Jumat, 14 Juni 2013

Sepucuk Surat Daun Maple


Hadiah  untuk saya, 
Bukankah saya telah berumur 24 th tepat di tanggal 13 Juni kemarin?
saya mengirimkan tulisan lama saya.
Sebuah refleksi kehidupan, bahwa demikianlah saya...suatu hari, boleh jadi kita bisa mengalaminya.
bacalah saya,
Semoga saya dapati apa yang saya inginkan
***

Kepada Saya yang Saya hormati….
Bismillah….
        Apa kabar  saya?
Semoga tetap dengan keteguhan seperti mula saya datang ke tempat ini.
Siang ini saya ke tetangga sebelah, dan tahukah saya?? Rumah yang saya dan teman saya datangi adalah gubuk reyot berdebu-debu. Farlak lusuh dan dekil penuh daki. Dinding-dinding hanya seng kering berkarat diselingi dengan beberapa papan yang juga sudah bolong dimakan rayap, gubuk ini doyong. Saya masuk beserta teman-teman saya, dan saya dapati seorang nenek berumur 80-an….
sangat tua bukan?
Giginya hitam satu tepat di gigi seri bagian ujung, tetangga taring yang telah lama hengkang tak kembali, sedang geligi yang lain mempunyai nasib yang sama dengan sang geraham dan taring. Rambutnya tertutupi oleh topi-topi aji khas Makassar, tentu saja uban-uban putih itu tak kelihatan. Tapi sinar mata itu….masih menampakkan sinar mata seorang wanita sahaja, polos dengan sifat ketuaannya. Sambil mempersilakan saya dan teman saya masuk, saya memperhatikan sekeliling rumah.
Ah,,, saya….
Betapa saya merinding dengan rumah yang tak layak huni ini. Bagaimana mungkin mereka mau sehat jika keadaannya seperti ini?
Piring-piring ditata di rak piring yang tak indah dipandang lagi. Hanya terdapat dua ruangan, yang hanya dibatasi sekat dari papan tempat tidur yang sepreinya agak bau. Belum lagi bau tanah yang memang hanya berkawan farlak tua yang gambar-gambarnya telah hilang entah ke mana…
Lalu sepintas, sinar mata itu redup, tertutup beningnya air mata yang mulai muncul memenuhi kelopak matanya, sambil bercerita bahwa sang nenek punya banyak anak, tapi “dasar mereka tak tahu diri!!!” isaknya pelan.
Saya tersentak kaget!
Wajah polos itu seperti menyimpan kemarahan besar pada sang buah hati. Mereka meninggalkan sang nenek, berdua dengan suami tercinta yang juga sakit-sakitan.
Seindah cinta daun maple!!!
Indah berguguran, memerah saga dipuncak musim gugur…
Demikanlah saya…gambaran cinta kakek-nenek ini…saling berkasih sayang dan melindungi, hingga mereka tua, tak enak dipandang satu sama lain.
Saya…
Seketika saya merindukan dua sosok nun di seberang sana, yang satu terpisah oleh lautan, dan yang satu terpisah oleh jalanan berkilo-kilo jauhnya. Saya merindukan mereka, tapi mereka sekarang tak bersama saya.
***
Saya,,,
 Saya jadi teringat dengan mimpi saya untuk tetap tinggal di bumi Daeng ini, tapi melihat film kehidupan tersebut, saya mengurungkan niat,
 Saya ingin pulang…
Saya,,,
Saya ingin pulang!!!
Saya ingin berada di rumah saya, kembali membersihkan tiap ruangan rumah beserta halaman, memasakkan orang tua saya, memijat lutut mereka yang kelelahan pulang bekerja…
owh….saya, bukankah ini sebuah keterbalikkan???
Terbalik bukan… saya???!!!
Seharusnya saya yang bekerja, dan mereke istirahat dI rumah sambil menikmati sisa-sisa hidup yang tinggal beberapa saat saja.
Saya, semangati saya agar saya tak kelelahan menyusuri mimpi-mimpi saya
Saya ingin segera pulang!
Saya, bukankah sekarang umur saya hampir beranjak tua???

Oh…
Saya…apakah saya akan seperti mereka???
Sepasang manusia dengan cinta indah
 seindah daun maple di puncak musim gugur
Yang memelihara cinta hingga tua
Cinta yang indah
Berderai-derai….
Menjuntai…
Maros, Tanralili-15 Juni 2011
celotehank.blogspot.com

evinuraisya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar