Sabtu, 28 September 2013

Sosok Sepi


Sosok itu masih sepi. Berhimpitan dengan banyak kesesakan dan kepenatan. Dia tahu, hari ini akan ada saja hal-hal baru bermunculan umpama Bungur yang perlahan menyembul mengeluarkan pucuk dan memekar ditengah pagi.
Hari yang berganti, baginya selalu baru. Meskipun ritme kerja setiap hari tidak pantas dikatakan berbeda. Sebagian orang setuju bahwa bekerja dengan ritme yang sama dan berulang setiap harinya sangat rentan membuat  bosan. Namun tidak baginya, sedari subuh, dia mulai menguatkan segumpal daging yang berada tepat di bawah rongga dadanya. Diajaknya Ia berbicara “semangatlah, sungguh engkau tak pernah tahu kapan kereta kematian datang menjemputmu. Tuluskan, barangkali hari ini hari terakhirmu, entah...tak ada yang tahu”. Demikian.
Kesepian, sesungguhnya hanya Ia yang rasakan. Atau boleh jadi banyak yang merasakannya. Namun mereka tak sedikit pun berani menghentakkan suara keluar dari tenggorokan. Suara-suara itu bungkam dan hanya mampu menggetarkan plica vokalis, tak pernah terdengar.
Sepi adalah ketika banyak orang yang menunaikan tugas hanya sebagai tugas, tak lebih.
Sepi adalah ketika banyak desakan  yang membuat banyak hak orang lain terlupakan.
Sepi adalah ketika keinginan yang cepat untuk merehatkan badan tidak seimbang dengan banyaknya tugas yang terselesaikan. Acapkali mengeluh lelah, padahal tak sedikitpun hak orang lain terlunaskan.
Sepi adalah ketika banyak orang yang mengutamakan dirinya dan golongannya sekaligus melupakan orang lain.
Sepi adalah ketika banyak orang lebih memilih mengeluarkan kata-kata kasar untuk menegur ketimbang memotivasi dan menasehati.
Sepi adalah ketika banyak orang yang merasa besar dengan statusnya, padahal sebenarnya mereka dipekerjakan tak lebih dari seorang pelayan, pelayan bagi banyak orang.
Sepi adalah ketika banyak orang hanya sibuk menilai hasil, bukan proses, maka jadilah sepi-sepi itu membuat sosoknya sepi.
Demikian, sosoknya hanya sepi. Ia kesepian mendengar kata-kata santun, sepi mendengar kata-kata motivasi, sepi melihat kesahajaan, keramahan, ketulusan.
Barangkali, dunia ini hanya sebuah rongga yang diisi oleh sepi yang menghitam. Tapi  ia menyadari, Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu tanpa pasangan. Disisi lain, masih banyak orang yang memiliki kesahajaan, ketulusan, keramahan. Hanya saja harus sedikit keluar dari kebiasaan, menapaki kaki pada tempat yang tak pernah terlewati.
_Emy Gufarni_
Makassar, 29 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar