Saya yakin kamu pasti tahu arti
dari kata “Goda”, jika ditambahkan dengan imbuhan me-, maka kata itu akan
menjadi “menggoda”, yang berarti membuat sesuatu tertarik. Tertarik pada siapa?
Yah, tertarik pada yang menggodalah…hehe
Suri adalah teman
saya semasa di kampus lama, Nani Hasanuddin, yang juga memutuskan untuk beralih
tempat profesi ke institusi lain.
Jika dideskripsikan,
wajahnya tergolong sosok yang manis jika ditatap lama-lam tanpa mengedipkan
mata. Hey….ini benar kawan, kamu bisa membuktikannya sendiri. Tataplah semua
teman-teman kamu satu persatu, dengan meniadakan “cantik-tidak cantik”, fakta
yang saya temukan adalah…di dunia ini, tidak ada makhluk Allah yang jelek, yang
ada adalah….anda kurang lihai menatap sisi manis mereka yang tertimbun sisi
jeleknya (menurut anda itu jelek).
Suri juga Saya,
adalah mahasiswa kebanyakan, juga orang Indonesia kebanyakan, yang membedakan
dia dengan saya adalah kadar adrenalinnya yang terlampau tinggi ketika
dirangsang dengan hal-hal yang mengejutkan. Seperti siang tadi, ceritanya
kami berdua janjian dengan pembimbing lahan di salah satu rumah sakit di Gowa.
Dalam keadaan normal alias tanpa macet dan durasi pemberhentian “cari penumpang
“ dengan lama rata-rata (mungkin sekitar 5 menit, itu yang saya lakukan,
menghitung waktu ketika menunggu penumpang lain), jarak gowa-Makassar dapat
dicapai hanya dengan 45 menit perjalanan saja. Maka akan jauh lebih cepat lagi
jika menggunakan sepeda motor. Tapi yang sering saya alami adalah berbeda dari
itu, kadang perjalanan bertambah menjadi hampir 2 jam. Itu waktu yang cukup
lama ketika kita menggunakan pete-pete alias angkot. Dan yang lebih parah
adalah…para sopir yang budiman ini tidak akan pernah mau menjalankan sang
pete-pete jika penumpangnya tidak full. Akhirnya menyiasati keterlambatan saya,
saya nebeng naik motornya Suri.
Bukan sekali atau
dua kali ini saja saya bersama suri ke Gowa, tapi sudah sangat sering. Ketika
dinas di Gowa bulan kemarin, hampir tiap minggu kami pulang ke Makassar
dengan motor. Dan hal yang saya alami, selalu sama: menutup mata rapat-rapat
sambil merapal do’a dan istigfar sebanyak yang saya sanggup, sepanjang
perjalanan. Alasannya adalah, Suri ternyata suka menggoda marabahaya, inilah
yang saya sebut sebagai kadar adrenalin yang terlampau tinggi. Beberapa
kali hampir keserempet mobil lantaran dia tidak sabaran menunggu jatah
mengemudi ketika berada tepat di belakang truk-truk besar. Oh ya, kawan…kami
selalu memotong kompas ketika ke Gowa, memilih jalanan yang lebih dekat. selain
menghindari razia Polisi (hmmmmmm), waktu tempuhnya juga lumayan lebih singkat.
Jalanan yang saya maksud adalah Antang. Yang di Makassar pasti tau.
Yang membuat saya
tidak nyaman ketika melewati jalanan ini adalah truk-truk besar yang
hampir tidak pernah alpa memadati jalanan Antang dan lobang-lobang yang
menganga hampir sepanjang perjalanan, apalagi perbatasan Antang-Gowa. Bisakah kamu
membayangkan ketika mengendarai motor diantara truk-truk besar? hey…itu
perjalan yang membosankan tapi mengejutkan sekaligus membahayakan.
Suri tidak pernah
mau kalah dengan truk, kali ini tidak seperti hari-hari kemarin yang hanya
merapatkan badan motor dekat truk dengan tujuan agar bisa berjalan
bersamaan dengan truk-truk besar itu, kali ini dia berjalan di tengah-tengah
jalur yang berlawanan arah. Ketika mobil lain datang dari arah yang berlawanan,
dia menarik gas kencang-kencang untuk mengambil celah dimana jarak antara truk
dari arah yang sama dengan motor kami hanya sekitar 2 meter dari jarak mobil
yang datang dari arah yang berlawanan dengan truk, dan dengan sangat pede, dia
“selap-selip”. Tinggalah saya yang diboncengnya menutup mata, menarik nafas
dalam-dalam kemudian menahannya, dan menundukkan kepala berlindung dari
angkuh helm yang digunakannya.
Dan selalu seperti
itu. Celakanya adalah….jalanan yang berbatu-batu sekaligus lobang yang menganga
itu harus takluk dengan tancapan gas yang ditarik pengemudinya ini. Kawan….akan
aku katakan rahasia agar tidak terlalu berani seperti Suri “nyawamu Cuma
satu,tidak ada cadangan nyawa” jadi segera tepiskan keinginan jika kamu sedang
bergumam ”aku juga bisa kok em….”
Makassar, 25 Mei 2013
VALENTINA RASSI
BalasHapus