Selasa, 28 Mei 2013

Sang Penggoda Marabahaya

               Saya yakin kamu pasti tahu arti dari kata “Goda”, jika ditambahkan dengan imbuhan me-, maka kata itu akan menjadi “menggoda”, yang berarti membuat sesuatu tertarik. Tertarik pada siapa? Yah, tertarik pada yang menggodalah…hehe
Dialah Suri, teman seperjuangan saya di kepaniteraan klinik alias profesi Ners.
Suri adalah teman saya semasa di kampus lama, Nani Hasanuddin, yang juga memutuskan untuk beralih tempat profesi ke institusi lain.
Jika dideskripsikan, wajahnya tergolong sosok yang manis jika ditatap lama-lam tanpa mengedipkan mata. Hey….ini benar kawan, kamu bisa membuktikannya sendiri. Tataplah semua teman-teman kamu satu persatu, dengan meniadakan “cantik-tidak cantik”, fakta yang saya temukan adalah…di dunia ini, tidak ada makhluk Allah yang jelek, yang ada adalah….anda kurang lihai menatap sisi manis mereka yang tertimbun sisi jeleknya (menurut anda itu jelek).
Suri juga Saya, adalah mahasiswa kebanyakan, juga orang Indonesia kebanyakan, yang membedakan dia dengan saya adalah kadar adrenalinnya yang terlampau tinggi ketika dirangsang dengan hal-hal yang mengejutkan. Seperti siang  tadi, ceritanya kami berdua janjian dengan pembimbing lahan di salah satu rumah sakit di Gowa. Dalam keadaan normal alias tanpa macet dan durasi pemberhentian “cari penumpang “ dengan lama rata-rata (mungkin sekitar 5 menit, itu yang  saya lakukan, menghitung waktu ketika menunggu penumpang lain), jarak gowa-Makassar dapat dicapai hanya dengan 45 menit perjalanan saja. Maka akan jauh lebih cepat lagi jika menggunakan sepeda motor. Tapi yang sering saya alami adalah berbeda dari itu, kadang perjalanan bertambah menjadi hampir 2 jam. Itu waktu yang cukup lama ketika kita menggunakan pete-pete alias angkot. Dan yang lebih parah adalah…para sopir yang budiman ini tidak akan pernah mau menjalankan sang pete-pete jika penumpangnya tidak full. Akhirnya menyiasati keterlambatan saya, saya nebeng naik motornya Suri.
Bukan sekali atau dua kali ini saja saya bersama suri ke Gowa, tapi sudah sangat sering. Ketika dinas di Gowa bulan kemarin, hampir  tiap minggu kami pulang ke Makassar dengan motor. Dan hal yang saya alami, selalu sama: menutup mata rapat-rapat sambil merapal do’a dan istigfar sebanyak yang saya sanggup, sepanjang perjalanan. Alasannya adalah, Suri ternyata suka menggoda marabahaya, inilah yang saya sebut sebagai kadar adrenalin yang  terlampau tinggi. Beberapa kali hampir keserempet mobil lantaran dia tidak sabaran menunggu jatah mengemudi ketika berada tepat di belakang truk-truk besar. Oh ya, kawan…kami selalu memotong kompas ketika ke Gowa, memilih jalanan yang lebih dekat. selain menghindari razia Polisi (hmmmmmm), waktu tempuhnya juga lumayan lebih singkat. Jalanan yang saya maksud adalah Antang. Yang di Makassar pasti tau.
Yang membuat saya tidak nyaman ketika melewati jalanan ini adalah truk-truk besar  yang hampir tidak pernah alpa memadati jalanan Antang dan lobang-lobang yang menganga hampir sepanjang perjalanan, apalagi perbatasan Antang-Gowa. Bisakah kamu membayangkan ketika mengendarai motor diantara truk-truk besar? hey…itu perjalan yang membosankan tapi mengejutkan sekaligus membahayakan.
Suri tidak pernah mau kalah dengan truk, kali ini tidak seperti hari-hari kemarin yang hanya merapatkan badan motor dekat  truk dengan tujuan agar bisa berjalan bersamaan dengan truk-truk besar itu, kali ini dia berjalan di tengah-tengah jalur yang berlawanan arah. Ketika mobil lain datang dari arah yang berlawanan, dia menarik gas kencang-kencang untuk mengambil celah dimana jarak antara truk dari arah yang sama dengan motor kami hanya sekitar 2 meter dari jarak mobil yang datang dari arah yang berlawanan dengan truk, dan dengan sangat pede, dia “selap-selip”. Tinggalah saya yang diboncengnya menutup mata, menarik nafas  dalam-dalam kemudian menahannya, dan menundukkan kepala berlindung dari angkuh helm yang digunakannya.
Dan selalu seperti itu. Celakanya adalah….jalanan yang berbatu-batu sekaligus lobang yang menganga itu harus takluk dengan tancapan gas yang ditarik pengemudinya ini. Kawan….akan aku katakan rahasia agar tidak terlalu berani seperti Suri “nyawamu Cuma satu,tidak ada cadangan nyawa” jadi segera tepiskan keinginan jika kamu sedang bergumam ”aku juga bisa kok em….”

Makassar, 25 Mei 2013

1 komentar: