Senin, 02 Juni 2014

Setengah Merah Saga


26 Mei 2014
Mama dan aku tiba tepat di depan ruangan OK, sebuah ruangan tindakan operasi. Duh Mun, akhirnya aku berada juga pada titik ini. Sebuah titik di mana aku harus menyaksikan sekaligus menyadari sesadar-sadarnya aku tengah menjadi keluarga  dari seorang pasien yang sedang dalam masa pasca operasi. Aku juga kau, tahu bukan, bahwa operasi caesar adalah jalan yang harus ditempuh untuk melahirkan seorang anak manusia jika memang dalam proses kelahiran normal ditemukan kendala yang cukup berarti?! Kita berdua tahu keadaan lemah pasca operasi adalah hal yang sangat wajar apalagi jika ia mendapat biusan/anastesi umum yang membuat kesadaran lumpuh untuk beberapa waktu. Kita juga tahu keadaan pasien tak perlu cukup dikhawatirkan jika tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu dalam rentang normal. Tapi entah mengapa aku begitu sesak menyaksikanmu seperti ini, tubuh yang terbujur lemas tak berbaju. Hanya selembar sarung panjang yang menutupi badan.  Handuk dari bibi Runis kututupkan di kepalamu. Tenang saja, ini bukan keadaan darurat yang membuatmu harus menelanjangi kepala, itu aurat. Ada kami disini. Itu sudah cukup membuatmu tak perlu khawatir. Keluarga adalah rumah untuk kembali pulang, Mun. Sebab tak ada orang-orang di dunia ini yang mencintai kita dengan segenap tulus kecuali keluarga, juga orang-orang yang terpaut hatinya atas nama Tuhan.

Tiga jam. Dokter bilang kau akan sadar dalam waktu tiga jam mendatang. Aku akan menunggu Mun, sampai kau sadar. Waktu  berdenting pelan menyusuri selasar luar ruangan. Ada pasien-pasien lain yang ternyata mengalami hal yang sama denganmu di ruang perawatan ini. Tapi lihatlah, tak ada yang penjenguknya sebanyak dirimu. Meski sebenarnya aku sangat paham bahwa pasien pasca operasi tak boleh dikerubung massal oleh manusia. Tapi kami benar-benar khawatir. Sungguh, melihatmu menutup mata sejenak membuat dada sesak saja.

Waktu itu datang, matamu perlahan-lahan kau buka. Aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah adegan sinetron saja. Cepat-cepat matamu kau tutup kembali. Tingkat kesadaranmu perlahan-lahan meningkat. Kau memulai kata, sesuku saja.
“Mi...”
Aku mencoba menebak-nebak. Mungkin kau sedang berusaha memanggil namaku. Bukankah hanya aku manusia yang pertama kali kau lihat saat matamu mulai kau buka?
“Mi...”
“iya Mun, ini aku. Ingat Tuhan Mun”
Ia katupkan matanya perlahan-lahan. Lalu kembali mengulang kata namun lebih jelas lagi.
“Emy..
“Emy...”
Lalu bibir, hidung, juga pipi merah seketika. Hei, kau mengangis.
Emy, bune nifiku mori mbali” (seperti mimpi saja bisa hidup kembali)
Kemudian aku dingin. Tak berani berkata apa-apa.

maaf mata, tahan lelehanmu sepersekian jam dulu. Aku malu jika harus tangisan tumpah ruah di kamar ini. Nanti, di luar. Tolong.”

Sepertinya air mata menendang-nendang kelopak mata. Aku tak ingin bersedih dengan keadaanmu, sebab menurutku mengasihani secara berlebihan hingga meraung-raung juga bukan pilihan yang bijaksana, itu akan semakin membuat lemah. Jadi kutahan saja. Meski kenyataanya, beberapa tetes airmata sukses  mendobrak pertahanan pelupuk mata dan menjatuhkan dirinya di atas pipi. Basah sudah, dan mata memerah setegah merah saga.

Lalu, tiba-tiba masa seperti mengulang sesuatu yang pernah aku jalani dulu. Kau tahu, aku tak pernah bersimpati berlebihan pada pasien-pasienku, karena kami perawat menganggap bahwa hal demikian sangat penting untuk tetap menjaga rasionalitas. Bukankah sakit itu sangat subjektif? Orang-orang menafsirkan sakit dengan berbeda-beda, maka aku tak pernah menitikkan air mata.
“Emy, ana nahu” (Anakku bagaimana?)
“Dia sehat Mun, laki-laki. Beratnya 3kg”

Tetiba saja aku menjadi orang udik yang tak mengerti apa-apa tentang rumah sakit juga segala tetek bengeknya, aku lupa tentang teknik aseptik, aku lupa teknik membedong bayi, aku lupa...aku lupa. Aku bergejolak melihat seorang bayi mungil berbaju warna biru kesukaanku digendong oleh seorang bidan dan menghampirimu, sepertinya dia, yah,,,dia. Manusia yang ingin melihat dunia lewat jendela. Tak melewati pintu yang seharusnya.

Ah, kukecup saja. Maaf beb, aku tak pernah tahan melihat manusia mungil seperti ini. Mereka membawa wangi surga bersamanya. Kukecup lagi. Aku lupa diri, aku sedang flu. Maafkan.


Detik-detik menjelang aqiqahan Muhammad Uwais Alfaruq, selamat datang di dunia, sayang. 
Bima, 1 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar