Masih
terekam kuat dalam ingatan saya sosok seseorang yang saya inginkan:
Dia datang menemui kami dengan wajah renjana.
Senyumnya penuh. Bermata binar. Ia tak pernah membentak kami. Saat Ia memasuki
kelas kami yang ribut, Ia lantas memberi waktu kepada kami untuk menyelesaikan
candaan beberapa menit, setelahnya Ia
akan memulai segala.
Tak
pernah Ia melahirkan kata-kata kasar seperti bodoh, nakal, dan semisalnya.
Sebagai gantinya tiap kali kami menjawab pertanyaan yang Ia lontarkan, Ia
memberi kami pujian dan semangat, bahkan jika jawaban kami tak sesuai dengan
soal yang Ia berikan.
Bukan
mudah memang menaklukan manusia. Terlebih jika berbeda kepala. Tapi seperti
itulah Ia, selalu ada caranya agar kami kembali pulang, pada kelurusan akal.
Pelan-pelan Ia menuntun kami, tak tergesa-gesa, apa lagi terburu-buru. Kami
dibiarkan bebas berpikir, tak pernah Ia mendikte, apalagi doktrin ini itu.
Saya
tak pernah membayangkan Ia mengayuh sepeda seperti layaknya sebagian besar orang
mengkhayalkan sosoknya yang penuh kesederhanaan. Bagi saya, sederhana itu bukan
saja perihal pakaian yang barangkali terlihat kusut atau kendaraan yang sangat
minim, tapi lebih pada sikapnya yang ramah, penuh kasih. Saya membayangkanya
menjadi orang yang kaya raya. Berpakaian rapi, modis, necis, wangi, sekaligus
berwajah segar. Ia memiliki mobil dan pada saat jam pulang, diangkutnya kami
satu persatu. Ia tetap sahaja dalam kemodisannya. Sahaja. Sederhana dan modis.
Dua kata yang barangkali sangat kontras.
Tiap
jeda waktu,Ia telaten betul menasehati kami. Ia cukup tahu, kami ini ABABIL,
ABG Labil. Sedikit saja disulut, gampang sekali terbakar. Petuahnya tetap
dengan bahasa muda, sebiasa mungkin agar otak kami yang masih belia menjangkau
maksud kata-katanya. Tak ada perintah, yang ada adalah ia menjadi contoh nyata
bagi kami. Ada titipan harapan di tiap nasehatnya.
Kami
diperlakukan layaknya seorang teman, bukan rival yang harus beradu siapa yang
paling pintar dan berkuasa. Tak soal baginya jika harus duduk melingkar bersama
kami di atas rerumputan. Asal, hitungan-hitungan panjang di papan tulis tadi
bisa kami mengerti hingga tuntas.
Masih.
Masih
di antara catatan kecil. Saya memimpikan seorang guru yang tak repot jika kami
lamban menghafal rumus. Asal kami tahu, asal kami paham, untuk apa sebenarnya kami
belajar. Ya, sebab tak langsung ilmu yang kami petik hari ini akan kami makan
dalam sekejap. Besok lusa, akan kami cecap manisnya.
Tangannya
ia gunakan untuk mengusap-usap kepala kami, bahasa non verbal yang ia wakilkan
untuk kata-katanya : “ayyuh nak, semangatlah”
Masih
adakah guru demikian seperti yang sedang saya bayangkan, hari ini?
Meski
dalam ingatan yang belepotan, saya tersangkut pada sebuah jeda waktu istirahat.
Saat itu, acara bangun kesiangan membuat saya telat datang, akhirnya kepala saya
yang masih tak berjilbab harus rela untuk disentuh oleh seorang guru.
Ah,
maksud saya, kepala dengan rambut dikuncir dua itu “diketok”. Saya tak kaget
mendapatkan perilaku macam itu. Saya kira, didikan demikian tak asing lagi.
Sebagian mereka menghukumi murid-muridnya dengan kekerasan.
Di lain
waktu, saya teringat lagi dengan beberapa peristiwa. Saya malas-malasan masuk
kelas lantaran guru dari matapelajaran siang itu sungguh amat tidak
menyenangkan, bagi saya. Amat kontras dengan pengalaman berikutnya : saya begitu
adiksi masuk kelas, bahkan saat kelas lain sedang dalam proses belajar
matapelajaran Biologi, saya ingin ikut bersama mereka. Padahal saat itu, kelas kami
sedang free. Saya begitu mencintai mata
pelajaran Biologi, bukan saja karena kesenangan saya pada pepohonan atau
makhluk-makhluk Tuhan lainnya, tapi lebih besar lagi kecintaan saya pada sang
guru.
Murid
mana yang tak menyenangi guru yang ramah? Guru yang murah senyum? Guru yang tak
pernah membentak? Mereka adalah guru yang selalu dirindukan.
Mereka
itu mampu menggunakan bahasa yang tak semua guru mampu melakukannya. Adakah
bahasa yang mampu mewakilkan keadaan perasaan sayang seseorang terhadap anak
didiknya? Saya kira, ketulusan adalah jawabannya.
Andai
semua guru tau apa yang diinginkan oleh murid-muridnya. Barangkali tak akan ada
lagi kata “jangan ini jangan itu”
Dan
akhirnya saya pun merasakan apa yang dirasakan guru saya dahulu, saat
melontarkan bentakkan lantaran kami sangat ribut padahal sedang dalam kelas.
Saya kebingungan mengatasinya. Ternyata keinginan saya yang sempat terkubur
dulu berbeda dengan keinginan murid jaman sekarang. Malangnya, saya belum
menemukan benang merah diantara keduanya.
Semoga,
saya bisa menemukan alasan perihal apa yang sebenarnya diinginkan oleh
murid-murid saya.
Bima, 10 Juli 2014
Kepada murid-murid tercinta...