Rabu, 26 Juni 2013

Malino : Surga Dunia

      Sepenggal mimpi yang terwujud hari ini adalah Malino, sebuah surga nun di pedalam Tinggi Moncong.
Aku beserta beberapa orang temanku tak menyangka bahwa perjalanan kami akan sangat luar biasa.
Ketika sampai pada tanah Malino, arus kesejukan tiba-tiba memelukku sangat erat, aku tersenyum.
Tak kubiarkan pelukan-pelukannya tak membekas dalam setiap denyut nadiku.
     Maka untuk itu, aku mengikuti pola perjalan tanpa terencana.
Aku, tiga orang brother yaitu Yadin, Darman juga Burton, Emiyati, Alin, Suri, Dinda juga Amar.
Kami konvoi dengan sepeda motor.
     Tempat pertama yang kami datangi adalah hutan pinus.
     Tepat di pintu masuk hutan pinus, wewangian sejuk mengepung kami, memberi salam selamat datang.
Kuda-kuda mungil yang hampir lebih mirip keledai ditunggangi anak-anak kecil, ada juga orang dewasa tanggung.
     Kami menyusuri hutan pinus.



     Tempat kedua yang kami datangi adalah gerbang kebun teh. Namun sayang, karena harga tiket masuk yang bernominal besar, kami urung melanjutkan perjalanan ke kebun teh.
Rp 50.000 per kepala dewasa, itu nominal yang cukup besar. Bisa dipakai untuk ongkos angkot dua hari.
***
     Tempat ketiga yang kami datangi adalah air terjun 1000 tangga.
Awalnya aku ragu, karena biasanya masyarakat menggeneralisasi jumlah anak tangga yang banyak menjadi serba 1000 tangga.
Darman berceloteh “kita hitung saja”.
 ***
     Aku dan rombongan memasuki gerbang awal air terjun 1000 tangga.
Mula-mula tangganya hanya seperti tangga biasa saja, tak ada tantangan. Aku hanya mengatakan pada diriku, “masyarakat terlalu pandai menggeneralisasi”.
     Semakin turun, anak tangga perlahan-lahan mulai menampakkan keasliannya, terjal juga licin.
Semakin ke bawah, aku mulai merasakan keanehan, “seharusnya bunyi tempias air terjun sudah terdengar”, yang aku  dengar hanya suara candaan brother-brother lucu ini.
 ***
     Perjalanan hampir sampai satu jam, aku mulai gusar.
“Mungkinkah masyarakat sedang membohongi kami tentang air terjun itu?”
“Benarkah disini tempatnya?”
“Mana bunyi tempias air terjun?”
     Semakin ke bawah, muncullah suara yang aku tunggu-tunggu, awalnya hanya terdengar seperti cipratan air yang tertumpah dari sebuah wadah.
“mungkin air terjunnya kecil” pikirku.
Kami melanjutkan perjalanan.
Teman-teman mulai mengeluh, “kapan sampainya?”
“Sabarlah, sebentar lagi, dengarlah suara air yang mulai terdengar keras”
Aku mulai kelelahan, semua tubuhku gemetar.
Entah apa penyebabnya, mungkin karena harus beradu dengan terjalnya tangga sementara tangga itu sendiri sangat licin.
     Semakin ke bawah, belum nampak ujung sebuah jalan.
Kami keletihan. Beberapa menit kami terdiam tanpa melanjutkan perjalanan.
Mengambil serta mengatur pernapasan sebaik mungkin.
     Tiba-tiba tempias air terdengar sangat nyaring, aku merinding “Tuhan, aku akan sampai”
Semakin turun melewati tangga yang terjal, perlahan-lahan terlihatlah ujung jalan, tanah becek juga dedaunan yang basah oleh tempias air.
“kita sampai!!!!”
Kami bersorak kegirangan.
Kami bertakbir ”Allahu Akbar!!!”
Berkali-kali.
      Takbir itu terpantul pada bebatuan.
Kami takjub menyaksikan pemandangan indah itu.
Yadin dan Darman tidak henti-hentinya bersyukur, Burton pun demikian.
Aku takjub, segenap perasaanku terselubung  perasaan senang.
Perjalan lebih dari satu jam menuruni anak tangga yang terjal dan licin terbayarkan oleh sebuah pemandangan surga.
“Tuhan, surga duniamu ini, bagaimana dengan surga di akhirat? Lebih indahkah Tuhan?”
Berkali-kali aku bersorak, senyuman tak pernah lepas dari bibirku.
      Kami menyeburkan diri pada air yang tergenang diantara bebatuan.
Merasakan sejuknya mata air yang keluar dan tumpah ruah.
Terakhir,
We Called, this is a real adventure!


_Emy Gufarni_
Malino, 23 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar