Rabu, 28 Januari 2015

Sebelum Waktu Itu Tiba...

Hal yang paling lucu adalah ketika saya menangis tersedu-sedu karena tak jadi menikah dengan seseorang sebelum saya bertemu dengan kekasih saya kini. Apa hak saya menangisinya begitu rupa? Tak ada. Kecuali kebodohan saya. Kebodohan akan pengenalan “takdir” Allah. Seseorang tak akan pernah menikah dengan yang bukan jodohnya. Manusia dilahirkan dengan segala takdir yang telah menempel pada kromosom-kromosomnya, terendap pada gen-genya. Jadi, apa yang bukan takdir kita, takakan pernah dimudahkan untuk kita. Percayalah.

Penolakan pada hal yang diinginkan memang kerap kali kita artikan sebagai sebuah kegagalan. Padahal tak selamanya demikian. Jodoh  misalnya. Pacaran bertahun-tahun, dan pada akhirnya menikah juga dengan orang lain. Lalu apa yang salah? Bukankah berpacaran juga sering kita anggap sebagai langkah awal untuk pengenalan kepada pasangan yang terlanjur kita aggap sebagai jodoh kita? Mungkin benar, tapi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berpacaran dan menikung dengan ketentuan Allah, itulah letak kesalahannya.

Sepenuh cinta, saya dedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang dengan teguh bertahan untuk tidak memulai hal baik dengan sesuatu yang buruk


Bima, Januari 2015