Senin, 03 Juli 2023

Dengarkan Doktermu! (part 2)

 Beberapa saat setelah melahirkan, saya istirahat. Ditemani oleh suami juga ipar, kami bermalam di rumah sakit. Paginya, saya dipindahkan ke ruang nifas, disana keadaan saya pasca melahirkan dipantau oleh bidan. Tapi aneh, hingga pagi itu, saya belum juga bisa menyusui bayi saya, hingga siang. Karena rumah sakit memberlakukan satu hari perawatan bagi ibu bersalin normal tanpa komplikasi dan keluhan, saya diizinkan pulang. Bayi saya belum dibawa juga oleh bidan. Ternyata, setelah mendapatkan informasi dari salah satu kerabat yang datang menjenguk saya dan sang bayi, barulah saya mengetahui bahwa malam itu bayi saya langsung dilarikan ke NICU (neonatal intensive care unit) karena tidak langsung bernapas ketika dilahirkan. Saya terdiam agak lama, ada kebimbangan ketika saya justru dibolehkan pulang. Bagaimana nanti bayi saya mendapatkan ASI? 

Atas kehendak Allah seluruh kejadian dalam kehidupan saya bergulir bergantian hadir. Termasuk merelakan bayi mungil itu dirawat di NICU sementara saya harus pulang memulihkan keadaan saya di rumah. Baiklah, saya berusaha berdamai dengan seluruh pergumulan batin. Berhari-hari Hanina dirawat. Suatu malam, suami yang sedang mengantar mama kembali ke rumah menelepon saya "dik, tolong ke rumah sakit sekarang" jantung saya berdegup kencang. Ada apa?

Bersama ipar, kami mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit. Nyeri luka episiotomi dengan belasan jahitan membuat saya kurang nyaman duduk di atas motor, tapi demi Hanina, saya harus kuat. Setiba di RS, saya langsung menuju ruang NICU. Saya meminta izin kepada perawat jaga agar saya masuk ke dalam ruangan. 

Bayi itu tergeletak dibawah mesin penghangat, tanpa baju, hanya menggunakan popok. Tuhan, lucu sekali bayi ini. Badannya sedikit gembul. Tapi di hudungnya terpasang sungkup pernapasan, lalu dari dalam mulutnya keluar selang yang langsung masuk ke dalam lambungnya. Bayi itu kejang. "Ibu, maaf bayinya sedang kurang baik." "oh, iya bu bidan," "ibu jangan jauh dari rumah sakit ya,supaya kami bisa menghubungi lagi jika ada apa-apa." Badan saya kaku. Seketika suara tangis meledak keluar dari mulut, padahal sedari tadi berusaha saya tahan agar jangan keluar, takut mengganggu bayi-bayi lain yang sedang tertidur pulas di box masing-masing. Saya menangis melihat Hanina kejang, ia tak bisa mengeluh atau menyampaikan apapun kepada saya perihal keadaannya. Sebisa mungkin saya pegang tangan mungilnya, "sayang ini bunda, Hanina yang kuat ya." Sementara itu, ipar saya diminta oleh bidan yang lain untuk mengambil obat anti kejang di apotek. Malam itu, stok obat anti kejang sisa satu ampul. "mbak, stok obat sisa ini ya, tolong dijaga baik-baik agar tidak jatuh." Dengan sangat hati-hati ia berjalan menyusuri selasar menuju NICU, membawa seampul obat terakhir.

Saya meninggalkan ruang NICU dengan lemas. Seketika pikiran-pikiran buruk menggelayut di kepala. Hanina sudah dipindahkan di ruang pemantauan. Bidan jaga menyampaikan bahwa bayi itu sudah diberi obat anti kejang.

Suami memaksa saya pulang ke rumah, saya masih ingin di RS. "Ayolah, kamu harus menjaga kondisimu, jangan sampai drop" "Biar kakak yang jaga Hanina disini." Saya terus diam, masih ingin di RS. "Nanti jika ada apa-apa, kakak pasti hubungi."

Saya mengalah. Kondisi saya pasca melahirkan memang membutuhkan istirahat, terlebih luka jahitan yang masih sakit dan basah membuat gerak benar-benar kurang nyaman. Saya kembali ke rumah bersama ipar yang masih terus menemani saya.




