Hujan masih menemani Makassar yang mulai terlelap. Dingin…
Malam- malam kehujanan. Baru merasai bahwa hujan sangat
dingin, menggigit tulangku yang gemeretak tremor. Ah…jika bukan karena dirimu,
aku takkan membiarkan diriku kebasahan malam-malam.
Aku cinta kamu.
Tapi tak mampu ku definisikan. Cukuplah senyum ketika
perlahan ku tatap wajah yang mulai menggurat tua.
Aku sangat rela siang tadi beradu dengan klakson angkot,
mengejar suara yang hilang timbul tertelan udara…dan itu untuk dirimu. Meski
perutku bahkan sangat susah diajak kompromi.
Ku langkahkan kaki, berjengkal-jengkal…seperti malam ini,
menembus rinai hujan. Ah…betapa hidup terkadang perih, dan aku baru
menyadarinya sekarang.
Apakah aku terlalu bodoh untuk merasai?
Dirimu datang hanya sendiri, berdua dengan bayanganmu.
Kutatap dirimu lesu, senyum kecut itu jelas memeluk bayanganku yang terkapar
kedinginan. Sekali lagi, aku mungkin sangat bodoh untuk merasai…
ku dapati bayangannku sekarang dingin, lelah…bayanganku
lelah menemaniku…
Ah…tak usah khawatir.
Bukankah aku telah terbiasa demikian?
Aku gadis kecilmu….
Biar kelak jika aku telah tua, maka akan aku ceritakan pada
alam bahwa hujan pernah membuatku
dewasa…
Makassar, 2 Mei 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar