Selasa, 03 Juni 2014

Piatu




Laki-laki kecil itu menatapku lekat-lekat lepas sang nenek menancapkan segala apa yang dimiliki dari tubuhnya ke atas kursi penumpang angkot yang masih tersisa setengah saja. Dipangkunya laki-laki itu. Sebuah topi berwarna biru melingkari kepalanya, bajunya selengan atas, celananya pendek hingga memerlihatkan betisnya yang montok. Lucu sekali. Kulitnya putih halus. Kutaksir lelaki ini tentu sangat disayangi oleh wanita itu.
Kembali ia menatapku.
Ada apa nak?
Apa aku ini aneh di matamu?

Sukurlah Allah menciptakan saluran yang bersambung dari mata ke hidung. Cukup untuk menumpahkan airmata yang sedari tadi menggenang dan sama sekali tak mampu kusembunyikan. Kubuang mukaku ke arah mata angin. Barat, timur. Tak jelas menetap ke arah mana. Sengaja, hanya untuk membuang muka. Aku berpura-pura menguap agar terkesan aku tidak sedang menangis, lalu kututupkan mukaku dengan masker. Kalimat sang nenek lelaki 1 tahun itulah yang membuatku menjadi seperti ini.
“anak ini mengira kau ibunya”
Pelan-pelan Senyum terbit dari kedua kemut pipiku. Namun kalimat berikutnya membuatku lebih kaku.
“ibunya telah meninggal seminggu yang lalu, persis seperti kamu nak. Mungkin anak ini mengira kau ibunya.
Aku tertegun. Beku. Lepas itu aku tak mampu lagi menahan badai yang tiba-tiba saja datang mengepung mata. Ah, anak sekecil ini.

Matanya bulat penuh, tepat di tengahnya sesuatu mengilap. Pupil yang tengah mengecil akibat pancaran cahaya matahari mengenainya.
Kubalas tatapannya. Ia masih melekatkan matanya pada seluruh jilbabku. Ada redup rindu di sana. Meski aku tak kecil lagi, pengalaman membesarkan keponakan-keponakan membuatku sedikit banyak mampu membaca arti tatapan seorang anak pada ibunya. Tatapan rindu. Tatapan itulah yang selalu kudapati saat Hisyamku menjumpai ibunya yang baru saja kembali setelah seharian bekerja.

Duhai, malang nian. Untung saja nenekmu masih berbak hati menggendongmu, sayang. Jika tidak, barangkali kau hanya mampu merasakan wangi tubuh dari manusia sejenismu saja, ayahmu. 

Sudahkah kau disapih, sayang?
Atau liang lahat telah lebih dulu mendobrak batas.
Atau jangan-jangan kau masih ingin berlama-lama menggelantung di dada ibumu?
Ah, anak piatu yang tampan.

Selembar uang berominal Rp 5000,00 diberikan oleh seorang wanita yang tak muda lagi yang duduk persis di depan laki-laki piatu dan neneknya. Uang itu ia ambil lalu dimainkannya. Ditatapnya serius. Barangkali ia menganggap bahw uang tak lebih dari sebuah mainan. Bukankah anak sekecil itu tak pernah tahu makna uang walaupun nominal yang jauh lebih besar diberikan lagi? Anak sekecil itu cuma tahu susu, kan?

Cepatlah besar, sayang. Banyaklah berdoa untuk bundamu. Semoga jerih payahnya membesarkanmu terbalas sempurna.

“Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin.” (QS Al Baqoroh, 2:83)



 
Dalam sebuah angkot, lepas benar-benar menyadari, ada banyak anak-anak yang merindukan pelukan seorang ibu, 1 Juni 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar