Sabtu, 28 September 2013

Sosok Sepi


Sosok itu masih sepi. Berhimpitan dengan banyak kesesakan dan kepenatan. Dia tahu, hari ini akan ada saja hal-hal baru bermunculan umpama Bungur yang perlahan menyembul mengeluarkan pucuk dan memekar ditengah pagi.
Hari yang berganti, baginya selalu baru. Meskipun ritme kerja setiap hari tidak pantas dikatakan berbeda. Sebagian orang setuju bahwa bekerja dengan ritme yang sama dan berulang setiap harinya sangat rentan membuat  bosan. Namun tidak baginya, sedari subuh, dia mulai menguatkan segumpal daging yang berada tepat di bawah rongga dadanya. Diajaknya Ia berbicara “semangatlah, sungguh engkau tak pernah tahu kapan kereta kematian datang menjemputmu. Tuluskan, barangkali hari ini hari terakhirmu, entah...tak ada yang tahu”. Demikian.
Kesepian, sesungguhnya hanya Ia yang rasakan. Atau boleh jadi banyak yang merasakannya. Namun mereka tak sedikit pun berani menghentakkan suara keluar dari tenggorokan. Suara-suara itu bungkam dan hanya mampu menggetarkan plica vokalis, tak pernah terdengar.

Rabu, 18 September 2013

Jika Bertemu kamu

Jika aku bertemu kamu, aku tak ubahnya seperti Helium.
Aku pun tak tahu mengapa demikian
Jika aku bertemu kamu, aku laiknya mercon di malam lebaran kemarin
Meluncur, terhempas pecah di cakrawala
Aku selalu kebingungan, dan bertanya kepada cermin perihal bayangan yang terpantul dari buram kaca-kaca
Jika aku bertemu kamu, pipiku selalu membujuk,
Merayu padaku agar mereka dikatupkan pada keadaan semula
Pipi-pipiku bilang, mereka pegal menahan perintah saraf ketawa yang ternyata aku adalah bosnya
****

Kamis, 12 September 2013

Catatan Terakhir Untukmu yang Pergi


 Malam hampir beranjak matang. Aku pikir akan segera usai masa dinas untuk sift sore hari ini. Tapi ternyata belum. Tepat pukul 19.00 WITA seorang teman seprofesi mengabarkan bahwa kau sedang tidak baik. Buru-buru aku dan dua orang temanku bergegas menuju RS. Pendidikan Unhas yang terletak di seberang jalan dan tepat berhadapan dengan RS Wahidin, tempat aku dinas sore ini.
Kau berada dalam sebuah ruangan yang dingin, ICU (intensive care unit). Aku dan kamu tahu, ruangan itu hanya untuk pasien-pasien yang membutuhkan perawatan intensif. Badanmu hanya samar terlihat dari kaca pintu tebal. Aku resah, seresah menunggu waktu subuh saat dinas malam berlangsung dan kita tak sedikit pun terpejam lelap. Sekitar 5 orang tenaga medis dan non medis telah mengepungmu. Di sekelilingmu hanya alat-alat yang sangat aku kenali, ECG (electro cardiogram), ambu bag, juga devibrilator yang lebih mirip dengan bentuk setrika baju yang sering aku pakai.

Sabtu, 07 September 2013

Jangan Ingatkan Aku Tentang Kapal, Angin...


Jangan ingatkan aku tentang kapal, angin.
Karena aku tahu, jauh sebelum aku menjumpai bayang-bayang gelap tepat di bibir darmaga, aku telah takluk.
Bau kapal yang sebenarnya tidak pernah mampu diwakilkan oleh satu bau; tengik, apek, busuk, atau jenis bau-bauan yang lain. Bau kapal yang terekam dalam otakku sesungguhnya kolaborasi dari aneka jenis bau-bauan, mulai dari bau mesin kapal, bau keringat ABK (anak buah kapal)  sekaligus bau penumpang yang tidak mandi, bau amonia, bau rambut yang tidak pernah dikeramas berhari-hari, bau baju-baju baru yang dilelang dekat pantri, bau masakan ikan yang tidak ada bumbunya, bau pemabuk, bau penjudi, bau wanita-wanita centil, bau lelaki hidung belang, bau muntahan tanpa ampas makanan alias hanya cairan perut alias asam lambung, bau kaos kaki basah ketika keluar dari kamar mandi karena kamar mandi yang tergenangi oleh aliran air yang tidak lolos masuk ke pembuangan, bau garam dari lautan, juga tak lupa bau dirimu, angin.