Jangan
ingatkan aku tentang kapal, angin.
Karena
aku tahu, jauh sebelum aku menjumpai bayang-bayang gelap tepat di bibir
darmaga, aku telah takluk.
Bau
kapal yang sebenarnya tidak pernah mampu diwakilkan oleh satu bau; tengik,
apek, busuk, atau jenis bau-bauan yang lain. Bau kapal yang terekam dalam
otakku sesungguhnya kolaborasi dari aneka jenis bau-bauan, mulai dari bau mesin
kapal, bau keringat ABK (anak buah kapal) sekaligus bau penumpang yang tidak mandi, bau amonia,
bau rambut yang tidak pernah dikeramas berhari-hari, bau baju-baju baru yang dilelang
dekat pantri, bau masakan ikan yang tidak ada bumbunya, bau pemabuk, bau
penjudi, bau wanita-wanita centil, bau lelaki hidung belang, bau muntahan tanpa
ampas makanan alias hanya cairan perut alias asam lambung, bau kaos kaki basah ketika
keluar dari kamar mandi karena kamar mandi yang tergenangi oleh aliran air yang
tidak lolos masuk ke pembuangan, bau garam dari lautan, juga tak lupa bau
dirimu, angin.
Maka
dengan segala kebijaksanaan, menghormati asas tidak meminta-minta, aku dengan
segenap rasa patuh kepada kedua orang tua: tak sekali pun aku berani memberi
alasan mengapa aku amat membenci kapal. Aku tahu mereka akan lebih terbebani
dengan biaya pesawat jika aku harus memaksa keinginanku untuk menghindari
kapal.
Kau
tahu angin? Aku inigin sekali bertemu dengan para nahkoda kapal-kapal mewah
seperti yang aku tonton di tv-tv, kapal Titanic yang konon kapal terbesar di
dunia, atau kapal pesiar megah lainnya. Aku ingin sekali berdiskusi dengan
mereka, bagaimana menciptakan suasana kapal yang menyenangkan????
Bagaiman
membuat kapal agar tidak over load???
Bagaimana
agar penumpang patuh terhadap aturan-aturan kapal?
Bagaimana
penanganan sampah agar tidak dibuang ke laut?
Bagaimana
agar WC dan kamar mandi tidak bau sekaligus tidak tergenangi oleh air bekas
mandi???
Aku
tahu angin, kelas ekonomi yang selalu aku tumpangi sesungguhnya parade
kehidupan yang sangat menyenangkan, di dalam kapal kau akan dengan mudah
menyaksikan sisi lain dari orang Indonesia, dimana pun mereka berada mereka
akan saling bertegur sapa. Aku punya banyak kenalan ketika aku berada di atas
kapal, kadang penyakit SKSD-ku kambuh. Aku ingin berteman dengan banyak orang
sekaligus. Meski disisi lain, di atas kapal kau tidak akan menjumpai orang
duduk dengan muka berseri-seri, kecuali mereka yang memasang diri termangsa
olehmu tepat di pinggir sekoci. Orang-orang
yang ada di dalam kapal selalu memegang sobekan kardus bekas, tisu, sarung,
handuk atau apapun yang bisa menyeka keringat yang turun perlahan-lahan dari
bukit-bukit kening yang basah. Kami di dalam kapal seperti orang yang sedang
bersauna, itu adalah efek over load
penumpang ditambah ketidak patuhan mereka atas larangan merokok di dalam kapal.
Asap-asap yang mengepul yang mengandung karbon dioksida itu perlahan-lahan
memerangkap dingin dari AC yang macet.
Di
atas kapal, harga-harga melambung tinggi. Aqua yang 5000 perak akan meningkat
tiga kali lipat menjadi 15.000 perak. Jangan ditanya harga barang-barang lain. Tapi
semuanya laris manis. Di atas kapal makanan sebanyak apa pun sepertinya tidak
pernah cukup. Makanan-makanan itu dimakan beramai-ramai dengan tetangga
sebelah, orang-oraang yang berhimpitan langsung
dengan kasur tempat tidur.
Seperti
halnya di daratan, di laut, di atas kapal pun film-film romantis akan diputar
dan diserbu oleh penumpang, tempat karaoke, resto ala kapal juga ramai
dikunjungi. Manusia-manusia serba tanggung saling berhimpit-himpitan. Kau tahu
angin, mereka sepasang laki-laki dan wanita yang sama-sama tidak saling
mengenal, lalu bertemu begitu saja di atas kapal, berkenalan, saling
tukar-menukar nomor Hp dan alamat,
semakin dekat lalu pacaran, lalu berpegangan tangan, lalu….ah….demikianlah
pemandangan di atas kapal.
Ada
lagi bayi-bayi mungil yang tidak pernah diam, rengekan mereka sebenarnya
gampang ditebak, mereka kepanasan.
Kapal
itu bising, persis seperti suara kresekan siaran radio yang timbul
tenggelam. Siang hari kau tidak akan
menemukan tempat yang damai, maksudku adalah tempat yang tenang untukmu
bercengkrama belajar bersama bayang-bayang, kecuali mushollah yang pada malam
harinya ditutup agar penumpang tidak tidur di dalamnya dan mengotori tempat
ibadah itu.
Tidak
usah bertanya apa yang akan aku lakukan lagi angin. Aku sendiri akan tergolek
lemah lantaran mabuk laut di atas kasur busa yang seharusnya digratiskan alias
sudah terhitung bersama tiket yang aku beli, namun karena kebringasan manusia
mencari uang, kasur busa yang sebagian besar telah renta dan lapuk termakan
usia itu dijual oleh seseorang, dua orang, tiga orang, empat orang dan entah…berapa
orang lagi yang menjual kasur-kasur yang seharusnya digratiskan kepada kami
penumpang kelas ekonomi.
Malam
harinya, suasana akan menjadi perlahan sepi seirama dengan bertambah kencangnya
hembusanmu menampar buritan kapal, aku ingin sekali memelukmu tepat ketika
orang-orang tak ribut lagi. Aroma laut yang kau bawa di tengah malam adalah
mistis bercampur kedamaian. Entahlah apa yang sedang terjadi di bawah laut yang
menghitam. Suaramu, suara angin yang ribut dan seketika menyebar menembus gelap
malam. Suaramu, suara tengah malam yang meminta agar orang-orang seperti aku
mengingat Tuhannya. Suaramu, suara gelisah yang mencabik ketentraman; kapan daratan
akan terlihat???
Demikianlah.
Elegi kapal yang selalu aku bawa, aku ceritakan padamu. Itu oleh-olahku dari
kapal Tilong Kabila, Wilis, juga Kelimutu.
Jangan
ingatkan aku tentang kapal lagi, angin.
_Emy Gufarni_
Makassar, 7 September 2013
Tulisan ini mengingatkanku dengan kapal itu. yang pada saat aku belum tahu tentang kematian, ombak besar yang membuat orang panik luar biasa malah membuat aku bergembira..
BalasHapuskamu memang sedikit mengalami kelainan kromosom wan...
BalasHapushehehehe...