Rabu, 21 Juni 2023

Dengarkan Doktermu! (1)

Suatu waktu dini hari, saya terbangun, ada sesuatu yang harus saya tuntaskan di dalam kamar kecil. Saya yang tengah hamil 37 minggu saat itu agak kesulitan untuk bangun, kepala pening, umur kehamilan setua ini membuat tidur kurang lelap. Di dalam kamar mandi saya terduduk agak lama, tiba-tiba ada yang keluar dan jatuh di bawah kloset, saya menengok ke bawah dan kaget melihat darah tumpah dan membasahi kloset. Saya terkesiap, oh! apa ini! Mungkinkah ini tanda untuk melahirkan? Tapi darah yang keluar berwarna merah kehitaman, juga sangat banyak. Mustahil ini tanda melahirkan. cepat-cepat saya keluar dari kamar kecil dan kembali ke tempat tidur menunggu waktu subuh datang. 

Dua hari yang lalu, seorang dokter spesialis kandungan yang saya datangi sudah menjadwalkan masa operasi caesar untuk saya, beliau bilang plasenta saya letak rendah, risiko perdarahannya bisa berbahaya buat saya dan janin jika harus bertahan untuk bersalin normal. Tapi saya kekeuh untuk bersalin normal dan menolak penjadwalan operasi. Saya beralasan belum siap untuk dioperasi. Dokter menyampaikan berbagai implikasi dari lahiran normal jika plasenta letak rendah berikut segala bujukannya. Saya tetap pada pendirian saya.

 Setelah menunggu subuh yang lama, saya bergegas mandi dan meminta suami mengantar saya ke puskesmas terdekat. Di sana saya dianamnesa oleh bidan. Dari hasil anamnesa, saya mendapat gambaran kemana selanjutnya. Jadi karena saya memiliki riwayat bersalin caesar di kehamilan sebelumnya, maka saya harus melahirkan di Rumah Sakit, tidak boleh ditangani di Puskesmas. Yang saya alami di subuh tadi bisa jadi perdarahan, tapi inaktif karena setelah kejadian subuh tadi, sudah tidak ada darah yang keluar, kecuali di jam tujuh pagi tadi dan hanya sedikit. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Saya akhirnya dirujuk oleh bidan ke Rumah Sakit terdekat. Kemungkinan saya akan dioperasi mengingat ada perdarahan. Saya mulai gusar. di pikiran saya terpampang banyak hal yang harus saya terima jika saya harus menjalani operasi, satu dari sekian banyak hal itu adalah bahwa si sulung akan terbengkalai persoalannya perihal sekolah. Sulung saya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Masih memerlukan banyak bantuan saya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Suami saya bekerja dari pagi hingga malam. Kemudian si tengah yang masih balita, tentu masih bergantung dengan saya. Ah, sudahlah. Pasti nanti akan ada jalan. Jalani saja dulu yang ada. 

Tepat pukul 13.35 saya sampai di Rumah sakit rujukan. Dokter jaga IGD Ponek waktu itu meminta untuk observasi perdarahan untuk beberapa waktu kedepan. Alhamdulillah,perdarahannya memang sudah tidak keluar lagi, meski saya tetap berisiko perdarahan berulang. Sembari menunggu jam observasi, kemajuan his atau kontraksi persalinan sudah mulai muncul, awalnya hanya sakit biasa saja, namun semakin lama kontraksinya semakin kuat dan intens. Saya kuat berdo'a, masih berharap untuk bisa lahiran normal. Saya dibawa menuju ruang VK, disana saya kembali diUSG, memang letak plasentanya terlalu rendah,tapi tidak sampai menutup jalan lahir. Usai saya di USG, kekuatan kontraksinya kian menguat, saya harus meremas pinggang agar terasa enakan.Jam di Hp saya seperti melambat, waktu rasanya lama berpindah dari jam ke jam. Pinggang terasa betul sakitnya, ditambah perut bagian bawah sakitnya luar biasa. 

Isya turun pelan-pelan. Saya mulai menekuk kaki,rasa sakit semakin tak mampu saya tahan. Bidan datang untuk mengobservasi keadaan saya. Ada susuatu yang saya rasakan keluar dari jalan lahir saya, saya meminta bidan untuk mengeceknya. Bidan memasang sarung tangan lalu mengecek. Matanya melebar, "bloody show" teriaknya. "Kita tunggu ya bu, jika nanti ada bukaan dan kepalanya turun ke bawah, insyaallah bisa bersalin normal" saya bahagia mendengarnya. Meski masih terus bersabar.

 Saya di bawa ke dalam ruangan persalinan. beberapa jam kemudian, rasa sakit membuat saya memanggil lagi sang bidan, akhirnya bidan mulai mengecek pembukaan. "Bukaan 2, ini kepalanya mulai turun, insyaaallah kita lahiran normal ya buk." Pembukaan demi pembukaan saya lalui penuh kesakitan. Tapi saya masih bisa menahan suara agar tidak mengganggu pasien lain, sesekali berzikir dan memohon ampun pada Allah, lahiran kali ini sungguh sangat sakit. Puncak kesakitan itu akhirnya saya berteriak kuat, sungguh rasa sakit yang tak ada lagi padanannya adalah sakit melahirkan. Beberapa bidan datang menghampiri dan langsung memeriksa lagi,ternyata sudah pembukaan lengkap. Seluruh bidan mempersiapkan seluruh keperluan untuk membantu saya bersalin, hanya beberapa menit saja, Alhamdulillah bayi dilahirkan dengan BB 2,9kg. Maha suci Allah yang menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna.

Sabtu, 20 Februari 2021

 


Terimakasih, Rumah Bahasa NTB


Hari ini, saya seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Selamat untuk diri saya! Semoga, dengan hibernasi yang teramat panjang kemarin memberi begitu banyak tenaga baru untuk membuat kehidupan jauh lebih baik dari hari-hari yang sudah terlewati.

Pemerintah provinsi NTB khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB membuat wadah belajar bahasa Inggeris bagi putera-puteri NTB, namanya, Rumah Bahasa NTB. I'm Happy for that. Seluruhnya, program ini adalah upaya pemerintah untuk mengembangkan daerah NTB jauh lebih baik. Saya mendapat informasi ini dari senior saya yang lebih dahulu mengenalnya. Saya mengikuti seleksi untuk bergabung dalam Rumah Bahasa, setelah melewati proses yang lumayan membikin diri bangun kembali, meski ternyata tidak lolos seleksi, juga tidak masuk dalam waiting list, saya terpilih untuk bergabung bersama. Kok bisa?

Koordinator selaku perpanjangan tangan dari orang-orang Propinsi ternyata sukses melobi. Awalnya hanya diambil satu kelas saja, tapi koordinator kami melobi meminta jatah tambahan. oh! ini vitamin!

Saya merasa benar-benar bersyukur bisa terpilih dari puluhan peserta dari kota dan kabupaten Bima. Saya berharap bisa mengejar nilai TOEFL yang tak kunjung dipeluk, padahal cita-cita melanjutkan sekolah tetap tersimpan rapi dalam benak. Semoga beasiswa LPDP, AAS. atau minimal beasiswa NTB berpihak pada cita-cita saya.


Penuh sukur,

Everywhere, Everymoment, I believe to my dreams

I hug, struggle with  my power


Kota Bima,

20 Februari 2021



  

Rabu, 28 Januari 2015

Sebelum Waktu Itu Tiba...

Hal yang paling lucu adalah ketika saya menangis tersedu-sedu karena tak jadi menikah dengan seseorang sebelum saya bertemu dengan kekasih saya kini. Apa hak saya menangisinya begitu rupa? Tak ada. Kecuali kebodohan saya. Kebodohan akan pengenalan “takdir” Allah. Seseorang tak akan pernah menikah dengan yang bukan jodohnya. Manusia dilahirkan dengan segala takdir yang telah menempel pada kromosom-kromosomnya, terendap pada gen-genya. Jadi, apa yang bukan takdir kita, takakan pernah dimudahkan untuk kita. Percayalah.

Penolakan pada hal yang diinginkan memang kerap kali kita artikan sebagai sebuah kegagalan. Padahal tak selamanya demikian. Jodoh  misalnya. Pacaran bertahun-tahun, dan pada akhirnya menikah juga dengan orang lain. Lalu apa yang salah? Bukankah berpacaran juga sering kita anggap sebagai langkah awal untuk pengenalan kepada pasangan yang terlanjur kita aggap sebagai jodoh kita? Mungkin benar, tapi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berpacaran dan menikung dengan ketentuan Allah, itulah letak kesalahannya.

Sepenuh cinta, saya dedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang dengan teguh bertahan untuk tidak memulai hal baik dengan sesuatu yang buruk


Bima, Januari 2015