Pagi-pagi sekali, Palestine. Kembang api
sudah menyulut kabut di depan bukit dari tangan-tangan bocah ingusan yang
membakar petasan. Bukankah hal itu aneh? Api takkan pernah muncul dari kabut
yang hanya berisi uap air. Mereka senang menyaksikan semburan api dan suara
gelegar petasan. Anak-anak ini polos sekali, bahkan tak pernah mampu menyadari,
di belahan dunia lain, ada bocah-bocah seperti mereka yang teraniaya oleh
semburan kembang api.
Jendela kayu tua Aku buka dan di
depan mataku, desa kecil ini telah dihampiri Ramadhan yang telah tiba di ujung
perjalanannya.
Sore
menjelang malam..
Malam ini malam lebaran. Dunia tahu
itu.
Di kotaku, tempat segala macam rupa
telah dilahirkan dari rahim yang basah, pemuda-pemuda setengah tiang berdandan
manis lagi rapi. Termasuk Aku. Begitulah kami menyambut lebaran, malamnya
selalu diisi dengan pesta dan pesta.
Tepat di tepi lautan ini, setidaknya
puluhan orang memadatinya. Atau malah lebih dari jumlah yang aku prediksi. Semuanya
bergembira. Aku juga.
Adakah kau ikut bergembira?
Di reruntuhan bangunan-bangunan yang
telah porak-poranda, di antara kembang api yang pecah dari rudal di angkasa, juga
pohon-pohon yang tumbang.
Nestapa macam apa yang ingin
disaksikan ummat dunia dari senyummu yang telah kelu?
Lalu pemuda-pemudamu berubah menjadi
tentara Tuhan.
Sementara pemuda di kampungku, justru
kebingungan menghabiskan waktu kosong mereka.
Di sela-sela gema takbir, jutaan
bahkan ribuan titik-titik air mata membasahi gundukan pipi dan bibir. Inilah duka
yang dipertontonkan secara gratis. Kau sebagai pemerannya, Israel dan
sekutu-sekutunya sebagai suteradaranya. Dan Aku, penonton paling manis yang hanya mampu memamer
geligi sembari bergidik gemas dan tak tahu haris berbuat apa.
Di doa-doaku yang kering, Aku titip
keselamatan bagi bocah-bocahmu. Jaga Ia, Palestine...
Insomnia melahirkan sebuah catatan...
Penghujung Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar