Saya heboh sendiri, umpama seorang
penghibur alias Geisha yang sedang sibuk sendiri. Sedang mereka....
mereka
memang tak pernah mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti apa yang
sedang saya bicarakan. Saya belum mampu memetakan pikiran saya pada mereka
sesuai dengan tingkat kemampuan mereka menerima pelajaran. Salah satu
penyebabnya, ketidak adaan buku. Setiap kali pertemuan, anak-anak saya hanya
menunggu saya menjelaskannya saja. Membuka internet tidak, membuka buku juga
tidak. Lalu, bagaimana caranya agar kami memiliki kesamaan pandangan tentang
apa yang sedang dipelajari?
Saya
pun harus kembali ke masa dulu. Pola pikir masyarakat cenderung menganggap buku
itu tidak penting. Bisa di dapatkan di perpustakaan sekolah saja jika mau.
Tapi, masalahnya adalah tidak semua murid suka membaca buku. Dan inilah letak
kesulitan saya. Saya heboh sendiri berbicara tentang sisitem pernapasan, sedang
mereka...hanya menghayal dalam pikiran yang terbatas. Jarang membaca membuat mereka harus takluk sendiri.
Saya
mengajari mereka menghayal. Salahkah? Seandainya , rongga badan saya bisa
dibuka untuk akhirnya dilihat oleh mereka. Saya sedih, manakala melihat mereka
mulai membohongi diri mereka sendiri. Mereka mengangguk mengerti, tapi saat
saya bertanya mereka hanya membalas dengan senyuman. Jika pun ada yang
menjawab, hanya segelintir orang saja. Saya sedih, menyaksikan betapa saya ini
masih kurang belajar. Saya berada pada titik kebingungan. Bagaimana caranya agar
mereka paham apa yang sedang saya bicarakan?
Jauh lebih penting lagi, mereka
bisa tahu, bahwa apa yang sedang saya jelaskan sekarang adalah gambaran besar
apa yang sedang terjadi dalam tubuh mereka. Itu hal yang jauh lebih penting
dari sebuah angka. Saya berharap, seiring bertambahnya pengetahuan mereka, kami
bisa saling menasehati untuk terus bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan dengan
sebaik-baik bentuk.
Kesalahan
terbesar lainnya adalah, mencoba menjadi seorang pendidik padahal saya berlatar
belakang nonpendidikan. Memang, saya dilahirkan dari keluarga guru, tapi
kemampuan untuk menjadi seorang pengajar tidak bisa diwariskan turun temurun.
Ia hanya bisa didapatkan dari proses belajar.
Jika
sudah begini, rasa-rasannya ingin memutar kembali waktu, hingga saya sampai
pada masa-masa sewaktu duduk di bangku SMA. Saya ingin merasakan bagaimana
murid mampu memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Apa yang sebenarnya
diinginkan oleh anak-anak saya dari guru mereka?
Saya
akhirnya sadar, bukanlah perkara mudah membuat anak didik paham dengan apa yang
sedang kita pahami. Saya seolah-olah ingin menyamakan kepala saya dengan
mereka. Itu tidak mungkin. Mengapa? Karena saya lebih dulu dilahirkan dari pada
mereka.
Perkara cepat lambatnya kelahiran itu sebenarnya mengandung hakekat
yang cukup rumit dijelaskan. Tetapi bukan tidak mungkin. Seseorang yang lebih
dulu dilahirkan berarti memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengecapi
banyak hal lebih dulu dari mereka yang dilahirkan sedikit lebih lambat. Tapi
itu bukan alasan, kemajuan teknologi telah merubah paradigma seperti itu.
Internet membuat dunia ini sudah tak memiliki batasan lagi.
Saya
tidak pernah sepakat dengan pernyataan “anak-anak sekarang tidak sepintar
pendahulu-pendahulunya”. Menurut saya itu apologi atas ketidak berdayaan
pendidik memetakan pikirannya kepada murid-murid. Saya masih memegang teguh
bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Masing-masing
anak memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Bahkan lebih dari itu,
masing-masing anak memiliki keistimewaan. Dan tugas para pendidik adalah
menemukan potensi itu.
Oh, pantas saja Allah begitu
mengangungkan para guru. Karena pekerjaan menjadi seorang pendidik luar biasa
berat.
Oktober, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar