Rabu, 28 Mei 2014

Ada Apa dengan lautan?




Ada apa dengan lautan?
Mengapa begitu banyak yang ingin berteriak tanpa mendengarkan kembali gema suara yang tertelan buih-buih ombak.

Ada apa dengan lautan?
Pernahkah terpikir bahwa apa-apa yang kita keluarkan, kelak akan terpantul dan mengenai diri kita? Pun dengan sebuah teriakan di depan laut atau samudera.
Aku kira, teriakan akan menghancurkan ketampanan dan kecantikan.

Ada apa dengan berteriak di tepi lautan?
Adakah ia cukup mampu membuang penat yang lama bercokol di tempurung kepala lalu seketika mendinginkan pedalaman jiwa. Atau malah teriakan itu hanya akan menjadi sia-sia tertelan gemuruh ribut lautan.
Bukankah menikmatinya saat semburat matahari jingga membaur pada kaki langit, lalu angin sore mengusap-usap pipi, akan jauh lebih membuat pedalaman lebih tenang?
Ingatlah, jiwa manusia tak sekasar seperti yang acapkali terlihat lewat tingkah kita
Jiwa manusia sangat halus, bukankah Tuhan telah menjadikan fitrah manusia begitu?
Lalu mengapa mesti dikeras-keraskan?

Mari, duduklah tenang di atas pasir pantai. Tanpa soft drink juga asap rokok yang mengepul. Tarik napasmu pelan-pelan, lalu hembuskan, rasakan darah mengalir ke sekujur tubuhmu. Kemudian, mintalah ampun atas semua cobaan dan ujian yang mendera. Sebab ujian dan cobaan hanya memiliki dua sisi kemungkinan, jika bukan untuk menguji keimananmu, maka pasti untuk menegurmu. Setidaknya, dua hal tersebut mutlak dibutuhkan manusia untuk membaikkan hidup, bukan?
 Bisikkan pelan-pelan : kau, bisa! Kau bisa melewatinya!
Setelah itu, lihatlah apa yang terjadi dengan dirimu.

Bima, 24 mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar