Beranda
mungil ini sudah lama saya tinggalkan. Sejak beberapa pekan lalu, setelah
beberapa menit lamanya saya larut dalam khusyuk pemikiran kalimat pendek oleh
seorang saudara saya, saya akhirnya memutuskan untuk jeda sejanak. Rehat dari
posting-memosting tulisan dengan sangat masif. Persis seperti orang yang sedang
aji mumpung, saya akui, menulis adalah hal lain yang membuat seseorang bisa
terkenal dalam sekejap. Dan hal itulah yang saya lakukan.
Akhir-akhir
ini saya memeram beberapa tulisan saya. Dulu, seringkali saya begitu adiksi
melihat tulisan-tulisan saya nongol di blog pribadi, memamerkan diri mereka
yang tak sempurna. Barangkali selama ini, saya menenggak terlalu banyak ekstasi
pujian, hingga lupa memusatkan pada tujuan awal untuk apa sebenarnya saya
menulis?
Saya
suka menulis apa-apa yang ingin saya sampaikan jika sesuatu itu sangat berat
untuk disampaikan secara langsung. Saya lebih suka memilih menjadi pendengar
setia daripada bercurhat secara langsung. Maka tak heran, jika kalimat-kalimat
sahabat saya memantik sisi lain pengalaman yang ia ceritakan sekaligus menyinggung
pengalaman pribadi saya, tak segan saya menuliskannya lalu memostingnya begitu
saja tanpa sensor. Tapi akhirnya saya sadar, sepenuhnya tulisan yang baik
hanyalah tulisan-tulisan yang memberikan bekas yang baik pula bagi pembacanya,
memberikan informasi, memberi pencerahan, mengajak kepada kebaikan, tak sekedar
curhat-curhatan. Maka untuk itu, beberapa hari saya memutuskan untuk tidak memosting
tulisan apapun. Saya jadi sering bertanya kepada diri saya usai menuliskan dan
berniat memostingkan buah tangan saya, seberapa bermanfaatkah tulisan tersebut?
Seberapa baikkah ia mengajak kepada kebaikan, atau jangan-jangan tulisan saya
hanya artis-artis aji mumpung? Menggandeng akun sosial untuk sekedar mencari
popularitas?
Saya
terhenyak dengan jawaban seorang sahabat saat kami sedang berdiskusi, beliau
mengatakan bahwa ia mendapatkan
pencerahan dari tulisan-tulisan saya, tak sungkan pula ia menyampaikan bahwa
memang ada beberapa tulisan saya yang hanya untuk menjadi teman ngenet, tak ada manfaat apalagi mengajak
kepada sebuah kebaikan. Maka untuk itu, saya menyampaikan permohonan maaf
sebesar-besarnya kepada seluruh pengunjung beranda saya jika pernah dihinggapi
kekecewaan dengan tulisan-tulisan saya.
Saya
memutuskan untuk tetap menulis, seburuk apapun rupa mereka. Saya hanya bisa
berharap bahwa suatu hari tulisan-tulisan itu akan kembali menyapa saya,
menasehati atau malah menyiggung diri saya. Saya mengutip kalimat seseorang
yang pernah berada di balik dinginnya jeruji besi, tapi itu malah membuatnya mampu
menghasilkan karya-karya tangan yang gemilang “ karena kau menulis, suaramu
takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
(Pramoedya Ananta Toer)
Bima. Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar