Mengapa
kita lebih sering memilih untuk mengkritik sebelum benar-benar mengetahui duduk
perkaranya?
Andaikata
lidah benar-benar pedang, barangkali tubuh telah rusak menganga, penuh darah,
terluka.
Lidah
tak bertulang, katanya. Pantas saja sang empunya bebas melipat kanan-kiri.
Sangat gampang untuk melahirkan kata-kata. Sulbi kewarasan sepertinya
belakangan, yang penting emosi reda sudah.
Mengapa
tak bertanya dulu?
Husnudzhon
barangkali telah lupa kita ingat. Hilang dari daftar kata-kata. Ya, seharusnya
kita bisa mendahulukan berbaik sangka pada saudara.
Bukankah,
di dunia ini, berbaik cara pun orang bisa salah paham? Apatah lagi jika caranya
tidak baik....
Juga,
bukankah membuka aib saudara di hadapan orang lain meski itu bertujuan baik,
akan sangat tidak baik? Kita telah membuka bangkai saat bangkai itu seharusnya
dikubur rapat-rapat.
Entah,
telah berapa bilangan waktu yang kita habiskan hanya untuk sekedar mengumpat
lawan, mencari sisi lemah lalu menutup mata dengan kelebihannya.
Semoga,
kian bertambah umur kita di hari yang telah tanggal, bertambah pulalah
perbendaharaan sikap. Setiap apa yang terlahir dari lidah yang tak bertulang,
akan diganjar serupa itu pula.
9 Juli 2014
-Dalam pesta yang begitu panas-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar