Senin, 09 Juni 2014

Permen Ajaib




Saya sedang tak nafsu makan. Berhari-hari. Giliran saat ingin tidur, perut ternyata tak bisa diajak kompromi. Makin ribut saja, keroncongan. Apa boleh buat, saya akhirnya harus bangun dalam kondisi mengenaskan. Badan terasa lemas akibat tak ada energi, sekaligus mata meraung-raung meminta untuk segera dikatupkan. Ini adalah hal paling dilema, memilih satu aktifitas dari dua aktifitas penting, tidur atau makan?

Kemalasan ini sudah sering kali, bukan sekali, dua kali, atau tiga kali. Kadang, saya membayangkan, suatu hari kelak ada seorang nutrisionis yang berhasil menciptakan suplemen. Bukan hanya sekedar pelengkap gizi, tapi dia adalah inti dari segala kebutuhan tubuh akan nutrisi. 4 sehat 5 sempurna, ditambah fitokimia, ada semua di dalamnya. Saya ingin suplemen tersebut berbentuk seperti permen karet. Segiempat, bundar, lope-lope, atau bentuk buah, ah...atau bentuk lucu lainnya. Ini akan berperan penting dalam memberikan rangsangan nafsu untuk memakannya. Warnanya didesain seperti warna-warna buah. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, warna pelangi. Pasti mengasyikkan. Oh, yang penting lagi, seperti halnya permen karet, saya ingin suplemen tersebut kenyal seperti permen Yupi, enak dikunyah sekaligus penting untuk melatih otot-otot rahang agar tidak kaku, dan yang tak kalah penting, suplemen tersebut memiliki kemampuan melindungi sel-sel lambung agar tidak mudah teriritasi akibat tak ada makanan yang akan diproses yang menyebabkan lambung akhirnya merusak dirinya sendri. 

Sediaannya bisa diatur seperti obat. Ada yang sediaan seporsi atau sepiring nasi penuh, ada yang dua piring nasi penuh. Sehingga, bagi orang-orang kurus seperti saya akan sangat mudah untuk melakukan diet makanan. Saya cukup mengkonsumsi beberapa butir suplemen untuk memenuhi kebutuhan kalori saya perharinya. Ah, betapa menyenangkannya!

Bagi yang ingin membuat tubuhnya langsing singset, cukup mengkonsumsi setengah dari ukuran normal. Sungguh suplemen ajaib. Jika saya dalam kondisi mengantuk berat sekaligus lupa untuk makan, saya cukup mengunyah suplemen tersebut sambil tiduran di kasur. Duh, betapa nyamannya.

Saat bepergian dan saya lupa untuk sarapan, saya tinggal membawa sebiji atau dua biji suplemen di dalam tas kemudian saya akan mengunyahnya sambil duduk diatas angkot sembari membaca buku. Saat banyak pasien yang harus dirujuk dan waktunya bertepatan dengan makan siang, saya tinggal mengantongi sebiji suplemen tersebut. Lalu saya mengunyahnya sambil mengecek keadaan pasien saya. Sungguh menghemat waktu untuk menghabiskan sepiring nasi sekaligus menghemat tenaga untuk menyendoknya.

Saat saya bersemedi di pantai bersama Pram, saya tak perlu membawa cemilan kecil. Cukup mengantongi sebiji saja, saya sudah kenyang. Wah, luar biasa!

Bukan tidak mungkin bila suplemen tersebut bisa diproduksi. GNT Fiber mampu mengekstrak ½ kg sayuran dalam satu bungkusan sachset. Berarti kedepannya, nasi, ikan, serta sayuran dan buah-buahan juga susu bisa dipadukan kemudian dibentuk menjadi sebiji  permen. Pasti menyenangkan.

Tetapi keanehan justru muncul saat saya mulai berpikir hari berikutnya. sungguh di dunia ini tak ada satu pun makanan yang mengandung seluruh unsur gizi yang dibutuhkan tubuh. Itulah alasannya mengapa kita dianjurkan untuk memakan berbagai jenis makanan. Kehebatan Tuhan terbukti lagi pada apa yang telah diciptakan_Nya, Allah menciptakan begitu banyak jenis makanan agar manusia tidak bosan dengan makanan yang itu-itu saja. 

Ya, barangkali permen ajaib yang hanya ada di dunia fantasi saya sendiri kurang baik untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi.

Bima, Dalam keadaan benar-benar lapar namun terus saja menunda-nunda makan.

Selasa, 03 Juni 2014

Piatu




Laki-laki kecil itu menatapku lekat-lekat lepas sang nenek menancapkan segala apa yang dimiliki dari tubuhnya ke atas kursi penumpang angkot yang masih tersisa setengah saja. Dipangkunya laki-laki itu. Sebuah topi berwarna biru melingkari kepalanya, bajunya selengan atas, celananya pendek hingga memerlihatkan betisnya yang montok. Lucu sekali. Kulitnya putih halus. Kutaksir lelaki ini tentu sangat disayangi oleh wanita itu.
Kembali ia menatapku.
Ada apa nak?
Apa aku ini aneh di matamu?

Sukurlah Allah menciptakan saluran yang bersambung dari mata ke hidung. Cukup untuk menumpahkan airmata yang sedari tadi menggenang dan sama sekali tak mampu kusembunyikan. Kubuang mukaku ke arah mata angin. Barat, timur. Tak jelas menetap ke arah mana. Sengaja, hanya untuk membuang muka. Aku berpura-pura menguap agar terkesan aku tidak sedang menangis, lalu kututupkan mukaku dengan masker. Kalimat sang nenek lelaki 1 tahun itulah yang membuatku menjadi seperti ini.
“anak ini mengira kau ibunya”
Pelan-pelan Senyum terbit dari kedua kemut pipiku. Namun kalimat berikutnya membuatku lebih kaku.
“ibunya telah meninggal seminggu yang lalu, persis seperti kamu nak. Mungkin anak ini mengira kau ibunya.
Aku tertegun. Beku. Lepas itu aku tak mampu lagi menahan badai yang tiba-tiba saja datang mengepung mata. Ah, anak sekecil ini.

Matanya bulat penuh, tepat di tengahnya sesuatu mengilap. Pupil yang tengah mengecil akibat pancaran cahaya matahari mengenainya.
Kubalas tatapannya. Ia masih melekatkan matanya pada seluruh jilbabku. Ada redup rindu di sana. Meski aku tak kecil lagi, pengalaman membesarkan keponakan-keponakan membuatku sedikit banyak mampu membaca arti tatapan seorang anak pada ibunya. Tatapan rindu. Tatapan itulah yang selalu kudapati saat Hisyamku menjumpai ibunya yang baru saja kembali setelah seharian bekerja.

Duhai, malang nian. Untung saja nenekmu masih berbak hati menggendongmu, sayang. Jika tidak, barangkali kau hanya mampu merasakan wangi tubuh dari manusia sejenismu saja, ayahmu. 

Sudahkah kau disapih, sayang?
Atau liang lahat telah lebih dulu mendobrak batas.
Atau jangan-jangan kau masih ingin berlama-lama menggelantung di dada ibumu?
Ah, anak piatu yang tampan.

Selembar uang berominal Rp 5000,00 diberikan oleh seorang wanita yang tak muda lagi yang duduk persis di depan laki-laki piatu dan neneknya. Uang itu ia ambil lalu dimainkannya. Ditatapnya serius. Barangkali ia menganggap bahw uang tak lebih dari sebuah mainan. Bukankah anak sekecil itu tak pernah tahu makna uang walaupun nominal yang jauh lebih besar diberikan lagi? Anak sekecil itu cuma tahu susu, kan?

Cepatlah besar, sayang. Banyaklah berdoa untuk bundamu. Semoga jerih payahnya membesarkanmu terbalas sempurna.

“Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kaum kerabat serta anak-anak yatim dan orang-orang miskin.” (QS Al Baqoroh, 2:83)



 
Dalam sebuah angkot, lepas benar-benar menyadari, ada banyak anak-anak yang merindukan pelukan seorang ibu, 1 Juni 2014


Senin, 02 Juni 2014

Setengah Merah Saga


26 Mei 2014
Mama dan aku tiba tepat di depan ruangan OK, sebuah ruangan tindakan operasi. Duh Mun, akhirnya aku berada juga pada titik ini. Sebuah titik di mana aku harus menyaksikan sekaligus menyadari sesadar-sadarnya aku tengah menjadi keluarga  dari seorang pasien yang sedang dalam masa pasca operasi. Aku juga kau, tahu bukan, bahwa operasi caesar adalah jalan yang harus ditempuh untuk melahirkan seorang anak manusia jika memang dalam proses kelahiran normal ditemukan kendala yang cukup berarti?! Kita berdua tahu keadaan lemah pasca operasi adalah hal yang sangat wajar apalagi jika ia mendapat biusan/anastesi umum yang membuat kesadaran lumpuh untuk beberapa waktu. Kita juga tahu keadaan pasien tak perlu cukup dikhawatirkan jika tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu dalam rentang normal. Tapi entah mengapa aku begitu sesak menyaksikanmu seperti ini, tubuh yang terbujur lemas tak berbaju. Hanya selembar sarung panjang yang menutupi badan.  Handuk dari bibi Runis kututupkan di kepalamu. Tenang saja, ini bukan keadaan darurat yang membuatmu harus menelanjangi kepala, itu aurat. Ada kami disini. Itu sudah cukup membuatmu tak perlu khawatir. Keluarga adalah rumah untuk kembali pulang, Mun. Sebab tak ada orang-orang di dunia ini yang mencintai kita dengan segenap tulus kecuali keluarga, juga orang-orang yang terpaut hatinya atas nama Tuhan.

Tiga jam. Dokter bilang kau akan sadar dalam waktu tiga jam mendatang. Aku akan menunggu Mun, sampai kau sadar. Waktu  berdenting pelan menyusuri selasar luar ruangan. Ada pasien-pasien lain yang ternyata mengalami hal yang sama denganmu di ruang perawatan ini. Tapi lihatlah, tak ada yang penjenguknya sebanyak dirimu. Meski sebenarnya aku sangat paham bahwa pasien pasca operasi tak boleh dikerubung massal oleh manusia. Tapi kami benar-benar khawatir. Sungguh, melihatmu menutup mata sejenak membuat dada sesak saja.

Waktu itu datang, matamu perlahan-lahan kau buka. Aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah adegan sinetron saja. Cepat-cepat matamu kau tutup kembali. Tingkat kesadaranmu perlahan-lahan meningkat. Kau memulai kata, sesuku saja.
“Mi...”
Aku mencoba menebak-nebak. Mungkin kau sedang berusaha memanggil namaku. Bukankah hanya aku manusia yang pertama kali kau lihat saat matamu mulai kau buka?
“Mi...”
“iya Mun, ini aku. Ingat Tuhan Mun”
Ia katupkan matanya perlahan-lahan. Lalu kembali mengulang kata namun lebih jelas lagi.
“Emy..
“Emy...”
Lalu bibir, hidung, juga pipi merah seketika. Hei, kau mengangis.
“Emy, bune nifiku mori mbali” (seperti mimpi saja bisa hidup kembali)
Kemudian aku dingin. Tak berani berkata apa-apa.

“maaf mata, tahan lelehanmu sepersekian jam dulu. Aku malu jika harus tangisan tumpah ruah di kamar ini. Nanti, di luar. Tolong.”

Sepertinya air mata menendang-nendang kelopak mata. Aku tak ingin bersedih dengan keadaanmu, sebab menurutku mengasihani secara berlebihan hingga meraung-raung juga bukan pilihan yang bijaksana, itu akan semakin membuat lemah. Jadi kutahan saja. Meski kenyataanya, beberapa tetes airmata sukses  mendobrak pertahanan pelupuk mata dan menjatuhkan dirinya di atas pipi. Basah sudah, dan mata memerah setegah merah saga.

Lalu, tiba-tiba masa seperti mengulang sesuatu yang pernah aku jalani dulu. Kau tahu, aku tak pernah bersimpati berlebihan pada pasien-pasienku, karena kami perawat menganggap bahwa hal demikian sangat penting untuk tetap menjaga rasionalitas. Bukankah sakit itu sangat subjektif? Orang-orang menafsirkan sakit dengan berbeda-beda, maka aku tak pernah menitikkan air mata.
“Emy, ana nahu” (Anakku bagaimana?)
“Dia sehat Mun, laki-laki. Beratnya 3kg”

Tetiba saja aku menjadi orang udik yang tak mengerti apa-apa tentang rumah sakit juga segala tetek bengeknya, aku lupa tentang teknik aseptik, aku lupa teknik membedong bayi, aku lupa...aku lupa. Aku bergejolak melihat seorang bayi mungil berbaju warna biru kesukaanku digendong oleh seorang bidan dan menghampirimu, sepertinya dia, yah,,,dia. Manusia yang ingin melihat dunia lewat jendela. Tak melewati pintu yang seharusnya.

Ah, kukecup saja. Maaf beb, aku tak pernah tahan melihat manusia mungil seperti ini. Mereka membawa wangi surga bersamanya. Kukecup lagi. Aku lupa diri, aku sedang flu. Maafkan.


Detik-detik menjelang aqiqahan Muhammad Uwais Alfaruq, selamat datang di dunia, sayang. 
Bima, 1 Juni 2014