Rabu, 28 Januari 2015

Sebelum Waktu Itu Tiba...

Hal yang paling lucu adalah ketika saya menangis tersedu-sedu karena tak jadi menikah dengan seseorang sebelum saya bertemu dengan kekasih saya kini. Apa hak saya menangisinya begitu rupa? Tak ada. Kecuali kebodohan saya. Kebodohan akan pengenalan “takdir” Allah. Seseorang tak akan pernah menikah dengan yang bukan jodohnya. Manusia dilahirkan dengan segala takdir yang telah menempel pada kromosom-kromosomnya, terendap pada gen-genya. Jadi, apa yang bukan takdir kita, takakan pernah dimudahkan untuk kita. Percayalah.

Penolakan pada hal yang diinginkan memang kerap kali kita artikan sebagai sebuah kegagalan. Padahal tak selamanya demikian. Jodoh  misalnya. Pacaran bertahun-tahun, dan pada akhirnya menikah juga dengan orang lain. Lalu apa yang salah? Bukankah berpacaran juga sering kita anggap sebagai langkah awal untuk pengenalan kepada pasangan yang terlanjur kita aggap sebagai jodoh kita? Mungkin benar, tapi menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berpacaran dan menikung dengan ketentuan Allah, itulah letak kesalahannya.

Sepenuh cinta, saya dedikasikan tulisan ini untuk orang-orang yang dengan teguh bertahan untuk tidak memulai hal baik dengan sesuatu yang buruk


Bima, Januari 2015


Selasa, 28 Oktober 2014

Tak Cukup Hanya Cinta



Jika Anda menyukai seseorang, lantas dengan beberapa pertimbangan Anda menganggap bahwa Ia cukup layak menjadi ibu dari anak-anak Anda, datangi orang tuanya, segera. Sampaikan maksud baik Anda, sampaikan padanya. Sebab menunggu, berarti memberi kesempatan kepada orang lain untup menikung lebih dulu jalan yang sedang Anda tempuh.

Bergegaslah memperbaiki diri Anda sebelum Anda ingin menuntun perjalanan ibu dari anak-anak Anda. Watak pemimpin telah tumbuh subur pada diri tiap-tiap laki-laki yang telah dilahirkan ke dunia. Dengan watak tersebut kerap kali laki-laki memiliki keinginan untuk menjadi penuntun bagi istrinya kelak. Lalu, dengan alasan demikian, sudah cukup layakkah Anda menjadi seorang penuntun? Setidaknya, Anda cukup lebih bijaksana.

Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kapan kita bisa meraihnya jika kita tak mengambilnya dari tangan Tuhan? Menunggu Tuhan memberikannya kepada kita?

Tuhan tak akan pernah mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubahnya sendiri. Kalimat tersebut terpatri dalam kitab suci abadi. Setidaknya, ini adalah alasan saya untuk melegitimasi tindakan “siapa cepat dia dapat”. Tapi tentu saja, tindakan tersebut harus dibarengi dengan kesiapan moril dan materil. Apa pun alasan kita, menikah tak cukup hanya cinta.

Bima, Oktober 2014

Sabtu, 18 Oktober 2014

Geisha dan Cerita Tentang Anak Didik



Saya heboh sendiri, umpama seorang penghibur alias Geisha yang sedang sibuk sendiri. Sedang  mereka....

mereka memang tak pernah mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang saya bicarakan. Saya belum mampu memetakan pikiran saya pada mereka sesuai dengan tingkat kemampuan mereka menerima pelajaran. Salah satu penyebabnya, ketidak adaan buku. Setiap kali pertemuan, anak-anak saya hanya menunggu saya menjelaskannya saja. Membuka internet tidak, membuka buku juga tidak. Lalu, bagaimana caranya agar kami memiliki kesamaan pandangan tentang apa yang sedang dipelajari?

Saya pun harus kembali ke masa dulu. Pola pikir masyarakat cenderung menganggap buku itu tidak penting. Bisa di dapatkan di perpustakaan sekolah saja jika mau. Tapi, masalahnya adalah tidak semua murid suka membaca buku. Dan inilah letak kesulitan saya. Saya heboh sendiri berbicara tentang sisitem pernapasan, sedang mereka...hanya menghayal dalam pikiran yang terbatas. Jarang membaca membuat mereka harus takluk sendiri.

Saya mengajari mereka menghayal. Salahkah? Seandainya , rongga badan saya bisa dibuka untuk akhirnya dilihat oleh mereka. Saya sedih, manakala melihat mereka mulai membohongi diri mereka sendiri. Mereka mengangguk mengerti, tapi saat saya bertanya mereka hanya membalas dengan senyuman. Jika pun ada yang menjawab, hanya segelintir orang saja. Saya sedih, menyaksikan betapa saya ini masih kurang belajar. Saya berada pada titik kebingungan. Bagaimana caranya agar mereka paham apa yang sedang saya bicarakan?

Jauh lebih penting lagi, mereka bisa tahu, bahwa apa yang sedang saya jelaskan sekarang adalah gambaran besar apa yang sedang terjadi dalam tubuh mereka. Itu hal yang jauh lebih penting dari sebuah angka. Saya berharap, seiring bertambahnya pengetahuan mereka, kami bisa saling menasehati untuk terus bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baik bentuk.

Kesalahan terbesar lainnya adalah, mencoba menjadi seorang pendidik padahal saya berlatar belakang nonpendidikan. Memang, saya dilahirkan dari keluarga guru, tapi kemampuan untuk menjadi seorang pengajar tidak bisa diwariskan turun temurun. Ia hanya bisa didapatkan dari proses belajar.

Jika sudah begini, rasa-rasannya ingin memutar kembali waktu, hingga saya sampai pada masa-masa sewaktu duduk di bangku SMA. Saya ingin merasakan bagaimana murid mampu memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak saya dari guru mereka?

Saya akhirnya sadar, bukanlah perkara mudah membuat anak didik paham dengan apa yang sedang kita pahami. Saya seolah-olah ingin menyamakan kepala saya dengan mereka. Itu tidak mungkin. Mengapa? Karena saya lebih dulu dilahirkan dari pada mereka. 

Perkara cepat lambatnya kelahiran itu sebenarnya mengandung hakekat yang cukup rumit dijelaskan. Tetapi bukan tidak mungkin. Seseorang yang lebih dulu dilahirkan berarti memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengecapi banyak hal lebih dulu dari mereka yang dilahirkan sedikit lebih lambat. Tapi itu bukan alasan, kemajuan teknologi telah merubah paradigma seperti itu. Internet membuat dunia ini sudah tak memiliki batasan lagi.

Saya tidak pernah sepakat dengan pernyataan “anak-anak sekarang tidak sepintar pendahulu-pendahulunya”. Menurut saya itu apologi atas ketidak berdayaan pendidik memetakan pikirannya kepada murid-murid. Saya masih memegang teguh bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Masing-masing anak memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Bahkan lebih dari itu, masing-masing anak memiliki keistimewaan. Dan tugas para pendidik adalah menemukan potensi itu.

Oh, pantas saja Allah begitu mengangungkan para guru. Karena pekerjaan menjadi seorang pendidik luar biasa berat.

Oktober, 2014

Jumat, 17 Oktober 2014

Kita Terlalu Pandai Merasa



Kita ini terkadang terlalu pandai merasa
Pandai merasa bahwa kitalah yang paling…
Benar bukan???
Kemarin, saat aku membuka akun facebook, aku mendapati para muslimah saling mengatakan diri mereka benar.
Aku hanya tersenyum kecut, sembari beristigfar banyak-banyak. Tuhan sedang mempertontonkan sebuah drama yang dulu pernah aku perankan.
Dulu, aku selalu merasa bahwa dirikulah yang benar,
Tapi tidak sekarang….
Seseorang menegurku dengan suara lantang dan keras, perihal hal-hal buruk yang aku sembunyikan.
Benar, acapkali kita  merasa paling benar.
Atau kita lupa?
Allah jauh lebih benar

Oktober, 2014