Laki-laki
kecil itu menatapku lekat-lekat lepas sang nenek menancapkan segala apa yang
dimiliki dari tubuhnya ke atas kursi penumpang angkot yang masih tersisa
setengah saja. Dipangkunya laki-laki itu. Sebuah topi berwarna biru melingkari
kepalanya, bajunya selengan atas, celananya pendek hingga memerlihatkan
betisnya yang montok. Lucu sekali. Kulitnya putih halus. Kutaksir lelaki ini
tentu sangat disayangi oleh wanita itu.
Kembali
ia menatapku.
Ada
apa nak?
Apa
aku ini aneh di matamu?
Sukurlah Allah menciptakan saluran yang bersambung dari mata ke hidung. Cukup untuk
menumpahkan airmata yang sedari tadi menggenang dan sama sekali tak mampu
kusembunyikan. Kubuang mukaku ke
arah mata angin. Barat, timur. Tak jelas menetap ke arah mana. Sengaja, hanya
untuk membuang muka. Aku berpura-pura menguap agar terkesan aku tidak sedang
menangis, lalu kututupkan mukaku dengan masker. Kalimat sang nenek lelaki 1
tahun itulah yang membuatku menjadi seperti ini.
“anak
ini mengira kau ibunya”
Pelan-pelan
Senyum terbit dari kedua kemut pipiku. Namun kalimat berikutnya membuatku lebih
kaku.
“ibunya
telah meninggal seminggu yang lalu, persis seperti kamu nak. Mungkin anak ini mengira kau ibunya.
Aku
tertegun. Beku. Lepas itu aku tak mampu lagi menahan badai yang tiba-tiba saja
datang mengepung mata. Ah, anak sekecil ini.
Matanya
bulat penuh, tepat di tengahnya sesuatu mengilap. Pupil yang tengah mengecil
akibat pancaran cahaya matahari mengenainya.
Kubalas
tatapannya. Ia masih melekatkan matanya pada seluruh jilbabku. Ada redup rindu
di sana. Meski aku tak kecil lagi, pengalaman membesarkan keponakan-keponakan
membuatku sedikit banyak mampu membaca arti tatapan seorang anak pada ibunya. Tatapan
rindu. Tatapan itulah yang selalu kudapati saat Hisyamku menjumpai ibunya yang
baru saja kembali setelah seharian bekerja.
Duhai,
malang nian. Untung saja nenekmu masih berbak hati menggendongmu, sayang. Jika
tidak, barangkali kau hanya mampu merasakan wangi tubuh dari manusia sejenismu
saja, ayahmu.
Sudahkah
kau disapih, sayang?
Atau
liang lahat telah lebih dulu mendobrak batas.
Atau
jangan-jangan kau masih ingin berlama-lama menggelantung di dada ibumu?
Ah,
anak piatu yang tampan.
Selembar
uang berominal Rp 5000,00 diberikan oleh seorang wanita yang tak muda lagi yang
duduk persis di depan laki-laki piatu dan neneknya. Uang itu ia ambil lalu
dimainkannya. Ditatapnya serius. Barangkali ia menganggap bahw uang tak lebih
dari sebuah mainan. Bukankah anak sekecil itu tak pernah tahu makna uang
walaupun nominal yang jauh lebih besar diberikan lagi? Anak sekecil itu cuma
tahu susu, kan?
Cepatlah
besar, sayang. Banyaklah berdoa untuk bundamu. Semoga jerih payahnya
membesarkanmu terbalas sempurna.
“Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin.” (QS Al Baqoroh, 2:83)
Dalam sebuah angkot, lepas benar-benar menyadari, ada banyak anak-anak yang merindukan pelukan seorang ibu, 1 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar