Beberapa saat setelah melahirkan, saya istirahat. Ditemani oleh suami juga ipar, kami bermalam di rumah sakit. Paginya, saya dipindahkan ke ruang nifas, disana keadaan saya pasca melahirkan dipantau oleh bidan. Tapi aneh, hingga pagi itu, saya belum juga bisa menyusui bayi saya, hingga siang. Karena rumah sakit memberlakukan satu hari perawatan bagi ibu bersalin normal tanpa komplikasi dan keluhan, saya diizinkan pulang. Bayi saya belum dibawa juga oleh bidan. Ternyata, setelah mendapatkan informasi dari salah satu kerabat yang datang menjenguk saya dan sang bayi, barulah saya mengetahui bahwa malam itu bayi saya langsung dilarikan ke NICU (neonatal intensive care unit) karena tidak langsung bernapas ketika dilahirkan. Saya terdiam agak lama, ada kebimbangan ketika saya justru dibolehkan pulang. Bagaimana nanti bayi saya mendapatkan ASI?
Atas kehendak Allah seluruh kejadian dalam kehidupan saya bergulir bergantian hadir. Termasuk merelakan bayi mungil itu dirawat di NICU sementara saya harus pulang memulihkan keadaan saya di rumah. Baiklah, saya berusaha berdamai dengan seluruh pergumulan batin. Berhari-hari Hanina dirawat. Suatu malam, suami yang sedang mengantar mama kembali ke rumah menelepon saya "dik, tolong ke rumah sakit sekarang" jantung saya berdegup kencang. Ada apa?
Bersama ipar, kami mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit. Nyeri luka episiotomi dengan belasan jahitan membuat saya kurang nyaman duduk di atas motor, tapi demi Hanina, saya harus kuat. Setiba di RS, saya langsung menuju ruang NICU. Saya meminta izin kepada perawat jaga agar saya masuk ke dalam ruangan.
Bayi itu tergeletak dibawah mesin penghangat, tanpa baju, hanya menggunakan popok. Tuhan, lucu sekali bayi ini. Badannya sedikit gembul. Tapi di hudungnya terpasang sungkup pernapasan, lalu dari dalam mulutnya keluar selang yang langsung masuk ke dalam lambungnya. Bayi itu kejang. "Ibu, maaf bayinya sedang kurang baik." "oh, iya bu bidan," "ibu jangan jauh dari rumah sakit ya,supaya kami bisa menghubungi lagi jika ada apa-apa." Badan saya kaku. Seketika suara tangis meledak keluar dari mulut, padahal sedari tadi berusaha saya tahan agar jangan keluar, takut mengganggu bayi-bayi lain yang sedang tertidur pulas di box masing-masing. Saya menangis melihat Hanina kejang, ia tak bisa mengeluh atau menyampaikan apapun kepada saya perihal keadaannya. Sebisa mungkin saya pegang tangan mungilnya, "sayang ini bunda, Hanina yang kuat ya." Sementara itu, ipar saya diminta oleh bidan yang lain untuk mengambil obat anti kejang di apotek. Malam itu, stok obat anti kejang sisa satu ampul. "mbak, stok obat sisa ini ya, tolong dijaga baik-baik agar tidak jatuh." Dengan sangat hati-hati ia berjalan menyusuri selasar menuju NICU, membawa seampul obat terakhir.
Saya meninggalkan ruang NICU dengan lemas. Seketika pikiran-pikiran buruk menggelayut di kepala. Hanina sudah dipindahkan di ruang pemantauan. Bidan jaga menyampaikan bahwa bayi itu sudah diberi obat anti kejang.
Suami memaksa saya pulang ke rumah, saya masih ingin di RS. "Ayolah, kamu harus menjaga kondisimu, jangan sampai drop" "Biar kakak yang jaga Hanina disini." Saya terus diam, masih ingin di RS. "Nanti jika ada apa-apa, kakak pasti hubungi."
Saya mengalah. Kondisi saya pasca melahirkan memang membutuhkan istirahat, terlebih luka jahitan yang masih sakit dan basah membuat gerak benar-benar kurang nyaman. Saya kembali ke rumah bersama ipar yang masih terus menemani saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar