Kamis, 10 Juli 2014

Husnudzon

Mengapa kita lebih sering memilih untuk mengkritik sebelum benar-benar mengetahui duduk perkaranya?
Andaikata lidah benar-benar pedang, barangkali tubuh telah rusak menganga, penuh darah, terluka.
Lidah tak bertulang, katanya. Pantas saja sang empunya bebas melipat kanan-kiri. Sangat gampang untuk melahirkan kata-kata. Sulbi kewarasan sepertinya belakangan, yang penting emosi reda sudah.
Mengapa tak bertanya dulu?
Husnudzhon barangkali telah lupa kita ingat. Hilang dari daftar kata-kata. Ya, seharusnya kita bisa mendahulukan berbaik sangka pada saudara.
Bukankah, di dunia ini, berbaik cara pun orang bisa salah paham? Apatah lagi jika caranya tidak baik....
Juga, bukankah membuka aib saudara di hadapan orang lain meski itu bertujuan baik, akan sangat tidak baik? Kita telah membuka bangkai saat bangkai itu seharusnya dikubur rapat-rapat.
Entah, telah berapa bilangan waktu yang kita habiskan hanya untuk sekedar mengumpat lawan, mencari sisi lemah lalu menutup mata dengan kelebihannya.

Semoga, kian bertambah umur kita di hari yang telah tanggal, bertambah pulalah perbendaharaan sikap. Setiap apa yang terlahir dari lidah yang tak bertulang, akan diganjar serupa itu pula.

9 Juli 2014
-Dalam pesta yang begitu panas-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar