Sepenggal mimpi yang terwujud hari
ini adalah Malino, sebuah surga nun di pedalam Tinggi Moncong.
Aku beserta beberapa orang temanku
tak menyangka bahwa perjalanan kami akan sangat luar biasa.
Ketika sampai pada tanah Malino,
arus kesejukan tiba-tiba memelukku sangat erat, aku tersenyum.
Tak kubiarkan pelukan-pelukannya
tak membekas dalam setiap denyut nadiku.
Aku, tiga orang brother yaitu
Yadin, Darman juga Burton, Emiyati, Alin, Suri, Dinda juga Amar.
Kami konvoi dengan sepeda motor.
Tempat pertama yang kami datangi
adalah hutan pinus.
Tepat di pintu masuk hutan pinus,
wewangian sejuk mengepung kami, memberi salam selamat datang.
Kuda-kuda mungil yang hampir lebih
mirip keledai ditunggangi anak-anak kecil, ada juga orang dewasa tanggung.
Kami menyusuri hutan pinus.
Tempat kedua yang kami datangi adalah gerbang kebun teh. Namun sayang, karena harga tiket masuk yang bernominal besar, kami urung melanjutkan perjalanan ke kebun teh.
Rp 50.000 per kepala dewasa, itu
nominal yang cukup besar. Bisa dipakai untuk ongkos angkot dua hari.
***
Tempat ketiga yang kami datangi
adalah air terjun 1000 tangga.
Awalnya aku ragu, karena biasanya
masyarakat menggeneralisasi jumlah anak tangga yang banyak menjadi serba 1000
tangga.
Darman berceloteh “kita hitung
saja”.
***
***
Aku dan rombongan memasuki gerbang
awal air terjun 1000 tangga.
Mula-mula tangganya hanya seperti
tangga biasa saja, tak ada tantangan. Aku hanya mengatakan pada diriku,
“masyarakat terlalu pandai menggeneralisasi”.
Semakin turun, anak tangga
perlahan-lahan mulai menampakkan keasliannya, terjal juga licin.
Semakin ke bawah, aku mulai
merasakan keanehan, “seharusnya bunyi tempias air terjun sudah terdengar”, yang
aku dengar hanya suara candaan
brother-brother lucu ini.
***
***
Perjalanan hampir sampai satu jam,
aku mulai gusar.
“Mungkinkah masyarakat sedang
membohongi kami tentang air terjun itu?”
“Benarkah disini tempatnya?”
“Mana bunyi tempias air terjun?”
Semakin ke bawah, muncullah suara
yang aku tunggu-tunggu, awalnya hanya terdengar seperti cipratan air yang tertumpah
dari sebuah wadah.
“mungkin air terjunnya kecil”
pikirku.
Kami melanjutkan perjalanan.
Teman-teman mulai mengeluh, “kapan
sampainya?”
“Sabarlah, sebentar lagi, dengarlah
suara air yang mulai terdengar keras”
Aku mulai kelelahan, semua tubuhku
gemetar.
Entah apa penyebabnya, mungkin
karena harus beradu dengan terjalnya tangga sementara tangga itu sendiri sangat
licin.
Semakin ke bawah, belum nampak ujung
sebuah jalan.
Kami keletihan. Beberapa menit kami
terdiam tanpa melanjutkan perjalanan.
Mengambil serta mengatur pernapasan
sebaik mungkin.
Tiba-tiba tempias air terdengar
sangat nyaring, aku merinding “Tuhan, aku akan sampai”
Semakin turun melewati tangga yang
terjal, perlahan-lahan terlihatlah ujung jalan, tanah becek juga dedaunan yang
basah oleh tempias air.
“kita sampai!!!!”
Kami bersorak kegirangan.
Kami bertakbir ”Allahu Akbar!!!”
Berkali-kali.
Takbir itu terpantul pada bebatuan.
Kami takjub menyaksikan pemandangan
indah itu.
Yadin dan Darman tidak henti-hentinya
bersyukur, Burton pun demikian.
Aku takjub, segenap perasaanku terselubung
perasaan senang.
Perjalan lebih dari satu jam
menuruni anak tangga yang terjal dan licin terbayarkan oleh sebuah pemandangan
surga.
“Tuhan, surga duniamu ini,
bagaimana dengan surga di akhirat? Lebih indahkah Tuhan?”
Berkali-kali aku bersorak, senyuman
tak pernah lepas dari bibirku.
Kami menyeburkan diri pada air yang
tergenang diantara bebatuan.
Merasakan sejuknya mata air yang
keluar dan tumpah ruah.
Terakhir,
_Emy Gufarni_
Malino, 23 Juni 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar