Sabtu, 15 Juli 2023

Butterfly Hug (sebuah resensi)

Butterfly hug adalah sebuah buku tentang perjalanan panjang dari seorang penyintas gangguan mental menuju kesembuhan. Buku setebal 136 halaman itu ditulis oleh Tenni Purwanti, seorang jurnalis di Narasi.

Dimulai dengan prolog yang menggambarkan beberapa ciri gangguan yang dialaminya, dimulai dengan rasa takut yang menyebabkan jantung berdetak cepat, napas terasa sesak, tangan keram dan gemetar. Awalnya, Tenni tidak mengetahui bahwa ciri di atas adalah tanda bahwa dia menderita gangguan mental. 

Serangan pertama dialaminya di tahun 2017 saat ia diminta untuk meliput kegiatan yang diadakan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Kegiatan itu tentu saja membahas bagaimana memberikan pertolongan pada penderita serangan jantung. Entah mengapa tiba-tiba saja Tenni merasa dia akan menderita serangan jantung, perasaan itu kian menguat membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Lalu dia menenangkan dirinya dengan berjalan di toilet lalu melepas sepatu dan blazer kemudian perlahan jantungnya berdetak perlahan dan normal. Dilain hari, keluarganya sering merasa Tenni gadis yang aneh karena jika sedang membersihkan buah, maka dia akan membersihkannya hingga bersih sekali. Keanehan itupun kadang dirasakannya sendiri ketika dia membereskan kamar indekosnya yang sampai tak meninggalkan hal sekecil-kecilnya.

Serangan kedua dan ketiga Tenni masih belum juga mengetahui bahwa dia butuh bantuan pengobatan seorang ahli jiwa, sampai diserangan ketiga itu Tenni benar-benar takut bahwa dirinya akan menderita serangan jantung, stroke dan mati. kepercayaan bahwa dirinya akan stroke dan mati inilah yang membawanya mencari Rumah Sakit untuk mendapatkan bantuan, namun setelah disana dan menceritakan semua yang terjadi, seorang dokter justru  menyarankannya untuk menemui psikiater.

Dari situlah perjalanan panjang semuanya bermula. Setelah menemui seorang psikiater, Tenni didiagnosis menderita OCD (Obsesive Compulsive Disorder). Dia mendapatkan beberapa jenis obat, salah satunya Alprazolam, sebuah obat penenang golongan Benzodiazepine dimana penggunaan obat ini dalam jangka panjang menyebabkan ketergantungan dan memiliki  efek putus obat atau withdrawal syndrome. Meski sekali konsultasi ditambah obat membutuhkan biaya yang cukup mahal, Tenni masih menjalaninya. Hingga suatu ketika Tenni mengikuti acara talkshow tentang kesehatan mental dimana salah satu narasumbernya adalah seorang psikolog yang kelak menjadi langganan Tenni untuk berkonsultasi dan hanya sesekali menggunakan jasa psikiater karena dirinya merasa lebih cocok berkonsultasi dengan psikolog daripada psikiater sebelumnya.

Setelah mengecek data tentang psikolog, Tenni akhirnya mulai mendatanginya dan melakukan sesi konsultasi. Dari konsultasi inilah dia didiagnosis menderita gangguan kecemasan (Anxiety Disorder). Betapa jauhnya diagnosis antara psikiater dan psikolog, jadi jangan coba-coba self diagnose tentang apa yang terjadi di tubuh kita sebelum menemui ahlinya!

Konsultasi itu membuat Tenni perlahan-lahan mulai menemui titik terang sakitnya, apa penyebabnya, mengapa dia bisa begitu, dan apa yang harus dia lakukan agar bisa hidup normal selayaknya orang lain.

Sesi konsultasi tersebut dimulai dengan tahapan, pertama menjalin rapport_sesi perkenalan,trusting, juga membuat kesepakatan dengan psikolog_ Selain itu di tahap ini psikolag menanyakan harapan Tenni dari dari konsultasi tersebut. Kedua, menggali masalah. Dari sesi inilah akhirnya dia mengetahui bahwa gangguan kecemasan yang dia alami bersumber dari masa lalu juga ketakutan akan masa depan. Maka psikolog memberi latihan "berada disini saat ini" dengan teknik grounding. Teknik pertama yang diajarkan psikolog adalah teknik 54321, setiap kali cemas datang temukan lima hal yang bisa dilihat, empat hal yang bisa didengar, tiga hal yang bisa disentuh, dua hal yang bisa dicium, dan satu hal yang bisa dicecap. Selain itu diajarkan juga untuk menyatu dengan alam , misalnya menginjak tanah dan rumput, mencium aroma bunga, bahkan disarankan untuk memeliharan hewan atau merawat tanaman agar setiap hari bisa fokus dengan perkembangannya. Ketiga, menggali upaya apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Keempat, penyelesaian terapi ataupun penambahan teknik yang diperlukan untuk mengatasi emosi. Kelima, penutup, penyimpulan sesi konsultasi.

Butterfly hug adalah teknik tambahan yang diajarkan psikolog. Teknik ini dengan menyilangkan kedua tangan di dada dan meletakkan telapak tangan di tulang leher, lalu tepuk-tepuk telapak tangan perlahan seperti kepakan sayap kupu-kupu, tarik napas dalam lalu embuskan. Teknik grounding ataupun buterfly hug adalah teknik untuk stabilisasi emosi dari panik ke tenang yang bisa dilakukan secara mandiri saat cemas datang.

Selain teknik regulasi emosi diatas,Tenni juga diajarkan untuk journaling, yakni kegiatan menulis apapun yang terjadi pada diri kita,mirip diarylah.

Buku Butterfly hug sesungguhnya satu dari banyak hal yang sedang digalakkan sekarang: bagaimana agar masyarakat paham bahwa gangguan mental bisa menimpa siapapun dan penyintasnya tidak seharusnya dikucilkan. Mereka membutuhkan pertolongan.


_Emy Gufarni_

Bima, 15 Juli 2023



Senin, 03 Juli 2023

Dengarkan Doktermu! (part 2)

 Beberapa saat setelah melahirkan, saya istirahat. Ditemani oleh suami juga ipar, kami bermalam di rumah sakit. Paginya, saya dipindahkan ke ruang nifas, disana keadaan saya pasca melahirkan dipantau oleh bidan. Tapi aneh, hingga pagi itu, saya belum juga bisa menyusui bayi saya, hingga siang. Karena rumah sakit memberlakukan satu hari perawatan bagi ibu bersalin normal tanpa komplikasi dan keluhan, saya diizinkan pulang. Bayi saya belum dibawa juga oleh bidan. Ternyata, setelah mendapatkan informasi dari salah satu kerabat yang datang menjenguk saya dan sang bayi, barulah saya mengetahui bahwa malam itu bayi saya langsung dilarikan ke NICU (neonatal intensive care unit) karena tidak langsung bernapas ketika dilahirkan. Saya terdiam agak lama, ada kebimbangan ketika saya justru dibolehkan pulang. Bagaimana nanti bayi saya mendapatkan ASI? 

Atas kehendak Allah seluruh kejadian dalam kehidupan saya bergulir bergantian hadir. Termasuk merelakan bayi mungil itu dirawat di NICU sementara saya harus pulang memulihkan keadaan saya di rumah. Baiklah, saya berusaha berdamai dengan seluruh pergumulan batin. Berhari-hari Hanina dirawat. Suatu malam, suami yang sedang mengantar mama kembali ke rumah menelepon saya "dik, tolong ke rumah sakit sekarang" jantung saya berdegup kencang. Ada apa?

Bersama ipar, kami mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit. Nyeri luka episiotomi dengan belasan jahitan membuat saya kurang nyaman duduk di atas motor, tapi demi Hanina, saya harus kuat. Setiba di RS, saya langsung menuju ruang NICU. Saya meminta izin kepada perawat jaga agar saya masuk ke dalam ruangan. 

Bayi itu tergeletak dibawah mesin penghangat, tanpa baju, hanya menggunakan popok. Tuhan, lucu sekali bayi ini. Badannya sedikit gembul. Tapi di hudungnya terpasang sungkup pernapasan, lalu dari dalam mulutnya keluar selang yang langsung masuk ke dalam lambungnya. Bayi itu kejang. "Ibu, maaf bayinya sedang kurang baik." "oh, iya bu bidan," "ibu jangan jauh dari rumah sakit ya,supaya kami bisa menghubungi lagi jika ada apa-apa." Badan saya kaku. Seketika suara tangis meledak keluar dari mulut, padahal sedari tadi berusaha saya tahan agar jangan keluar, takut mengganggu bayi-bayi lain yang sedang tertidur pulas di box masing-masing. Saya menangis melihat Hanina kejang, ia tak bisa mengeluh atau menyampaikan apapun kepada saya perihal keadaannya. Sebisa mungkin saya pegang tangan mungilnya, "sayang ini bunda, Hanina yang kuat ya." Sementara itu, ipar saya diminta oleh bidan yang lain untuk mengambil obat anti kejang di apotek. Malam itu, stok obat anti kejang sisa satu ampul. "mbak, stok obat sisa ini ya, tolong dijaga baik-baik agar tidak jatuh." Dengan sangat hati-hati ia berjalan menyusuri selasar menuju NICU, membawa seampul obat terakhir.

Saya meninggalkan ruang NICU dengan lemas. Seketika pikiran-pikiran buruk menggelayut di kepala. Hanina sudah dipindahkan di ruang pemantauan. Bidan jaga menyampaikan bahwa bayi itu sudah diberi obat anti kejang.

Suami memaksa saya pulang ke rumah, saya masih ingin di RS. "Ayolah, kamu harus menjaga kondisimu, jangan sampai drop" "Biar kakak yang jaga Hanina disini." Saya terus diam, masih ingin di RS. "Nanti jika ada apa-apa, kakak pasti hubungi."

Saya mengalah. Kondisi saya pasca melahirkan memang membutuhkan istirahat, terlebih luka jahitan yang masih sakit dan basah membuat gerak benar-benar kurang nyaman. Saya kembali ke rumah bersama ipar yang masih terus menemani saya.