Jumat, 11 Juli 2014

Pusara (n) Rindu




-Kepada yang tak akan terlupakan, tempat segala rahim bermula 


Sebelum waktuku benar-benar penuh
Penuh seluruh kutinggalkan jejak-jejak kecil di sini
Di pusara ini

Telah aku usahakan segalanya
Inilah aku yang sudah kau lahirkan dari rahim rumahmu
manusia kerdil yang lebih sering kau anggap sombong ketimbang membahagiakanmu
Dan kita tinggal sedepa langkah saja
Lalu  badan ini tak akan kembali pulang ke rahimmu

Rumah dan halaman kita
Aku harap rindang
Aku tahu, pohonku telah tercabut
Tenang saja,
Pusaran rinduku tetap bermuara di pusaramu

_Emy Gufarni_
7 Juli 2014

Kamis, 10 Juli 2014

Husnudzon

Mengapa kita lebih sering memilih untuk mengkritik sebelum benar-benar mengetahui duduk perkaranya?
Andaikata lidah benar-benar pedang, barangkali tubuh telah rusak menganga, penuh darah, terluka.
Lidah tak bertulang, katanya. Pantas saja sang empunya bebas melipat kanan-kiri. Sangat gampang untuk melahirkan kata-kata. Sulbi kewarasan sepertinya belakangan, yang penting emosi reda sudah.
Mengapa tak bertanya dulu?
Husnudzhon barangkali telah lupa kita ingat. Hilang dari daftar kata-kata. Ya, seharusnya kita bisa mendahulukan berbaik sangka pada saudara.
Bukankah, di dunia ini, berbaik cara pun orang bisa salah paham? Apatah lagi jika caranya tidak baik....
Juga, bukankah membuka aib saudara di hadapan orang lain meski itu bertujuan baik, akan sangat tidak baik? Kita telah membuka bangkai saat bangkai itu seharusnya dikubur rapat-rapat.
Entah, telah berapa bilangan waktu yang kita habiskan hanya untuk sekedar mengumpat lawan, mencari sisi lemah lalu menutup mata dengan kelebihannya.

Semoga, kian bertambah umur kita di hari yang telah tanggal, bertambah pulalah perbendaharaan sikap. Setiap apa yang terlahir dari lidah yang tak bertulang, akan diganjar serupa itu pula.

9 Juli 2014
-Dalam pesta yang begitu panas-

Jumat, 04 Juli 2014

Selamat!


Selamat!
Telah datang juga waktu dimana hari telah luruh dari tanggalnya
Sepersekian jatah umur telah berkurang
Dan uban akan segera bersarang
Sementara tak ada kebaikan bertambah
Adakah tahun-tahun yang selalu kau rayakan berulang?

Dalam senyap sore hari,
 selamat Em! Jatah hidup berkurang

13 Juni 2013
tulisan ini terlahir saat saya mulai sadar, saya semakin tua. Juga, tulisan ini, saya persembahkan untuk seseorang yang akan mengulangi waktu lahirnya, 25 Juli nanti.

Selasa, 01 Juli 2014

Senyum yang Tertinggal




Masih tertinggal senyum di helai-helai kamboja
Sejak kita terdampar menahan malu, lalu tersudutkan
Kota kita telah berubah, Tuan...
Meski matahari yang kau lihat kemarin
adalah matahari yang sama saat aku lihat dahulu
halaman tempat tinggal kita hanyalah riak-riak pantai yang semakin menghilang
juga, kau pun menghilang

kau telah datang, Tuan?
Kemarilah di sudut-sudut kota kita
Kau endus saja rindu-rindu yang kering
Bukankah mencintai berarti menghadiahkan diri yang utuh?

Mungkin,
Kita masih membutuhkan musim untuk perlu duduk bersama

Bima, 1 Juli 2014