Kamis, 12 September 2013

Catatan Terakhir Untukmu yang Pergi


 Malam hampir beranjak matang. Aku pikir akan segera usai masa dinas untuk sift sore hari ini. Tapi ternyata belum. Tepat pukul 19.00 WITA seorang teman seprofesi mengabarkan bahwa kau sedang tidak baik. Buru-buru aku dan dua orang temanku bergegas menuju RS. Pendidikan Unhas yang terletak di seberang jalan dan tepat berhadapan dengan RS Wahidin, tempat aku dinas sore ini.
Kau berada dalam sebuah ruangan yang dingin, ICU (intensive care unit). Aku dan kamu tahu, ruangan itu hanya untuk pasien-pasien yang membutuhkan perawatan intensif. Badanmu hanya samar terlihat dari kaca pintu tebal. Aku resah, seresah menunggu waktu subuh saat dinas malam berlangsung dan kita tak sedikit pun terpejam lelap. Sekitar 5 orang tenaga medis dan non medis telah mengepungmu. Di sekelilingmu hanya alat-alat yang sangat aku kenali, ECG (electro cardiogram), ambu bag, juga devibrilator yang lebih mirip dengan bentuk setrika baju yang sering aku pakai.
Dua puluh menit berlalu, seseorang yang tak aku kenali masih memompa jantungmu dengan tangannya. Satu orang lagi memegang ambu bag dan bersiap menghembuskan udara dari kantong ambu masuk ke dalam paru-parumu. Aku beku menatapmu dari kejauhan. Bukankah ruangan ini dingin teman? Tidak! Bukan karena ruangan yang dinginnya tak terdeteksi oleh ketidakkemampuanmanualku membaca derajat suhu, namun karena hatiku telah beku jauh sebelum memasuki ruangan yang dingin ini. Sebuah firasat buruk mengelilingi kepalaku. Kau mungkin masih bertahan, atau….
Ini sama sekali bukan pemandangan pertama kali aku menyaksikan pasien-pasien yang mendapatkan pijat jantung (RJP, resusitasi jantung paru). Selama hampir mendekati titik klimaks, 1,5 tahun bermain di rumah sakit, aku hampir mencapai titik kulminasi kebosanan, bosan menyaksikan pijat jantung dan tak pernah sekali pun mendapati mereka terselamatkan. Kecuali pasien kelolaanku kemarin yang menderita strok non hemoragik, setelah mendapatkan pijat jantung, keadaannya kembali bernafas spontan, namun malamnya malaikat datang untuk mengabsen namanya tuk kembali.
Satu siklus pijat jantung menggunakan perbandingan 30:2,ini adalah ketetapan AHA 2010 (American Heart Association), 30 kali kompresi atau pijat jantung dengan cara menekan tengah tulang dada dengan kedalaman tertentu dan 2 kali pemberian nafas buatan atau bagging menggunakan ambu bag. Kompresi dilakukan seirama dengan detakan jarum jam, persis menyerupai detakan denyut nadi normal. Jika demikian, maka 1 kali siklus hampir menghabiskan waktu sekitar  1 menit. Itu adalah hitungan kasarku. Menit-menit yang kau habiskan untuk bermain-main dengan siklus RJP hampir mendekati setengah jam. Itu adalah waktu yang sangat lama kawan. Tak pernah sekali pun aku menyaksikan pasien sehebat kau yang mapu bertahan dengan bersiklus-siklus RJP. Kau umpama sedang menarik layang-layang. Pada titik ini, sebuah skenario Tuhan berubah di mataku. Aku baru menyadari, kau tiba-tiba menjadi pasien di rumah sakit, bukan sebagai perawat seperti hari-hari kemarin. Di akhir waktumu, kau masih sempat membuatku kagum atas sebuah kegigihan hidup. Banyak orang yang tak menghargai hidup saat sebagian orang begitu menginginkan kehidupan, setidaknya untuk terpekur, menyujudi Tuhan untuk yang terakhir kalinya.
Terakhir, Hemoglobin darahmu hanya tertinggal 3 gr/dl. Itu rendah sekali bukan? Masih ingatkah kamu bahwa nilai dari kadar Hemoglobin normal wanita dewasa adalah 12-14 g/dl??? Hemoglobinmu rendah sekali teman! Bagaimana mungkin seorang manusia  mampu bertahan dengan kadar Hemoglobin demikian rendah dalam darahnya? Hemoglobin itu adalah angkot yang akan membawa penumpang bernama Oksigen menuju sel-sel tubuhmu untuk proses metabolisme, dan energi yang kau pakai untuk tersenyum dan berbicara di siang yang terik itu adalah energi yang dihasilkan dengan menggunakan bahan bakar Oksigen. Tapi dengan kadar Hemoglobin demikian rendah, kau masih bertahan teman, setidaknya hingga detik-detik meluncurnya embun-embun di mata ibumu. Aku dengar dari cerita sahabatmu, ibumu baru saja menginjakkan kakinya di depan pembaringanmu siang tadi, pukul 14.00 WITA.
Ibumu terisak hanya lemah memeluk badanku yang oleng tak mampu mengimbangi berat badannya. Kau hanya sempat beberapa jam menemuinya, bukan? Hampir pukul 20.00 kau pergi meninggalkan seorang ibu yang sesegukan, juga aku dan sahabat-sahabatmu yang lain.
Kaca mata tebalmu masih samar dalam ingatanku.kau bilang pada ibumu, kau ingin ke Kediri untuk belajar. Tahukah kamu? kita sekarang berada pada stase terakhir, teman. Itu artinya, anak tangga terakhir menuju gerbang yudisium hampir kita tinggalkan. Tapi aku tahu, Tuhan lebih menyayangimu dari pada sebuah hadiah bernama gelar tersemat manis di ujung namamu. Istirahatlah dengan tenang. Semoga amal baikmu adalah amalan-amalan terbaik untuk saksimu di akhirat kelak.
Terima kasih telah meningatkanku akan kematian, Epink.

In Memoriam
Epink
Makassar, 10 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar