok isteri. Tetapi, lihatlah, betapa banyak perempuan yang mampu berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya Sendirian. Ada semacam stigma yang telah melekat kuat pada pikiran saya. Dalam kondisi tertentu, perempuan jauh lebih kuat dari laki-laki. Maaf, sama sekali tak ada niatan saya untuk merendahkan laki-laki.

Saya yakin, di setiap bilik dada perempuan terdapat kekuatan dahsyat yang akan muncul pada waktu mereka tengah menempuh ujian. Yah, meskipun saya juga tidak menafikan sebagian perempuan ada yang tidak mampu bertahan.

Saya teringat pesan terakhir almarhum dr. Gauk, perempuan adalah investasi negara selain anak-anak dan sumber daya alam.
Mengapa?
Ah, pertanyaan yang konyol.
Mengapa saya harus bertanya hal tersebut kepada anda? Tidakkah terlalu terlihat sok pintar?
Baik, disadari atau tidak, suka atau tidak, fitrah tiap-tiap perempuan adalah menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Laki-laki tidak akan pernah mampu untuk melahirkan, sampai kapan pun, secanggih apapun dunia ini. Itu adalah sunnatullah. Maka, tugas itu diembankan kepada perempuan. Struktur anatomi tubuh perempuan telah diciptakan sempurna oleh Tuhan, dan atas kehendakNya dia bisa hamil sekaligus melahirkan. Secara normal bayi mendiami rahim ibunya selama 37-42 minggu. Selama rentang  waktu itu, sesunggunya bayi di dalam rahim sudah mampu merasakan dunia sekitarnya. Maka ibunyalah yang paling pertama ia rasakan. Bahkan detak jantung sang ibu. 

Saat bergaul dengan ibu-ibu hamil, seringkali saya dapati cerita-cerita aneh sekaligus luar biasa. Semisal saat kakak kedua saya mengikuti sebuah seminar di sebuah tempat. Saat itu beliau tengah hamil tua. entah dengan penjelasan yang seperti apa agar dia mampu benar-benar meyakinkan saya bahwa bayi di dalam rahimnya seolah-olah ikut menikmati suasana keramaian di sekitarnya. Bayi itu bergerak-gerak terus.

Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Maka, manusia-manusia hebat hanya akan terlahir dari perempuan hebat. 

Hee Ah Lee. Dia adalah Pianis muda. Meski dengan tubuh yang cacat, dia sukses tampil di gedung putih, Amerika. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa itu bukanlah hal yang luar biasa. Tetapi, dengan keterbatasan fisiknya, bagi saya, dia adalah anak yang luar biasa. Jemarinya tak lengkap. Hanya persis seperti capit kepiting saja. Yah, jemari yang tak sempurna. Kakinya tak senormal panjang kaki anak seusianya. Tapi dengan sangat telaten, ibunya terus menerus mengajari anaknya. Tak peduli dengan ocehan orang-orang di sekitarnya yang menganggap bahwa ia anak yang cacat. Kepercayaan penuh pada sang anak telah membuat perempuan itu berusaha keras di atas rata-rata ibu lainnya. Ia rajin sekali melatih jemari anaknya yang tak lengkap itu. Dan, Hee Ah Lee pun menjadi pianis muda yang banyak menguasai musik klasik, memainkan piano dengan jemarinya yang tak sempurna.

Sampailah saya pada sebuah ujung. Surat ini sama sekali tak memberikan solusi apapun, kecuali hanya ingin saling menasehati saja. 

Kepada perempuan, kaulah yang akan menjadi tulang punggung bagi lahirnya generasi hebat. Tak peduli seberapa sering kau melakukan kesalahan dan acapkali tak menyadari peran penting itu. Tak ada kata terlambat untuk terus belajar. 

“Perempuan, menjunjung separuh langit” (A. Azalea)

Bima, 3 Agustus 2014