Minggu, 23 Februari 2014

2,5 Kg




Menjadi seorang ibu adalah letak kesempurnaan menjadi wanita. Meski proses menujunya adalah proses yang melelahkan. Bagi saya, seorang wanita cukup patut dipanggil dengan sebutan “ibu’ ketika ia telah memiliki anak, walaupun pada kenyataannya kata “ibu” telah mengalami perluasan makna.
Lazimnya seorang wanita mengandung anaknya selama 37-42 minggu, silakan mengkonversinya dalam hitungan bulan. Maka selama rentang panjang itulah, ia membawa janin dengan bobot normal minimal 2,5 kg pada kehamilan tua, di dalam perutnya. 

Mengapa 2,5 kg?

Ya, karena berat minimal inilah seorang bayi manusia dapat hidup dengan baik saat ia dilahirkan ke dunia. Seorang bayi yang dilahirkan di bawah berat minimal yakni 2,5 kg disebut dengan bayi BBLR, bayi berat lahir rendah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya BBLR, antara lain faktor nutrisi, infeksi, bahan toksik, perokok berat, alkoholik, kehamilan ganda, plasenta previa, kelainan atau disfungsi plasenta, dan lain-lain. BBLR tidak terjadi hanya dengan satu faktor saja, melainkan gabungan dari beberapa faktor.

Bayi yang dilahirkan dengan BBLR memiliki banyak risiko. Mereka jauh lebih rentan terinfeksi sekaligus lebih lemah dibandingkan dengan bayi yang berbobot di atas 2,5 kg. Hans. E. Monintja yang mempelajari angka-angka kematian perinatal mengatakan bahwa angka kematian bayi dengan BBLR 2x lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan dengan bobot lebih dari 2,5 kg. Bayi dengan bobot kurang dari 2,5 kg rentan dengan Hipotermia, yakni suatu keadaan dimana menurunnya suhu tubuh bayi dari keadaan normal, jika mendapati hal seperti ini, maka salah satu solusi yang saya sarankan jika tak ada inkubator adalah metode “kantong kangguru”. Metode ini persis seperti seekor kangguru yang menggendong anaknya di dalam kantongnya sehingga akan memberikan kemungkinan terjaganya stabilitas suhu tubuh bayi. Kontak langsung kulit dada juga perut dari ibu kepada bayi akan memindahkan kalor dari tubuh ibu pada bayi.
Saat usia kehamilan 16 minggu atau sekitar 4 bulan, semua proses pembentukan organ atau organogenesis telah sempurna. Saat ini janin sudah dapat dibedakan jenis kelaminnya juga telah sempurna bentuk tubuhnya. Sehingga, nutrisi yang diperoleh janin bukan lagi digunakan untuk proses pembentukan organ, melainkan untuk memperbesar dan memperberat bobotnya. Nutrisi janin diperoleh dari ibu lewat perantara plasenta atau yang lebih dikenal dengan ari-ari.

Sekarang jelas sudah bahwa 2,5 kg adalah bobot minimal janin pada kehamilan tua  yang harus dicapai oleh ibu saat mengandung. Tentu saja peran ini tidak semata-mata dilakukan oleh ibu saja, suami pun memiliki peran besar. Keadaan psikis ibu hamil biasanya labil, maka tugas suamilah yang mengingatkan sang istri untuk tetap menjaga kehamilannya. Happy pregnant!

Bima, Februari 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Catatan Tak Usai




Beranda mungil ini sudah lama saya tinggalkan. Sejak beberapa pekan lalu, setelah beberapa menit lamanya saya larut dalam khusyuk pemikiran kalimat pendek oleh seorang saudara saya, saya akhirnya memutuskan untuk jeda sejanak. Rehat dari posting-memosting tulisan dengan sangat masif. Persis seperti orang yang sedang aji mumpung, saya akui, menulis adalah hal lain yang membuat seseorang bisa terkenal dalam sekejap. Dan hal itulah yang saya lakukan.

Akhir-akhir ini saya memeram beberapa tulisan saya. Dulu, seringkali saya begitu adiksi melihat tulisan-tulisan saya nongol di blog pribadi, memamerkan diri mereka yang tak sempurna. Barangkali selama ini, saya menenggak terlalu banyak ekstasi pujian, hingga lupa memusatkan pada tujuan awal untuk apa sebenarnya saya menulis?

Saya suka menulis apa-apa yang ingin saya sampaikan jika sesuatu itu sangat berat untuk disampaikan secara langsung. Saya lebih suka memilih menjadi pendengar setia daripada bercurhat secara langsung. Maka tak heran, jika kalimat-kalimat sahabat saya memantik sisi lain pengalaman yang ia ceritakan sekaligus menyinggung pengalaman pribadi saya, tak segan saya menuliskannya lalu memostingnya begitu saja tanpa sensor. Tapi akhirnya saya sadar, sepenuhnya tulisan yang baik hanyalah tulisan-tulisan yang memberikan bekas yang baik pula bagi pembacanya, memberikan informasi, memberi pencerahan, mengajak kepada kebaikan, tak sekedar curhat-curhatan. Maka untuk itu, beberapa hari saya memutuskan untuk tidak memosting tulisan apapun. Saya jadi sering bertanya kepada diri saya usai menuliskan dan berniat memostingkan buah tangan saya, seberapa bermanfaatkah tulisan tersebut? Seberapa baikkah ia mengajak kepada kebaikan, atau jangan-jangan tulisan saya hanya artis-artis aji mumpung? Menggandeng akun sosial untuk sekedar mencari popularitas?

Saya terhenyak dengan jawaban seorang sahabat saat kami sedang berdiskusi, beliau mengatakan bahwa ia  mendapatkan pencerahan dari tulisan-tulisan saya, tak sungkan pula ia menyampaikan bahwa memang ada beberapa tulisan saya yang hanya untuk menjadi teman ngenet, tak ada manfaat apalagi mengajak kepada sebuah kebaikan. Maka untuk itu, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pengunjung beranda saya jika pernah dihinggapi kekecewaan dengan tulisan-tulisan saya.

Saya memutuskan untuk tetap menulis, seburuk apapun rupa mereka. Saya hanya bisa berharap bahwa suatu hari tulisan-tulisan itu akan kembali menyapa saya, menasehati atau malah menyiggung diri saya. Saya mengutip kalimat seseorang yang pernah berada di balik dinginnya jeruji besi, tapi itu malah membuatnya mampu menghasilkan karya-karya tangan yang gemilang “ karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Bima. Februari 2014

Selasa, 04 Februari 2014

Kontemplasi




Hal terbaik apa yang akan kita persembahkan untuk hari ini?
Sekiranya ini adalah yang terakhir, hari yang terakhir, minggu terakhir, bulan terakhir, tahun terakhir, apa yang akan kita  lakukan? Apa yang akan kita prasastikan untuk bumi? Untuk kehidupan? Agar kiranya, kita dapat dikenang sebagai sesuatu dalam kehidupan, sebagai sebuah kebaikan? Adakah kiranya amalan yang tidak akan putus nilainya kecuali 3 perkara ini? Amal jariah, ilmu yang bermanfaat, juga doa-doa anak yang sholeh?
Dari 3 hal tersebut, mana yang telah kita penuhi?
Amalkah?
Ilmukah?
Doa-doakah?
Akan dikenang sebagai apa kita nanti? Jika suatu hari kelak, kita hanyalah sebuah nama?
***
Selalu saja saya munafik dengan kehidupan, menjadi pengecut dari lingkaran-lingkaran masalah, tak pernah mau hidup dengan sejujur-jujurnya dengan kehidupan, berbaikan dengan apa adanya saya. Banyak jenis topeng yang selalu saya andalkan, untuk menutupi diri saya yang sebenarnya.  Saya, tidak sebaik yang orang sangkakan, tapi selalu saja Allah dengan RahmanNya menutupi aib-aib saya, menuntun saya pelan untuk kembali ke jalanNya, seperti pagi ini, saya ditegur lewat derai-derai syair dari Opick, sebuah syair tentang kematian.
Bila waktu telah terhenti teman sejati tinggalahsepi


bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yang sementara
bagai manakah bila semua
hilang dan mati meninggla kan diri mu

bagimanakah bila saat nya
waktu terhenti takkau sadari
masikah ada jalan bagi mu untuk kembali
mengulang ke masa lalu

dunia....dipunuhi dengan hiasan
semua..dan sgala yang ada
akan kembali pada nya

Reff:
bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah
bila waktu tlah terhenti
teman sejati tianggalah sepi
Bagaimana kau merasa bangga akan dunia yang sementara
dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua  dan segala yang ada akan kembali padaNya
Bila waktu telah terhenti
teman sejati tinggalah sepi....

Tiba-tiba saya gerimis lagi.
Saya lupa kapan terakhir kali memanggil nama kedua orang tua saya dengan panggilan paling mesra semesra saya memanggil orang-orang yang pernah mencuri hari-hari saya begitu lama. Saya lupa kapan terakhir kali saya menyetrikakan pakaian dinas mama juga papa, saya lupa kapan terakhir kali saya menyemirkan sepatu beliau, sementara saya selalu menyetrika rapi pakaian-pakaian saya. Adakah kebaikan orang tua terbalaskan lewat hal remeh temeh seperti demikain? saya lupa kapan terakhir kali saya memasakkan makanan yang paling lezat untuk keluarga saya, mama juga saudaa-saudara saya. Ah, ingatan, kau masih saja lumpuh, rapuh.
Saya masih ingat kapan terakhir kali mama membelikan saya 3 lembar rok berbahan sifon dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hitam, sementara dirinya hanya membeli sebuah baju daster yang harganya tidak semahal harga rok yang dibelikan untuk saya. Saya ingat kapan terakhir kali saya membelanjakan uang kiriman mama, untuk apa, dan di tempat apa saya belanjakan. Saya ingat kapan terakhir kali papa memberikan saya selembar uang berwarna biru, saat itu, saya ingin meminta lembaran yang berwarna lebih berani, merah. Sementara, bahkan satu rupiah pun saya belum pernah menghadiahkan kepada orang tua saya. Saya ingat kapan papa terakhir kali membawakan saya baso kesukaan saya, dari Bima. Ya, baso favorit saya itu dibawakan oleh papa saya dari Bima menuju Makassar, dengan menumpang sebuah pesawat, sekira 2 jam perjalanan. Saya masih ingat kapan terakhir kali mama membuatkan saya jamu kunyit asam, jamu lezat berkhasiat itu harus menempuh hal yang serupa dengan baso favorit saya, menempuh perjalanan sekira 2 jam perjalanan, dari Bima ke Makassar, dengan pesawat, jamu malang itu, harus basi karena saya hanya memainkannya saja, mengocoknya dalam sebuah botol pulpy, tidak saya teguk, ah….mama telah meluangkan waktunya untuk membuatkan saya sebotol kecil jamu dan saya tidak menghargai jerih payah itu. Saya ingat kapan papa harus melipat rapat keinginannya untuk melihat saya tetap mengenakan pakaian putih saya, seragam seorang perawat. Saya ingat kapan terakhir kali saya ngotot dan adu mulut dengan papa lantaran ketidaksetujuan saya terhadap keputusan-keputusan yang beliau putuskan. Ah, ingatan!
Saya ingat kapan terakhir kali saya menasehati seorang sahabat, padahal saya masih begitu sangat layak untuk dinasehati jauh lebih banyak.. Saya ingat kapan terakhir kali saya berpikiran buruk terhadap kebaikan-kebaikan sahabat-sahabat saya, saya ingat kapan terakhir kali saya menuliskan puisi-puisi cengeng hanya untuk sekedar melampiaskan kekecewan saya terhadap diri saya juga segelintir orang, lantaran saya tidak suka curhat secara langsung, maka demi memenuhi ego pribadi jadilah beranda saya di penuhi tuisan-tulisan cengeng dan malangnya masih saja saya biarkan duduk manis di beranda saya. Saya ingat kapan terakhir kali saya meniatkan gaji pertama saya untuk membeli sebuah kamera pocket, padahal kamera itu tidak jauh lebih penting dari membelikan sekantong beras untuk tetangga pemulung dekat pondokan, atau buku-buku yang bisa saya investasikan. Ah, ingatan!
Saya ingat kapan terakhir kali seorang pembimbing lahan saya, Ns Suhatman AH dengan sangat sabar meladeni kebuntuan dan ketelatan otak saya untuk menerima pelajaran dari beliau. Beliau adalah satu-satunya dosen sekaligus pembimbing lahan dan guru buat saya yang mengajari tentang ilmu mencuci tangan bedah dengan praktik secara langsung. Beliaulah yang paling gencar mengingatkan saya “selalu tempatkan diri kamu pada keadaan pasienmu, Em, dengan begitu kau tidak akan miskin sikap empati.” Saya ingat kapan terakhir kali saya menyaksikan seorang kepala ruangan yang hadir lebih awal dari bawahannya, ikut mendorong brankar pasien sekaligus mengurusi kebutuhan-kebutuhan pasien juga bawahannya, beliaulah yang selalu semangat memprotes tindakan-tindakan irrasional oknum-oknum tertentu yang tidak berkepentingan dengan pasien. Beliau Ners Rahmadaeni, kepala Instalasi kegawatdaruratan bagian Non Bedah Rs Wahidin. Saya ingat kapan terakhir kali, seorang senior perawat mengajarkan saya untuk tetap pede di depan pasien, untuk mencipta senyum termanis bahkan saat kondisi hati mulai senewen lantaran letih, beliaulah yang tidak pernah meninggalkan ruangan kerja sebelum semua urusan pasien benar-benar selesai, menolak duduk manis dan memangku tangan apabila asuhan keperawatan yang harus ditulis tangan benar-benar beres, beliaulah orang yang pertama kali mengenalkan saya pada seorang lak-laki tegar yang koma berbulan-bulan dan bergantung sepenuhnya pada anak juga perawat rumah sakit, bahkan suplai oksigen dibantu dari selang-selang yang berselingan dengan peralatan lainnya, sementara saya masih bernafas dengan semau  saya bahkan gratis. Beliau, perawat paling  lincah, Ners Asniati Sarda. Seorang perawat di bagian bedah saraf di salah satu Rs terkemuka di Indonesia bagian Timur. Ya, akan selalu ada orang-orang baik dalam rentang kehidupan saya, kita. Akan ada para perawat yang dengan segenap ketulusan membantu kita untuk sembuh dari penyakit yang Allah ujikan pada kita. Akan selalu ada para dokter yang pandai berempati saat tubuh kerdil kita melekat di pembaringan. Akan selalu ada stok makhluk Allah yang hatinya lapang selapang danau atau seluas samudera. Ya, Allah masih begitu sayang pada saya, kita. Tapi pernahkah kita mengingat kapan terakhir kali hati kita sungguh-sungguh ikhlas bersyukur atas nikmat-nikmat kebaikan itu? Atau setidaknya terlahir lewat lisan kita? Ah, ingatan!
Saya masih ingat kapan terakhir kali saya harus muntah dan mengeluarkan semua isi cairan lambung saya lantaran bau dari luka seorang laki-laki tegar berwajah teduh, luka itu ia dapatka setelah berbaring berbulan-bulan lamanya di tempat tidur, luka pada daerah panggulnya itu membuatnya telah menjadi sosok sabar yang luar biasa, saat sebagian orang memilih mengeluh, ia memilih hanya mengigit bibir menahan nyeri saat saya dan seorang senior membersihkan lukanya. Muslimin, lukanya telah menggugurkan dosa-dosanya. Sementara saya menangis meraung-raung lantaran baru dikecewakan. Ternyata, hati saya tidak selapang Muslimin. Saya masih ingat kapan terakhir kali saya menyaksikan seorang anak 5 tahun, sembari tersenyum ia memandangi tubuh mungil saya lekat-lekat saat saya menginjeksikan obat masuk ke dalam venanya. Kulitnya yang putih kekuningan, lantaran sel-sel darah merahnya tidak pernah berumur panjang, sel darah merahnya tidak senormal darah merah saya. Sementara saya, seringkali melukai diri saya sendiri dengan pikiran-pikiran buruk pada Tuhan saya. Ah, ingatan!
Lalu, apalah saya sekarang?
Amalkah yang telah saya tunaikan hingga menuntun dan membantu segelintir orang?
Ilmukah yang telah saya bagikan hingga bermanfaat untuk orang banyak?
Doa-doakah yang selalu saya panjatkan untuk kedua orang tua saya juga untuk saudara-saudara saya?
Kelak, kita akhirnya harus sadar sesadar-sadarnya, saat ujian beruntun datang mencekik leher-leher kita, lalu kita tersandung, maka saat itu tahulah kita, siapa sebenarnya diri kita. Selapang apa dada kita. Setabah apa doa-doa kita. Setawakal apa jiwa yang menempati jasad kasar kita.
Saya gerimis lagi, bukan karena bahagia telah mengurai kata, tapi lebih kepada sebuah kesedihan yang hakiki, betapa saya tidak pernah mensyukuri hari-hari yang masih dilapangkan untuk saya, saat napas masih benar-benar hidup dalam jasad saya, saya malah menyia-nyiakannya saja.
Di Rumah Sakit, harga Oksigen sekitar Rp3000-Rp5000/L. Manusia mampu menghirup 500cc udara dalam satu kali inspirasi normal yang kemudian di masukkan ke dalam paru-parunya, namun dalam perjalanannya udara yang sampai dalam paru-paru hanya tertinggal 350cc saja, sedangkan 150cc tertinggal dalam ruang rugi anatomi yakni di sepanjang jalan udara pernapasan. Frekuensi pernapasan normal manusia menurut Aziz Alimul Hidayat adalah 12-16x/menit. Saya mencoba mengambil rerata frekuensi pernapasan adalah 15x/menit. Maka jika dikonversi ke dalam rupiah:

                  Oksigen yang dihirup------ 350x15 = 5250cc/menit (5,25 L)
                                                                5,25x (3000-5000) = Rp15.750-Rp26.250/menit

Jika dalam 1 menit kita membutuhkan dana kira-kira Rp15.750-Rp26.250, maka dalam 1 jam kita membutuhkan Rp945.000-Rp1.575.000, dalam sehari kita membutuhkan Rp22.680.000-Rp37.800.000. angka yang cukup fantastis bagi saya!

Nilai dari angka-angka itu adalah biaya yang harus kita keluarkan setiap harinya hanya untuk urusan pernapasan saja. Padahal di dalam tubuh manusia tersimpan begitu banyak mesin-mesin ajaib lain yang kinerjanya luar biasa, jantung yang tak pernah sedetik pun berhenti memompa darah, ginjal yang tak pernah berhenti menyaring zat-zat beracun yang terbawa bersama darah, usus yang menyerap semua zat-zat nutrisi dari makanan, kolon yang meyerap air, hati tempat metabolisme, otak puncak dari segala pengatur mekanisme tubuh, dan masih banyak lagi. Tetapi Allah memberikannya gratis kepada kita. Ya, kita tak harus membayar untuk cukup menghirup udara, bukan?

Maka, untuk engkau yang masih dalam lingkaran kebaikan, bersyukurlah. Apa yang bisa diperbuat lagi selain syukur yang mengejewantah lewat rangkaian ikhtiar kerja keras? Atas kebaikan yang masih saja Allah tunjukkan kepadamu?
Untuk engkau yang jiwanya sedang dalam kesumat dendam, ingatlah ini. Jangan mau meninggalkan dunia dalam keadaan hatimu diliputi rasa dendam. Mohon izinkan hatimu lapang atas kealpaan sesamamu. Pun seharusnya kita sadar, bahwa demikianlah drama kehidupan. Sungguh, kita tak memiliki kemampuan sedikitpun atau wewenang ilmiah untuk mengatakan kepada seseorang bahwa selamanya ia akan menjadi orang baik. Maka jangan pernah kecewa, izinkan hati kita berterus terang bahwa selamanya kekecewaan hanya akan membuat luka jika tak dibarengi dengan melirik hikmah apa dibaliknya. Semua manusia berpotensi untuk menjadi buruk, pun sebaliknya, semua kita berpotensi menjadi baik. Saya teringat kisah seorang wanita yang melacurkan dirinya, pulang-pulang dari tempat pelacuran ia melihat seekor anjing tengah sekarat kehausan. Lalu dengan sepatunya, ia memberi minum kepada anjing tersebut. Cerita ini berakhir dengan ridhonya Allah mengizinkan sang wanita pelacur itu menginjakkan kakinya dalam kehijauan syurga. Lalu, apa alasan kita untuk menghakimi orang lain buruk? Sungguh, tak ada!
Kita ini manusia, hati kita dalam genggaman jemari Allah. Boleh jadi hari ini kita menjadi orang baik,tapi siapa yang mampu menjamin bahwa selamanya kita akan dalam keaadaan tersebut sepanjang hayat? Orang-orang yang selalu saja buruk di mata kita, boleh jadi suatu hari merekalah yang akan mengingatkan kita akan kebaikan.
Abdullah bin Mas’ud pernah berkata bahwa kesombongan itu adalah menolak kebenaran setelah kebenaran itu datang dan merendahkan orang lain. Hikmah tiap-tiap kejadian pasti ada. Tetapi ada jarak kita dengannya yang dihalangi oleh tembok yang tinggi menjulang. Sayangnya hanya sedikit saja yang mengetahui perihal tembok itu lantaran ia tak pernah terlihat. Tembok itu terbentuk dari sifat-sifat buruk manusia itu sendiri. Sifat dengki, iri, hasad, dendam, kikir, riya’, ujub.

 Hhh, apalagi kiranya kita ini?
Setiap hari, apa yang telah saya lakukan untuk kebaikan yang telah begitu baik kepada saya? Diajarinya kepada saya tentang hidup itu adalah menemani orang tua di kampung. Meski sebelumnya, saya seringkali mencari alasan untuk bertahan di kota orang. Dan sekarang? Ingatlah saya tentang seorang wanita separuh abad yang hidupnya sepi. Terbaring kaku di pembaringan tanpa anak-anak di sampingnya. Saat menghabiskan masa dinas di RS Wahidin di sore yang sejuk, saya dikagetkan oleh linangan air matanya. Sesegukan ia meraung-raung meminta dibelikan buah. Yah, hati siapa yang tak pilu melihatnya? Seorang wanita yang membutuhkan teman hidup, namun sayang anak-anaknya hanya mampu mengiriminya uang, sedang diri mereka terlampau jauh dari jasad sang ibu. Ketahuilah, ada lapar lain selain lapar perut. Ada dahaga lain selain dahaga tenggorokan. Barangkali saya terlalu banyak berapologi.
Untuk kamu yang memilih merawat sanak saudara di kampung ketimbang menuntut ilmu di kota orang, sabarlah. Akan ada saatnya roda dunia diputar dalam bentuk kehidupan lain untukmu. Sementara merawat, carilah ilmu di kampung. Ilmu Tuhan bertebaran di mana-mana, tak hanya di kota, bukan?
Untuk Anda yang telah memiliki pasangan hidup sah. Saat pulang dari tempat kerja, dekaplah ia. Yah, pelukan adalah obat mujarab saat kelelahan sedang mengepung kita. Genggamlah tangannya. Pelukan dan genggaman tangan akan memaksa fisik, pikiran juga seluruh jiwa kita untuk saling memeluk satu sama lain. Ada banyak bahasa yang tak akan pernah mampu terwakilkan oleh kata-kata. Tapi cukup dengan segenap ketulusan dan luasnya dada yang lapang untuk memeluk, saya berharap, Anda dan pasangan akan selalu baik-baik saja.
Akhirnya, saya harus mengatakan ini , pesan terbaik untuk diri saya juga bagi siapa saja yang menganggap bahwa tulisan ini layak untuk dikunyah dan ditelan; “hiduplah dengan jujur, persembahkanlah yang terbaik dari diri kita hari ini, sebab kemarin telah berlalu dan esok siapa yang tahu? If tomorrow never comes, do it today.

Kelak, suatu hari, jika saya begitu jauh dari episentrum tulisan-tulisan saya, tolong ingatkan saya.

Bima, 4 Februari 2014

Minggu, 02 Februari 2014

5 cm



Kepada Dealouva 
Malam semakin pekat saja, namun mata tak jua kunjung mampu terlelap dalam pejam


Ini tentang kita, saat sebuah gedung yang kita sebut sebagai sekolah menautkan ikatan, yang masih terekat kiranya hingga sekarang. Di suatu sudut kelas di siang yang kering, tawa terburai bersama sepoi angin dari ujung sawah yang membingkai halaman kelas kita.

Ini tentang kamu, Nis. Perempuan yang memilih jalan serupa dengan ayah yang telah membesarkanmu. Aku pikir kelak keluargamu menjadi keluarga dokter. Tapi untunglah Si Sani mengimbangi dan duduk di kursi profesi yang berbeda tapi kurang lebih sama-sama bermanfaatnya untuk banyak orang.

Ini tentang kamu, An. Kau lebih pantas aku sebut sebagai wanita. Di kepalaku engkau akan sempurna menyandang gelar sebagai seorang ibu. Benih di rahimmu semoga kian kokoh. Kelak kita akan bertemu dan bertatap muka sembari mengizinkan anak-anak kita bermain bebas dan mencandai ilalang seperti yang pernah kita lakukan di penyepian pada sudut-sudut kelas yang hening.

Ini tentang kamu, Pril. Kamu masih saja seperti yang dulu. Kau ada namun tak ada. Tapi persahabatan tetap membingkai diri-diri kita.

Ini tentang kamu, Oca. Perempuan mungil yang menakjubkan. Aku tak ingat ini tahun keberapa kita, yang aku ingat kita tak pernah lagi saling membersamai hingga hari luruh satu-satu.

Ini tentang kamu, Uci. Perempuan yang jiwanya selalu memberontak. Pada segala ketakberdayaan, ketertindasan. Kau perempuan pelukis yang lukisannya pernah membuat aku terpejam sembari merasakan guratan tangan di atas kertas kanvas.

Ini tentang kamu, Lina. Kau ini mirip jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Kau datang pelan-pelan tanpa aku undang, memasuki potongan-potongan hari semasa kita 
kecil dulu. Lalu tetiba saja kau pergi. Entah dengan alasan apa. Tapi kau wanita yang baik hati. Selamanya kita akan bersahabat. 

Oh, aku ingat saat kita menabrak udara yang kering, meloncati pagar demi mencari remah-remah makanan dari toko yang letaknya bersebelahan dengan sekolah kita. Saat itu, kita tak menyadari bahwa tindakan tersebut telah melanggar kode etik “sekolah”. Melompati pagar bukan naturenya perempuan. Tapi kita masih saja membandel sembari tertawa lebar menatap jauh menjenguk ke dalam jiwa satu sama lain. Betapa kita bahagia telah menjalinkan setia, setia pada sebuah ikatan persahabatan. Aku kira, persahabatan adalah salah satu bentuk berkasih sayang. Suatu hari kita akhirnya tersadarkan, bahwa ada jenis lapar lain selain lapar perut, aku menyebutnya sebagai “kelaparan kasih sayang”.
Selamanya, manusia hanya mampu hidup berdampingan dengan sesamanya, makhluk ciptaan Tuhan. 
Selamanya, manusia hanya mampu hidup jika berteman dengan alam, maka izinkan alam menjalankan titah Tuhannya. 
Entah hujan ataupun panas, biarkan mereka saling mengisi. Laiknya kita sekarang, meski jarak membentang umpama kita sedang menatap kaki langit, terlihat seperti tak pernah terjangkau. Tapi masih saja dekat dari jiwa kita, ya….hanya 5 cm di sebelah jiwa kita. Duduk dalam diam disela denyut jantung yang tak pernah letih.
Semoga kalian baik-baik saja. Berpucuk-pucuk surat telah lahir dari rahim kata-kataku. Tapi tak pernah mampu terbang, meski sebenarnya surat bak penyanyi bersayap. Ia mampu ke mana saja. Dipunggungi rindu yang kian menebal bersama helai demi helai bulu-bulunya. Biar Tuhan saja menjaga kalian.

Bima, 2 Februari 2014

Untuk sahabat-sahabatku, Dealouva. Teriring setangkup tangan yang tengadah berdoa, semoga kita kembali dipertemukan dalam sebuah kebaikan.