Sabtu, 18 Oktober 2014

Geisha dan Cerita Tentang Anak Didik



Saya heboh sendiri, umpama seorang penghibur alias Geisha yang sedang sibuk sendiri. Sedang  mereka....

mereka memang tak pernah mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang saya bicarakan. Saya belum mampu memetakan pikiran saya pada mereka sesuai dengan tingkat kemampuan mereka menerima pelajaran. Salah satu penyebabnya, ketidak adaan buku. Setiap kali pertemuan, anak-anak saya hanya menunggu saya menjelaskannya saja. Membuka internet tidak, membuka buku juga tidak. Lalu, bagaimana caranya agar kami memiliki kesamaan pandangan tentang apa yang sedang dipelajari?

Saya pun harus kembali ke masa dulu. Pola pikir masyarakat cenderung menganggap buku itu tidak penting. Bisa di dapatkan di perpustakaan sekolah saja jika mau. Tapi, masalahnya adalah tidak semua murid suka membaca buku. Dan inilah letak kesulitan saya. Saya heboh sendiri berbicara tentang sisitem pernapasan, sedang mereka...hanya menghayal dalam pikiran yang terbatas. Jarang membaca membuat mereka harus takluk sendiri.

Saya mengajari mereka menghayal. Salahkah? Seandainya , rongga badan saya bisa dibuka untuk akhirnya dilihat oleh mereka. Saya sedih, manakala melihat mereka mulai membohongi diri mereka sendiri. Mereka mengangguk mengerti, tapi saat saya bertanya mereka hanya membalas dengan senyuman. Jika pun ada yang menjawab, hanya segelintir orang saja. Saya sedih, menyaksikan betapa saya ini masih kurang belajar. Saya berada pada titik kebingungan. Bagaimana caranya agar mereka paham apa yang sedang saya bicarakan?

Jauh lebih penting lagi, mereka bisa tahu, bahwa apa yang sedang saya jelaskan sekarang adalah gambaran besar apa yang sedang terjadi dalam tubuh mereka. Itu hal yang jauh lebih penting dari sebuah angka. Saya berharap, seiring bertambahnya pengetahuan mereka, kami bisa saling menasehati untuk terus bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baik bentuk.

Kesalahan terbesar lainnya adalah, mencoba menjadi seorang pendidik padahal saya berlatar belakang nonpendidikan. Memang, saya dilahirkan dari keluarga guru, tapi kemampuan untuk menjadi seorang pengajar tidak bisa diwariskan turun temurun. Ia hanya bisa didapatkan dari proses belajar.

Jika sudah begini, rasa-rasannya ingin memutar kembali waktu, hingga saya sampai pada masa-masa sewaktu duduk di bangku SMA. Saya ingin merasakan bagaimana murid mampu memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak saya dari guru mereka?

Saya akhirnya sadar, bukanlah perkara mudah membuat anak didik paham dengan apa yang sedang kita pahami. Saya seolah-olah ingin menyamakan kepala saya dengan mereka. Itu tidak mungkin. Mengapa? Karena saya lebih dulu dilahirkan dari pada mereka. 

Perkara cepat lambatnya kelahiran itu sebenarnya mengandung hakekat yang cukup rumit dijelaskan. Tetapi bukan tidak mungkin. Seseorang yang lebih dulu dilahirkan berarti memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengecapi banyak hal lebih dulu dari mereka yang dilahirkan sedikit lebih lambat. Tapi itu bukan alasan, kemajuan teknologi telah merubah paradigma seperti itu. Internet membuat dunia ini sudah tak memiliki batasan lagi.

Saya tidak pernah sepakat dengan pernyataan “anak-anak sekarang tidak sepintar pendahulu-pendahulunya”. Menurut saya itu apologi atas ketidak berdayaan pendidik memetakan pikirannya kepada murid-murid. Saya masih memegang teguh bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Masing-masing anak memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Bahkan lebih dari itu, masing-masing anak memiliki keistimewaan. Dan tugas para pendidik adalah menemukan potensi itu.

Oh, pantas saja Allah begitu mengangungkan para guru. Karena pekerjaan menjadi seorang pendidik luar biasa berat.

Oktober, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar