Selasa, 29 Juli 2014

1 L Of Tears



Pagi-pagi sekali, Palestine. Kembang api sudah menyulut kabut di depan bukit dari tangan-tangan bocah ingusan yang membakar petasan. Bukankah hal itu aneh? Api takkan pernah muncul dari kabut yang hanya berisi uap air. Mereka senang menyaksikan semburan api dan suara gelegar petasan. Anak-anak ini polos sekali, bahkan tak pernah mampu menyadari, di belahan dunia lain, ada bocah-bocah seperti mereka yang teraniaya oleh semburan kembang api. 

Jendela kayu tua Aku buka dan di depan mataku, desa kecil ini telah dihampiri Ramadhan yang telah tiba di ujung perjalanannya.

Sore menjelang malam..

Malam ini malam lebaran. Dunia tahu itu.
Di kotaku, tempat segala macam rupa telah dilahirkan dari rahim yang basah, pemuda-pemuda setengah tiang berdandan manis lagi rapi. Termasuk Aku. Begitulah kami menyambut lebaran, malamnya selalu diisi dengan pesta dan pesta.

Tepat di tepi lautan ini, setidaknya puluhan orang memadatinya. Atau malah lebih dari jumlah yang aku prediksi. Semuanya bergembira. Aku juga.

Adakah kau ikut bergembira?

Di reruntuhan bangunan-bangunan yang telah porak-poranda, di antara kembang api yang pecah dari rudal di angkasa, juga pohon-pohon yang tumbang.
Nestapa macam apa yang ingin disaksikan ummat dunia dari senyummu yang telah kelu?
Lalu pemuda-pemudamu berubah menjadi tentara Tuhan.
Sementara pemuda di kampungku, justru kebingungan menghabiskan waktu kosong mereka.

Di sela-sela gema takbir, jutaan bahkan ribuan titik-titik air mata membasahi gundukan pipi dan bibir. Inilah duka yang dipertontonkan secara gratis. Kau sebagai pemerannya, Israel dan sekutu-sekutunya sebagai suteradaranya. Dan Aku,  penonton paling manis yang hanya mampu memamer geligi sembari bergidik gemas dan tak tahu haris berbuat apa.

Di doa-doaku yang kering, Aku titip keselamatan bagi bocah-bocahmu. Jaga Ia, Palestine...

Insomnia melahirkan sebuah catatan...
Penghujung Ramadhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar