Hal terbaik apa
yang akan kita persembahkan untuk hari ini?
Sekiranya ini
adalah yang terakhir, hari yang terakhir, minggu terakhir, bulan terakhir,
tahun terakhir, apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita prasastikan untuk
bumi? Untuk kehidupan? Agar kiranya, kita dapat dikenang sebagai sesuatu dalam
kehidupan, sebagai sebuah kebaikan? Adakah kiranya amalan yang tidak akan putus
nilainya kecuali 3 perkara ini? Amal jariah, ilmu yang bermanfaat, juga doa-doa
anak yang sholeh?
Dari 3 hal
tersebut, mana yang telah kita penuhi?
Amalkah?
Ilmukah?
Doa-doakah?
Akan dikenang
sebagai apa kita nanti? Jika suatu hari kelak, kita hanyalah sebuah nama?
***
Selalu saja saya
munafik dengan kehidupan, menjadi pengecut dari lingkaran-lingkaran masalah,
tak pernah mau hidup dengan sejujur-jujurnya dengan kehidupan, berbaikan dengan
apa adanya saya. Banyak jenis topeng yang selalu saya andalkan, untuk menutupi
diri saya yang sebenarnya. Saya, tidak
sebaik yang orang sangkakan, tapi selalu saja Allah dengan RahmanNya menutupi
aib-aib saya, menuntun saya pelan untuk kembali ke jalanNya, seperti pagi ini, saya
ditegur lewat derai-derai syair dari Opick, sebuah syair tentang kematian.
Bila waktu telah
terhenti teman sejati tinggalahsepi
bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yang sementara
bagai manakah bila semua
hilang dan mati meninggla kan diri mu
bagimanakah bila saat nya
waktu terhenti takkau sadari
masikah ada jalan bagi mu untuk kembali
mengulang ke masa lalu
dunia....dipunuhi dengan hiasan
semua..dan sgala yang ada
akan kembali pada nya
Reff:
bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah
bila waktu tlah terhenti
teman sejati tianggalah sepi
Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara
dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yang ada akan kembali padaNya
Bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggalah sepi....
Tiba-tiba saya
gerimis lagi.
Saya lupa kapan
terakhir kali memanggil nama kedua orang tua saya dengan panggilan paling mesra
semesra saya memanggil orang-orang yang pernah mencuri hari-hari saya begitu
lama. Saya lupa kapan terakhir kali saya menyetrikakan pakaian dinas mama juga
papa, saya lupa kapan terakhir kali saya menyemirkan sepatu beliau, sementara
saya selalu menyetrika rapi pakaian-pakaian saya. Adakah kebaikan orang tua
terbalaskan lewat hal remeh temeh seperti demikain? saya lupa kapan terakhir kali
saya memasakkan makanan yang paling lezat untuk keluarga saya, mama juga
saudaa-saudara saya. Ah, ingatan, kau masih saja lumpuh, rapuh.
Saya masih ingat
kapan terakhir kali mama membelikan saya 3 lembar rok berbahan sifon dengan
motif bunga-bunga kecil berwarna hitam, sementara dirinya hanya membeli sebuah
baju daster yang harganya tidak semahal harga rok yang dibelikan untuk saya. Saya
ingat kapan terakhir kali saya membelanjakan uang kiriman mama, untuk apa, dan di
tempat apa saya belanjakan. Saya ingat kapan terakhir kali papa memberikan saya
selembar uang berwarna biru, saat itu, saya ingin meminta lembaran yang
berwarna lebih berani, merah. Sementara, bahkan satu rupiah pun saya belum
pernah menghadiahkan kepada orang tua saya. Saya ingat kapan papa terakhir kali
membawakan saya baso kesukaan saya, dari Bima. Ya, baso favorit saya itu
dibawakan oleh papa saya dari Bima menuju Makassar, dengan menumpang sebuah
pesawat, sekira 2 jam perjalanan. Saya masih ingat kapan terakhir kali mama
membuatkan saya jamu kunyit asam, jamu lezat berkhasiat itu harus menempuh hal
yang serupa dengan baso favorit saya, menempuh perjalanan sekira 2 jam
perjalanan, dari Bima ke Makassar, dengan pesawat, jamu malang itu, harus basi karena
saya hanya memainkannya saja, mengocoknya dalam sebuah botol pulpy, tidak saya
teguk, ah….mama telah meluangkan waktunya untuk membuatkan saya sebotol kecil
jamu dan saya tidak menghargai jerih payah itu. Saya ingat kapan papa harus melipat
rapat keinginannya untuk melihat saya tetap mengenakan pakaian putih saya,
seragam seorang perawat. Saya ingat kapan terakhir kali saya ngotot dan adu
mulut dengan papa lantaran ketidaksetujuan saya terhadap keputusan-keputusan
yang beliau putuskan. Ah, ingatan!
Saya ingat kapan
terakhir kali saya menasehati seorang sahabat, padahal saya masih begitu sangat
layak untuk dinasehati jauh lebih banyak.. Saya ingat kapan terakhir kali saya
berpikiran buruk terhadap kebaikan-kebaikan sahabat-sahabat saya, saya ingat kapan
terakhir kali saya menuliskan puisi-puisi cengeng hanya untuk sekedar
melampiaskan kekecewan saya terhadap diri saya juga segelintir orang, lantaran
saya tidak suka curhat secara langsung, maka demi memenuhi ego pribadi jadilah
beranda saya di penuhi tuisan-tulisan cengeng dan malangnya masih saja saya
biarkan duduk manis di beranda saya. Saya ingat kapan terakhir kali saya
meniatkan gaji pertama saya untuk membeli sebuah kamera pocket, padahal kamera itu tidak jauh lebih penting dari membelikan
sekantong beras untuk tetangga pemulung dekat pondokan, atau buku-buku yang bisa
saya investasikan. Ah, ingatan!
Saya ingat kapan
terakhir kali seorang pembimbing lahan saya, Ns Suhatman AH dengan sangat sabar
meladeni kebuntuan dan ketelatan otak saya untuk menerima pelajaran dari beliau.
Beliau adalah satu-satunya dosen sekaligus pembimbing lahan dan guru buat saya
yang mengajari tentang ilmu mencuci tangan bedah dengan praktik secara langsung.
Beliaulah yang paling gencar mengingatkan saya “selalu tempatkan diri kamu pada
keadaan pasienmu, Em, dengan begitu kau tidak akan miskin sikap empati.” Saya
ingat kapan terakhir kali saya menyaksikan seorang kepala ruangan yang hadir
lebih awal dari bawahannya, ikut mendorong brankar pasien sekaligus mengurusi
kebutuhan-kebutuhan pasien juga bawahannya, beliaulah yang selalu semangat
memprotes tindakan-tindakan irrasional oknum-oknum tertentu yang tidak
berkepentingan dengan pasien. Beliau Ners Rahmadaeni, kepala Instalasi
kegawatdaruratan bagian Non Bedah Rs Wahidin. Saya ingat kapan terakhir kali,
seorang senior perawat mengajarkan saya untuk tetap pede di depan pasien, untuk
mencipta senyum termanis bahkan saat kondisi hati mulai senewen lantaran letih,
beliaulah yang tidak pernah meninggalkan ruangan kerja sebelum semua urusan
pasien benar-benar selesai, menolak duduk manis dan memangku tangan apabila
asuhan keperawatan yang harus ditulis tangan benar-benar beres, beliaulah orang
yang pertama kali mengenalkan saya pada seorang lak-laki tegar yang koma
berbulan-bulan dan bergantung sepenuhnya pada anak juga perawat rumah sakit,
bahkan suplai oksigen dibantu dari selang-selang yang berselingan dengan
peralatan lainnya, sementara saya masih bernafas dengan semau saya bahkan gratis. Beliau, perawat
paling lincah, Ners Asniati Sarda.
Seorang perawat di bagian bedah saraf di salah satu Rs terkemuka di Indonesia
bagian Timur. Ya, akan selalu ada orang-orang baik dalam rentang kehidupan
saya, kita. Akan ada para perawat yang dengan segenap ketulusan membantu kita
untuk sembuh dari penyakit yang Allah ujikan pada kita. Akan selalu ada para
dokter yang pandai berempati saat tubuh kerdil kita melekat di pembaringan.
Akan selalu ada stok makhluk Allah yang hatinya lapang selapang danau atau
seluas samudera. Ya, Allah masih begitu sayang pada saya, kita. Tapi pernahkah
kita mengingat kapan terakhir kali hati kita sungguh-sungguh ikhlas bersyukur
atas nikmat-nikmat kebaikan itu? Atau setidaknya terlahir lewat lisan kita? Ah,
ingatan!
Saya masih ingat
kapan terakhir kali saya harus muntah dan mengeluarkan semua isi cairan lambung
saya lantaran bau dari luka seorang laki-laki tegar berwajah teduh, luka itu ia
dapatka setelah berbaring berbulan-bulan lamanya di tempat tidur, luka pada
daerah panggulnya itu membuatnya telah menjadi sosok sabar yang luar biasa,
saat sebagian orang memilih mengeluh, ia memilih hanya mengigit bibir menahan
nyeri saat saya dan seorang senior membersihkan lukanya. Muslimin, lukanya
telah menggugurkan dosa-dosanya. Sementara saya menangis meraung-raung lantaran
baru dikecewakan. Ternyata, hati saya tidak selapang Muslimin. Saya masih ingat
kapan terakhir kali saya menyaksikan seorang anak 5 tahun, sembari tersenyum ia
memandangi tubuh mungil saya lekat-lekat saat saya menginjeksikan obat masuk ke
dalam venanya. Kulitnya yang putih kekuningan, lantaran sel-sel darah merahnya
tidak pernah berumur panjang, sel darah merahnya tidak senormal darah merah
saya. Sementara saya, seringkali melukai diri saya sendiri dengan
pikiran-pikiran buruk pada Tuhan saya. Ah, ingatan!
Lalu, apalah
saya sekarang?
Amalkah yang
telah saya tunaikan hingga menuntun dan membantu segelintir orang?
Ilmukah yang
telah saya bagikan hingga bermanfaat untuk orang banyak?
Doa-doakah yang
selalu saya panjatkan untuk kedua orang tua saya juga untuk saudara-saudara
saya?
Kelak, kita
akhirnya harus sadar sesadar-sadarnya, saat ujian beruntun datang mencekik
leher-leher kita, lalu kita tersandung, maka saat itu tahulah kita, siapa
sebenarnya diri kita. Selapang apa dada kita. Setabah apa doa-doa kita.
Setawakal apa jiwa yang menempati jasad kasar kita.
Saya gerimis
lagi, bukan karena bahagia telah mengurai kata, tapi lebih kepada sebuah
kesedihan yang hakiki, betapa saya tidak pernah mensyukuri hari-hari yang masih
dilapangkan untuk saya, saat napas masih benar-benar hidup dalam jasad saya,
saya malah menyia-nyiakannya saja.
Di Rumah Sakit,
harga Oksigen sekitar Rp3000-Rp5000/L. Manusia mampu menghirup 500cc udara
dalam satu kali inspirasi normal yang kemudian di masukkan ke dalam
paru-parunya, namun dalam perjalanannya udara yang sampai dalam paru-paru hanya
tertinggal 350cc saja, sedangkan 150cc tertinggal dalam ruang rugi anatomi
yakni di sepanjang jalan udara pernapasan. Frekuensi pernapasan normal manusia
menurut Aziz Alimul Hidayat adalah 12-16x/menit. Saya mencoba mengambil rerata
frekuensi pernapasan adalah 15x/menit. Maka jika dikonversi ke dalam rupiah:
Oksigen yang dihirup------
350x15 = 5250cc/menit (5,25 L)
5,25x (3000-5000) = Rp15.750-Rp26.250/menit
Jika dalam 1
menit kita membutuhkan dana kira-kira Rp15.750-Rp26.250, maka dalam 1 jam kita
membutuhkan Rp945.000-Rp1.575.000, dalam sehari kita membutuhkan
Rp22.680.000-Rp37.800.000. angka yang cukup fantastis bagi saya!
Nilai dari
angka-angka itu adalah biaya yang harus kita keluarkan setiap harinya hanya
untuk urusan pernapasan saja. Padahal di dalam tubuh manusia tersimpan begitu
banyak mesin-mesin ajaib lain yang kinerjanya luar biasa, jantung yang tak pernah
sedetik pun berhenti memompa darah, ginjal yang tak pernah berhenti menyaring
zat-zat beracun yang terbawa bersama darah, usus yang menyerap semua zat-zat nutrisi
dari makanan, kolon yang meyerap air, hati tempat metabolisme, otak puncak dari
segala pengatur mekanisme tubuh, dan masih banyak lagi. Tetapi Allah memberikannya
gratis kepada kita. Ya, kita tak harus membayar untuk cukup menghirup udara,
bukan?
Maka, untuk
engkau yang masih dalam lingkaran kebaikan, bersyukurlah. Apa yang bisa
diperbuat lagi selain syukur yang mengejewantah lewat rangkaian ikhtiar kerja
keras? Atas kebaikan yang masih saja Allah tunjukkan kepadamu?
Untuk engkau
yang jiwanya sedang dalam kesumat dendam, ingatlah ini. Jangan mau meninggalkan
dunia dalam keadaan hatimu diliputi rasa dendam. Mohon izinkan hatimu lapang
atas kealpaan sesamamu. Pun seharusnya kita sadar, bahwa demikianlah drama
kehidupan. Sungguh, kita tak memiliki kemampuan sedikitpun atau wewenang ilmiah
untuk mengatakan kepada seseorang bahwa selamanya ia akan menjadi orang baik.
Maka jangan pernah kecewa, izinkan hati kita berterus terang bahwa selamanya kekecewaan
hanya akan membuat luka jika tak dibarengi dengan melirik hikmah apa
dibaliknya. Semua manusia berpotensi untuk menjadi buruk, pun sebaliknya, semua
kita berpotensi menjadi baik. Saya teringat kisah seorang wanita yang
melacurkan dirinya, pulang-pulang dari tempat pelacuran ia melihat seekor anjing
tengah sekarat kehausan. Lalu dengan sepatunya, ia memberi minum kepada anjing
tersebut. Cerita ini berakhir dengan ridhonya Allah mengizinkan sang wanita
pelacur itu menginjakkan kakinya dalam kehijauan syurga. Lalu, apa alasan kita
untuk menghakimi orang lain buruk? Sungguh, tak ada!
Kita ini
manusia, hati kita dalam genggaman jemari Allah. Boleh jadi hari ini kita
menjadi orang baik,tapi siapa yang mampu menjamin bahwa selamanya kita akan
dalam keaadaan tersebut sepanjang hayat? Orang-orang yang selalu saja buruk di
mata kita, boleh jadi suatu hari merekalah yang akan mengingatkan kita akan kebaikan.
Abdullah bin
Mas’ud pernah berkata bahwa kesombongan itu adalah menolak kebenaran setelah
kebenaran itu datang dan merendahkan orang lain. Hikmah tiap-tiap kejadian
pasti ada. Tetapi ada jarak kita dengannya yang dihalangi oleh tembok yang
tinggi menjulang. Sayangnya hanya sedikit saja yang mengetahui perihal tembok
itu lantaran ia tak pernah terlihat. Tembok itu terbentuk dari sifat-sifat
buruk manusia itu sendiri. Sifat dengki, iri, hasad, dendam, kikir, riya’,
ujub.
Hhh, apalagi kiranya kita ini?
Setiap hari, apa
yang telah saya lakukan untuk kebaikan yang telah begitu baik kepada saya?
Diajarinya kepada saya tentang hidup itu adalah menemani orang tua di kampung.
Meski sebelumnya, saya seringkali mencari alasan untuk bertahan di kota orang.
Dan sekarang? Ingatlah saya tentang seorang wanita separuh abad yang hidupnya
sepi. Terbaring kaku di pembaringan tanpa anak-anak di sampingnya. Saat
menghabiskan masa dinas di RS Wahidin di sore yang sejuk, saya dikagetkan oleh
linangan air matanya. Sesegukan ia meraung-raung meminta dibelikan buah. Yah,
hati siapa yang tak pilu melihatnya? Seorang wanita yang membutuhkan teman
hidup, namun sayang anak-anaknya hanya mampu mengiriminya uang, sedang diri
mereka terlampau jauh dari jasad sang ibu. Ketahuilah, ada lapar lain selain
lapar perut. Ada dahaga lain selain dahaga tenggorokan. Barangkali saya terlalu
banyak berapologi.
Untuk kamu yang
memilih merawat sanak saudara di kampung ketimbang menuntut ilmu di kota orang,
sabarlah. Akan ada saatnya roda dunia diputar dalam bentuk kehidupan lain
untukmu. Sementara merawat, carilah ilmu di kampung. Ilmu Tuhan bertebaran di
mana-mana, tak hanya di kota, bukan?
Untuk Anda yang telah
memiliki pasangan hidup sah. Saat pulang dari tempat kerja, dekaplah ia. Yah,
pelukan adalah obat mujarab saat kelelahan sedang mengepung kita. Genggamlah
tangannya. Pelukan dan genggaman tangan akan memaksa fisik, pikiran juga
seluruh jiwa kita untuk saling memeluk satu sama lain. Ada banyak bahasa yang
tak akan pernah mampu terwakilkan oleh kata-kata. Tapi cukup dengan segenap
ketulusan dan luasnya dada yang lapang untuk memeluk, saya berharap, Anda dan
pasangan akan selalu baik-baik saja.
Akhirnya, saya
harus mengatakan ini , pesan terbaik untuk diri saya juga bagi siapa saja yang
menganggap bahwa tulisan ini layak untuk dikunyah dan ditelan; “hiduplah dengan
jujur, persembahkanlah yang terbaik dari diri kita hari ini, sebab kemarin
telah berlalu dan esok siapa yang tahu? If
tomorrow never comes, do it today.”
Kelak, suatu
hari, jika saya begitu jauh dari episentrum tulisan-tulisan saya, tolong
ingatkan saya.
Bima, 4 Februari 2014