Sosok
itu masih sepi. Berhimpitan dengan banyak kesesakan dan kepenatan. Dia tahu,
hari ini akan ada saja hal-hal baru bermunculan umpama Bungur yang perlahan
menyembul mengeluarkan pucuk dan memekar ditengah pagi.
Hari
yang berganti, baginya selalu baru. Meskipun ritme kerja setiap hari tidak
pantas dikatakan berbeda. Sebagian orang setuju bahwa bekerja dengan ritme
yang sama dan berulang setiap harinya sangat rentan membuat bosan. Namun tidak baginya, sedari subuh, dia
mulai menguatkan segumpal daging yang berada tepat di bawah rongga dadanya. Diajaknya
Ia berbicara “semangatlah, sungguh engkau tak pernah tahu kapan kereta kematian
datang menjemputmu. Tuluskan, barangkali hari ini hari terakhirmu, entah...tak
ada yang tahu”. Demikian.
Kesepian,
sesungguhnya hanya Ia yang rasakan. Atau boleh jadi banyak yang merasakannya. Namun
mereka tak sedikit pun berani menghentakkan suara keluar dari tenggorokan. Suara-suara
itu bungkam dan hanya mampu menggetarkan plica
vokalis, tak pernah terdengar.