26
Mei 2014
Mama
dan aku tiba tepat di depan ruangan OK, sebuah ruangan tindakan operasi. Duh
Mun, akhirnya aku berada juga pada titik ini. Sebuah titik di mana aku harus
menyaksikan sekaligus menyadari sesadar-sadarnya aku tengah menjadi
keluarga dari seorang pasien yang sedang
dalam masa pasca operasi. Aku juga kau, tahu bukan, bahwa operasi caesar adalah
jalan yang harus ditempuh untuk melahirkan seorang anak manusia jika memang
dalam proses kelahiran normal ditemukan kendala yang cukup berarti?! Kita berdua
tahu keadaan lemah pasca operasi adalah hal yang sangat wajar apalagi jika ia
mendapat biusan/anastesi umum yang membuat kesadaran lumpuh untuk beberapa
waktu. Kita juga tahu keadaan pasien tak perlu cukup dikhawatirkan jika
tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu dalam
rentang normal. Tapi entah mengapa aku begitu sesak menyaksikanmu seperti ini,
tubuh yang terbujur lemas tak berbaju. Hanya selembar sarung panjang yang
menutupi badan. Handuk dari bibi Runis
kututupkan di kepalamu. Tenang saja, ini bukan keadaan darurat yang membuatmu
harus menelanjangi kepala, itu aurat. Ada kami disini. Itu sudah cukup
membuatmu tak perlu khawatir. Keluarga adalah rumah untuk kembali pulang, Mun.
Sebab tak ada orang-orang di dunia ini yang mencintai kita dengan segenap tulus
kecuali keluarga, juga orang-orang yang terpaut hatinya atas nama Tuhan.
Tiga
jam. Dokter bilang kau akan sadar dalam waktu tiga jam mendatang. Aku akan
menunggu Mun, sampai kau sadar. Waktu berdenting pelan menyusuri selasar luar
ruangan. Ada pasien-pasien lain yang ternyata mengalami hal yang sama denganmu
di ruang perawatan ini. Tapi lihatlah, tak ada yang penjenguknya sebanyak
dirimu. Meski sebenarnya aku sangat paham bahwa pasien pasca operasi tak boleh
dikerubung massal oleh manusia. Tapi kami benar-benar khawatir. Sungguh,
melihatmu menutup mata sejenak membuat dada sesak saja.
Waktu
itu datang, matamu perlahan-lahan kau buka. Aku merasa seperti sedang berada
dalam sebuah adegan sinetron saja. Cepat-cepat matamu kau tutup kembali.
Tingkat kesadaranmu perlahan-lahan meningkat. Kau memulai kata, sesuku saja.
“Mi...”
Aku
mencoba menebak-nebak. Mungkin kau sedang berusaha memanggil namaku. Bukankah
hanya aku manusia yang pertama kali kau lihat saat matamu mulai kau buka?
“Mi...”
“iya
Mun, ini aku. Ingat Tuhan Mun”
Ia
katupkan matanya perlahan-lahan. Lalu kembali mengulang kata namun lebih jelas
lagi.
“Emy..
“Emy...”
Lalu
bibir, hidung, juga pipi merah seketika. Hei, kau mengangis.
“Emy, bune nifiku mori mbali” (seperti
mimpi saja bisa hidup kembali)
Kemudian
aku dingin. Tak berani berkata apa-apa.
“maaf
mata, tahan lelehanmu sepersekian jam dulu. Aku malu jika harus tangisan tumpah
ruah di kamar ini. Nanti, di luar. Tolong.”
Sepertinya
air mata menendang-nendang kelopak mata. Aku tak ingin bersedih dengan
keadaanmu, sebab menurutku mengasihani secara berlebihan hingga meraung-raung
juga bukan pilihan yang bijaksana, itu akan semakin membuat lemah. Jadi kutahan
saja. Meski kenyataanya, beberapa tetes airmata sukses mendobrak pertahanan pelupuk mata dan
menjatuhkan dirinya di atas pipi. Basah sudah, dan mata memerah setegah merah
saga.
Lalu,
tiba-tiba masa seperti mengulang sesuatu yang pernah aku jalani dulu. Kau tahu,
aku tak pernah bersimpati berlebihan pada pasien-pasienku, karena kami perawat
menganggap bahwa hal demikian sangat penting untuk tetap menjaga rasionalitas.
Bukankah sakit itu sangat subjektif? Orang-orang menafsirkan sakit dengan
berbeda-beda, maka aku tak pernah menitikkan air mata.
“Emy,
ana nahu” (Anakku bagaimana?)
“Dia
sehat Mun, laki-laki. Beratnya 3kg”
Tetiba
saja aku menjadi orang udik yang tak mengerti apa-apa tentang rumah sakit juga
segala tetek bengeknya, aku lupa tentang teknik aseptik, aku lupa teknik
membedong bayi, aku lupa...aku lupa. Aku bergejolak melihat seorang bayi mungil
berbaju warna biru kesukaanku digendong oleh seorang bidan dan menghampirimu,
sepertinya dia, yah,,,dia. Manusia yang ingin melihat dunia lewat jendela. Tak
melewati pintu yang seharusnya.
Ah,
kukecup saja. Maaf beb, aku tak
pernah tahan melihat manusia mungil seperti ini. Mereka membawa wangi surga
bersamanya. Kukecup lagi. Aku lupa diri, aku sedang flu. Maafkan.
Detik-detik menjelang aqiqahan Muhammad Uwais Alfaruq, selamat datang di dunia, sayang.
Bima, 1 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar