Rabu, 21 Juni 2023

Dengarkan Doktermu! (1)

Suatu waktu dini hari, saya terbangun, ada sesuatu yang harus saya tuntaskan di dalam kamar kecil. Saya yang tengah hamil 37 minggu saat itu agak kesulitan untuk bangun, kepala pening, umur kehamilan setua ini membuat tidur kurang lelap. Di dalam kamar mandi saya terduduk agak lama, tiba-tiba ada yang keluar dan jatuh di bawah kloset, saya menengok ke bawah dan kaget melihat darah tumpah dan membasahi kloset. Saya terkesiap, oh! apa ini! Mungkinkah ini tanda untuk melahirkan? Tapi darah yang keluar berwarna merah kehitaman, juga sangat banyak. Mustahil ini tanda melahirkan. cepat-cepat saya keluar dari kamar kecil dan kembali ke tempat tidur menunggu waktu subuh datang. 

Dua hari yang lalu, seorang dokter spesialis kandungan yang saya datangi sudah menjadwalkan masa operasi caesar untuk saya, beliau bilang plasenta saya letak rendah, risiko perdarahannya bisa berbahaya buat saya dan janin jika harus bertahan untuk bersalin normal. Tapi saya kekeuh untuk bersalin normal dan menolak penjadwalan operasi. Saya beralasan belum siap untuk dioperasi. Dokter menyampaikan berbagai implikasi dari lahiran normal jika plasenta letak rendah berikut segala bujukannya. Saya tetap pada pendirian saya.

 Setelah menunggu subuh yang lama, saya bergegas mandi dan meminta suami mengantar saya ke puskesmas terdekat. Di sana saya dianamnesa oleh bidan. Dari hasil anamnesa, saya mendapat gambaran kemana selanjutnya. Jadi karena saya memiliki riwayat bersalin caesar di kehamilan sebelumnya, maka saya harus melahirkan di Rumah Sakit, tidak boleh ditangani di Puskesmas. Yang saya alami di subuh tadi bisa jadi perdarahan, tapi inaktif karena setelah kejadian subuh tadi, sudah tidak ada darah yang keluar, kecuali di jam tujuh pagi tadi dan hanya sedikit. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Saya akhirnya dirujuk oleh bidan ke Rumah Sakit terdekat. Kemungkinan saya akan dioperasi mengingat ada perdarahan. Saya mulai gusar. di pikiran saya terpampang banyak hal yang harus saya terima jika saya harus menjalani operasi, satu dari sekian banyak hal itu adalah bahwa si sulung akan terbengkalai persoalannya perihal sekolah. Sulung saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Masih memerlukan banyak bantuan saya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Suami saya bekerja dari pagi hingga malam. Kemudian si tengah yang masih balita, tentu masih bergantung dengan saya. Ah, sudahlah. Pasti nanti akan ada jalan. Jalani saja dulu yang ada. 

Tepat pukul 13.35 saya sampai di Rumah sakit rujukan. Dokter jaga IGD Ponek waktu itu meminta untuk observasi perdarahan untuk beberapa waktu kedepan. Alhamdulillah,perdarahannya memang sudah tidak keluar lagi, meski saya tetap berisiko perdarahan berulang. Sembari menunggu jam observasi, kemajuan his atau kontraksi persalinan sudah mulai muncul, awalnya hanya sakit biasa saja, namun semakin lama kontraksinya semakin kuat dan intens. Saya kuat berdo'a, masih berharap untuk bisa lahiran normal. Saya dibawa menuju ruang VK, disana saya kembali diUSG, memang letak plasentanya terlalu rendah,tapi tidak sampai menutup jalan lahir. Usai saya di USG, kekuatan kontraksinya kian menguat, saya harus meremas pinggang agar terasa enakan.Jam di Hp saya seperti melambat, waktu rasanya lama berpindah dari jam ke jam. Pinggang terasa betul sakitnya, ditambah perut bagian bawah sakitnya luar biasa. 

Isya turun pelan-pelan. Saya mulai menekuk kaki,rasa sakit semakin tak mampu saya tahan. Bidan datang untuk mengobservasi keadaan saya. Ada susuatu yang saya rasakan keluar dari jalan lahir saya, saya meminta bidan untuk mengeceknya. Bidan memasang sarung tangan lalu mengecek. Matanya melebar, "bloody show" teriaknya. "Kita tunggu ya bu, jika nanti ada bukaan dan kepalanya turun ke bawah, insyaallah bisa bersalin normal" saya bahagia mendengarnya. Meski masih terus bersabar.

 Saya di bawa ke dalam ruangan persalinan. beberapa jam kemudian, rasa sakit membuat saya memanggil lagi sang bidan, akhirnya bidan mulai mengecek pembukaan. "Bukaan 2, ini kepalanya mulai turun, insyaaallah kita lahiran normal ya buk." Pembukaan demi pembukaan saya lalui penuh kesakitan. Tapi saya masih bisa menahan suara agar tidak mengganggu pasien lain, sesekali berzikir dan memohon ampun pada Allah, lahiran kali ini sungguh sangat sakit. Puncak kesakitan itu akhirnya saya berteriak kuat, sungguh rasa sakit yang tak ada lagi padanannya adalah sakit melahirkan. Beberapa bidan datang menghampiri dan langsung memeriksa lagi,ternyata sudah pembukaan lengkap. Seluruh bidan mempersiapkan seluruh keperluan untuk membantu saya bersalin, hanya beberapa menit saja, Alhamdulillah bayi dilahirkan dengan BB 2,9kg. Maha suci Allah yang menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar