Ada
apa dengan lautan?
Mengapa
begitu banyak yang ingin berteriak tanpa mendengarkan kembali gema suara yang
tertelan buih-buih ombak.
Ada
apa dengan lautan?
Pernahkah
terpikir bahwa apa-apa yang kita keluarkan, kelak akan terpantul dan mengenai
diri kita? Pun dengan sebuah teriakan di depan laut atau samudera.
Aku
kira, teriakan akan menghancurkan ketampanan dan kecantikan.
Ada
apa dengan berteriak di tepi lautan?
Adakah
ia cukup mampu membuang penat yang lama bercokol di tempurung kepala lalu
seketika mendinginkan pedalaman jiwa. Atau malah teriakan itu hanya akan
menjadi sia-sia tertelan gemuruh ribut lautan.
Bukankah
menikmatinya saat semburat matahari jingga membaur pada kaki langit, lalu angin
sore mengusap-usap pipi, akan jauh lebih membuat pedalaman lebih tenang?
Ingatlah,
jiwa manusia tak sekasar seperti yang acapkali terlihat lewat tingkah kita
Jiwa
manusia sangat halus, bukankah Tuhan telah menjadikan fitrah manusia begitu?
Lalu
mengapa mesti dikeras-keraskan?
Mari,
duduklah tenang di atas pasir pantai. Tanpa soft
drink juga asap rokok yang mengepul. Tarik napasmu pelan-pelan, lalu
hembuskan, rasakan darah mengalir ke sekujur tubuhmu. Kemudian, mintalah ampun
atas semua cobaan dan ujian yang mendera. Sebab ujian dan cobaan hanya memiliki
dua sisi kemungkinan, jika bukan untuk menguji keimananmu, maka pasti untuk
menegurmu. Setidaknya, dua hal tersebut mutlak dibutuhkan manusia untuk
membaikkan hidup, bukan?
Bisikkan pelan-pelan : kau, bisa! Kau bisa
melewatinya!
Setelah
itu, lihatlah apa yang terjadi dengan dirimu.
Bima, 24 mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar