Hal
yang paling lucu adalah ketika saya menangis tersedu-sedu karena tak jadi
menikah dengan seseorang sebelum saya bertemu dengan kekasih saya kini. Apa hak
saya menangisinya begitu rupa? Tak ada. Kecuali kebodohan saya. Kebodohan akan
pengenalan “takdir” Allah. Seseorang tak akan pernah menikah dengan yang bukan
jodohnya. Manusia dilahirkan dengan segala takdir yang telah menempel pada
kromosom-kromosomnya, terendap pada gen-genya. Jadi, apa yang bukan takdir
kita, takakan pernah dimudahkan untuk kita. Percayalah.
Penolakan
pada hal yang diinginkan memang kerap kali kita artikan sebagai sebuah
kegagalan. Padahal tak selamanya demikian. Jodoh misalnya. Pacaran bertahun-tahun, dan pada
akhirnya menikah juga dengan orang lain. Lalu apa yang salah? Bukankah berpacaran
juga sering kita anggap sebagai langkah awal untuk pengenalan kepada pasangan
yang terlanjur kita aggap sebagai jodoh kita? Mungkin benar, tapi menghabiskan
waktu bertahun-tahun untuk berpacaran dan menikung dengan ketentuan Allah,
itulah letak kesalahannya.
Sepenuh cinta, saya dedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang dengan teguh bertahan untuk tidak memulai hal baik dengan sesuatu yang buruk
Bima, Januari 2015