Malam
hampir beranjak matang. Aku pikir akan segera usai masa dinas untuk sift sore
hari ini. Tapi ternyata belum. Tepat pukul 19.00 WITA seorang teman seprofesi
mengabarkan bahwa kau sedang tidak baik. Buru-buru aku dan dua orang temanku
bergegas menuju RS. Pendidikan Unhas yang terletak di seberang jalan dan tepat
berhadapan dengan RS Wahidin, tempat aku dinas sore ini.
Kau
berada dalam sebuah ruangan yang dingin, ICU (intensive care unit). Aku dan kamu tahu, ruangan itu hanya untuk
pasien-pasien yang membutuhkan perawatan intensif. Badanmu hanya samar terlihat
dari kaca pintu tebal. Aku resah, seresah menunggu waktu subuh saat dinas malam
berlangsung dan kita tak sedikit pun terpejam lelap. Sekitar 5 orang tenaga
medis dan non medis telah mengepungmu. Di sekelilingmu hanya alat-alat yang
sangat aku kenali, ECG (electro
cardiogram), ambu bag, juga devibrilator yang lebih mirip dengan bentuk
setrika baju yang sering aku pakai.
Ini
sama sekali bukan pemandangan pertama kali aku menyaksikan pasien-pasien yang
mendapatkan pijat jantung (RJP, resusitasi jantung paru). Selama hampir mendekati
titik klimaks, 1,5 tahun bermain di rumah sakit, aku hampir mencapai titik
kulminasi kebosanan, bosan menyaksikan pijat jantung dan tak pernah sekali pun
mendapati mereka terselamatkan. Kecuali pasien kelolaanku kemarin yang
menderita strok non hemoragik, setelah mendapatkan pijat jantung, keadaannya kembali
bernafas spontan, namun malamnya malaikat datang untuk mengabsen namanya tuk
kembali.
Satu
siklus pijat jantung menggunakan perbandingan 30:2,ini adalah ketetapan AHA 2010
(American Heart Association), 30 kali
kompresi atau pijat jantung dengan cara menekan tengah tulang dada dengan
kedalaman tertentu dan 2 kali pemberian nafas buatan atau bagging menggunakan ambu bag. Kompresi dilakukan seirama dengan
detakan jarum jam, persis menyerupai detakan denyut nadi normal. Jika demikian,
maka 1 kali siklus hampir menghabiskan waktu sekitar 1 menit. Itu adalah hitungan kasarku. Menit-menit
yang kau habiskan untuk bermain-main dengan siklus RJP hampir mendekati
setengah jam. Itu adalah waktu yang sangat lama kawan. Tak pernah sekali pun
aku menyaksikan pasien sehebat kau yang mapu bertahan dengan bersiklus-siklus
RJP. Kau umpama sedang menarik layang-layang. Pada titik ini, sebuah skenario Tuhan
berubah di mataku. Aku baru menyadari, kau tiba-tiba menjadi pasien di rumah
sakit, bukan sebagai perawat seperti hari-hari kemarin. Di akhir waktumu, kau
masih sempat membuatku kagum atas sebuah kegigihan hidup. Banyak orang yang tak
menghargai hidup saat sebagian orang begitu menginginkan kehidupan, setidaknya
untuk terpekur, menyujudi Tuhan untuk yang terakhir kalinya.
Terakhir,
Hemoglobin darahmu hanya tertinggal 3 gr/dl. Itu rendah sekali bukan? Masih ingatkah
kamu bahwa nilai dari kadar Hemoglobin normal wanita dewasa adalah 12-14
g/dl??? Hemoglobinmu rendah sekali teman! Bagaimana mungkin seorang
manusia mampu bertahan dengan kadar Hemoglobin
demikian rendah dalam darahnya? Hemoglobin itu adalah angkot yang akan membawa
penumpang bernama Oksigen menuju sel-sel tubuhmu untuk proses metabolisme, dan energi
yang kau pakai untuk tersenyum dan berbicara di siang yang terik itu adalah energi
yang dihasilkan dengan menggunakan bahan bakar Oksigen. Tapi dengan kadar
Hemoglobin demikian rendah, kau masih bertahan teman, setidaknya hingga
detik-detik meluncurnya embun-embun di mata ibumu. Aku dengar dari cerita
sahabatmu, ibumu baru saja menginjakkan kakinya di depan pembaringanmu siang
tadi, pukul 14.00 WITA.
Ibumu
terisak hanya lemah memeluk badanku yang oleng tak mampu mengimbangi berat
badannya. Kau hanya sempat beberapa jam menemuinya, bukan? Hampir pukul 20.00
kau pergi meninggalkan seorang ibu yang sesegukan, juga aku dan
sahabat-sahabatmu yang lain.
Kaca
mata tebalmu masih samar dalam ingatanku.kau bilang pada ibumu, kau ingin ke
Kediri untuk belajar. Tahukah kamu? kita sekarang berada pada stase terakhir,
teman. Itu artinya, anak tangga terakhir menuju gerbang yudisium hampir kita
tinggalkan. Tapi aku tahu, Tuhan lebih menyayangimu dari pada sebuah hadiah
bernama gelar tersemat manis di ujung namamu. Istirahatlah dengan tenang. Semoga
amal baikmu adalah amalan-amalan terbaik untuk saksimu di akhirat kelak.
Terima
kasih telah meningatkanku akan kematian, Epink.
In Memoriam
Epink
Makassar, 10
September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar