Sosok
itu masih sepi. Berhimpitan dengan banyak kesesakan dan kepenatan. Dia tahu,
hari ini akan ada saja hal-hal baru bermunculan umpama Bungur yang perlahan
menyembul mengeluarkan pucuk dan memekar ditengah pagi.
Hari
yang berganti, baginya selalu baru. Meskipun ritme kerja setiap hari tidak
pantas dikatakan berbeda. Sebagian orang setuju bahwa bekerja dengan ritme
yang sama dan berulang setiap harinya sangat rentan membuat bosan. Namun tidak baginya, sedari subuh, dia
mulai menguatkan segumpal daging yang berada tepat di bawah rongga dadanya. Diajaknya
Ia berbicara “semangatlah, sungguh engkau tak pernah tahu kapan kereta kematian
datang menjemputmu. Tuluskan, barangkali hari ini hari terakhirmu, entah...tak
ada yang tahu”. Demikian.
Kesepian,
sesungguhnya hanya Ia yang rasakan. Atau boleh jadi banyak yang merasakannya. Namun
mereka tak sedikit pun berani menghentakkan suara keluar dari tenggorokan. Suara-suara
itu bungkam dan hanya mampu menggetarkan plica
vokalis, tak pernah terdengar.
Sepi adalah ketika banyak
desakan yang membuat banyak hak orang
lain terlupakan.
Sepi adalah ketika keinginan
yang cepat untuk merehatkan badan tidak seimbang dengan banyaknya tugas yang
terselesaikan. Acapkali mengeluh lelah, padahal tak sedikitpun hak orang lain
terlunaskan.
Sepi adalah ketika banyak
orang yang mengutamakan dirinya dan golongannya sekaligus melupakan orang lain.
Sepi adalah ketika banyak
orang lebih memilih mengeluarkan kata-kata kasar untuk menegur ketimbang
memotivasi dan menasehati.
Sepi adalah ketika banyak
orang yang merasa besar dengan statusnya, padahal sebenarnya mereka
dipekerjakan tak lebih dari seorang pelayan, pelayan bagi banyak orang.
Sepi adalah ketika banyak
orang hanya sibuk menilai hasil, bukan proses, maka jadilah sepi-sepi itu
membuat sosoknya sepi.
Demikian,
sosoknya hanya sepi. Ia kesepian mendengar kata-kata santun, sepi mendengar
kata-kata motivasi, sepi melihat kesahajaan, keramahan, ketulusan.
Barangkali,
dunia ini hanya sebuah rongga yang diisi oleh sepi yang menghitam. Tapi
ia menyadari, Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa pasangan. Disisi lain,
masih banyak orang yang memiliki kesahajaan, ketulusan, keramahan. Hanya saja harus sedikit keluar dari kebiasaan, menapaki kaki pada tempat yang tak pernah
terlewati.
_Emy
Gufarni_
Makassar,
29 September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar