Sabtu, 08 Juni 2013

Beberapa Vektor Penyakit, Armina-Armita dan Ingatan Saya Perihal Alasan Memilih Pondokan ini

Saya terbangun tepat setelah berteriak karena telah “satu tempat tidur” dengan seekor tikus besar atau Rat. Entah darimana tikus besar itu. Tidak mungkin dia adalah makhluk jadi-jadian yang dititip masuk dalam kamar saya. Setelah berteriak_dan malangnya teriakan itu saya rasa seperti sedang bermimpi, tidak ada yang dengar, padahal anak-anak pondokan yang lainnya masih begadang di luar kamar_saya mengecek dimana pintu masuk sang tikus ini. Akhirnya setelah mengelilingi seisi kamar, tahulah saya bahwa di salah satu pojok kamar saya telah menjadi “pintu masuk utama” bagi sang tikus.
Saya mulai duduk, terpaku melihat kondisi kamar saya, beberapa menit terdiam sendiri. Tiba-tiba muncul lagi seekor makhluk kecil berwarna coklat. Seperti halnya tikus, makhluk kecil berwarna coklat ini juga adalah vektor penyakit, mereka adalah agen pembawa aneka kuman  yang menyebabkan kita sakit. Makhluk ini bernama kecoa.
Jika dibayangkan, kamar saya terkadang menjadi kebun binatang ukuran mini, penghuninya adalah kucing, tikus, kecoa, cicak, semut hitam, nyamuk, laba-laba, juga makhluk kecil lainnya yang sayapun tidak tahu namanya.
Kamar ini telah saya tempati sejak bulan Oktober 2012 lalu.
Tipe kamar hampir berukuran 3x3 meter ini adalah seperti tipe kebanyakan kamar pondokan di Workshop Unhas; berdinding seng di bagian depannya, dan sekat pemisah antar kamar adalah selembar tripleks yang dicat dengan cat kayu berwarna biru. Berlangit-langit tripleks dan biasanya kucing dan tikus adalah penghuni tetapnya. Saya tak perlu berpanjang lebar, tipe kamar seperti ini adalah tempat sauna terbaik di musim kemarau,  dan jika hujan, suara manusia akan tenggelam oleh tempias air hujan yang jatuh dari langit setelah beradu dengan seng dari atap rumah. Sedangkan pada peralihan musim, setidaknya kita harus menyiapkan kaos kaki, sarung, sweater atau jaket, atau jika ada, selimut tebal adalah pengganti segalanya. Jika tidak memiliki barang-barang seperti ini, maka ketika subuh hari, dingin umpamanya drakula yang siap menggigit belulang kita.
Berbeda dengan pondokan lama saya, Armina, pondokan saya sekarang, Armita, tidak memiliki halaman yang bisa ditanami tetumbuhan. Ketika menginjakkan kaki tepat di anak tangga terakhir, maka tanah yang kita injak itu adalah jalanan umum. Atau, jika di Armina, pagi adalah saatnya saya menyeruput teh dengan seperempat sendok makan gula pasir, sementara mata  menikmati rerimbunan pohon nipah yang hijau dan subur, telinga kita akan dimanjakan dengan suara sepoi angin yang perlahan membawa terbang aneka kicau burung dari arah rerimbunan nipah, maka di Armita, pagi adalah awal dari suara dentuman music nan keras dari kamar tetangga. Sebenarnya suara musik itu tidak tepat berasal dari tetangga di sebelah kamar, terkadang suara itu datang dari bagian samping pondokan. Suaranya terdengar jelas dari kamar saya. Tidak ada sesi menyeruput teh dengan seperempat sendok makan gula pasir apalagi menikmati rerimbunan nipah dan sepoi angin.
Sungguh, tidak ada alasan saya untuk tidak bersyukur, meski pondokan yang saya tempati sekarang berbeda seperti langit dan bumi dengan pondokan lama saya. Toh masih banyak orang-orang yang tidurnya hanya beralaskan kardus minuman bekas di emperan toko milik orang lain. Setidaknya saya bisa melindungi diri dari kebasahan setelah hujan dan kepanasan saat matahari meninggi di puncak siang.
Jika di pondokan lama, saya nyaris tidak pernah bertemu dengan tikus dalam rumah, maka di pondokan ini tikus adalah penghuni kedua setelah manusia, juga kecoa dan makhluk lainnya.
Saya sengaja memilih pondokan ini, beberapa alasan saya adalah :
Pertama, dulu, sewaktu kak Laras belum bersuami, maka beliau adalah orang yang pertama menjadi alasan saya tinggal di pondok ini. Saya kehilangan figur seorang kakak setelah dua orang kakak saya menikah. Dan kak Laras memenuhi kriterianya. Kak Laras dan kakak pertama saya ibarat pinang dibelah dua. Ketika lebaran tiba, maka beliau akan memasakkan ayam kecap untuk saya yang memilih tidak mudik dan bertahan di pondokan.
Kedua, lepas menghabiskan jatah sekolah di Strata Satu Ilmu Keperawatan, saya sangat berat  meminta uang kepada orang tua. Saya berusaha membanding-bandingkan harga dengan pondokan lain, mencoba mencari celah perbedaan harga. Maka dari hasil survey beberapa pondokan, maka pondokan ini adalah yang paling murah, hanya Rp 1000.000,00/tahun dengan biaya penggunaan listrik (alat elektronik standar) dan air ± Rp30.000,00/bulan. Itu sangat murah sekali. Bahkan sekarang, saya hanya akan meminta tambahan uang bulanan pada orang tua saya, ketika uang dalam dompet saya nihil dan saya makan tanpa lauk alias nasi putih saja. Jika paceklik tiba, maka nilai dari indeks kekreatifan saya meningkat tajam, semangat saya membuat bros seketika membuncah, dan tentu saja selalu saya barengi dengan inovasi baru, menambahakan beberapa variasi dari jenis bros yang biasa saya buat, agar pembeli tidak bosan. Alhamdulillah, hasil penjualan bros  bisa menutupi biaya makan dan ongkos pete-pete atau angkot.
Saya sama sekali tidak berat melakukannya. Jika bagi beberapa orang, hidup seperti ini terkesan menyedihkan, maka bagi saya ini adalah bentuk pembelajaran. Saya dilatih untuk  menjadi orang-orang yang berusaha mandiri,meski pada kenyataannya, berdikari bukanlah hal yang mudah. Sebagian besar ongkos hidup saya masih dibiayai oleh orang tua. Dan luar biasanya adalah, mama saya selalu mengingatkan saya ”nak, jika uang belanjamu hampir habis, segera telpon mama”. Jika saya menggunakan alasan ini, saya tidak perlu repot-repot menjual bros atau yang lainnya. Saya hanya tinggal mengirim sebuah pesan singkat “Ma, kirimkan uang”. Tapi pilihan ini adalah opsi terakhir setelah saya benar-benar tidak mendapatkan hasil dari usaha saya.
Tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Bukankah setiap harinya kita masih bisa bernafas dengan gratis? Karena dibeberapa keadaan, saya menjumpai begitu banyak orang yang harus membayar setiap liter Oksigen yang dihirupnya. Berjalanlah ke tempat lain, dan temukan alasan bahwa fakta bahwa kita memang wajib bersyukur adalah fakta yang tak terrbantahkan. Menengoklah kepada orang-orang dibawah anda, maka pada satu titik, kita akan menemukan, sungguh tak ada alasan kita untuk tidak bersyukur.
Akan selalu ada celah untuk bersyukur, kalimat manis sekaligus menggairahkan yang justru saya temukan di tempat ini. Beda tempat tinggal, berarti kita akan mengecapi berupa-rupa pengalaman hidup. Bukankah pengalaman adalah guru paling mahal yang tidak akan anda temukan dan tidak akan pernah dipajang di etalase toko? Kita hanya perlu sedikit memahamkan pada diri sendiri seandainya sesuatu yang kurang menyenangkan menimpa kita, bahwa begitu banyak "orang-orang besar", justru dihasilkan dari tempaan begitu banyak pengalaman hidup yang pahit.
_Emy Gufarni_
Makassar, 6 Juni 2013, Pukul 01.00
Armina, Lantai dasar

Armina. Gazebo alias tempat duduk-duduk

Armina. Kolam kecil, penghuninya lele yang rakus
Armita, kamar yang ramai tempat berhibernasi

Armita, lorong utama


1 komentar: