Sabtu, 22 Februari 2014

Catatan Tak Usai




Beranda mungil ini sudah lama saya tinggalkan. Sejak beberapa pekan lalu, setelah beberapa menit lamanya saya larut dalam khusyuk pemikiran kalimat pendek oleh seorang saudara saya, saya akhirnya memutuskan untuk jeda sejanak. Rehat dari posting-memosting tulisan dengan sangat masif. Persis seperti orang yang sedang aji mumpung, saya akui, menulis adalah hal lain yang membuat seseorang bisa terkenal dalam sekejap. Dan hal itulah yang saya lakukan.

Akhir-akhir ini saya memeram beberapa tulisan saya. Dulu, seringkali saya begitu adiksi melihat tulisan-tulisan saya nongol di blog pribadi, memamerkan diri mereka yang tak sempurna. Barangkali selama ini, saya menenggak terlalu banyak ekstasi pujian, hingga lupa memusatkan pada tujuan awal untuk apa sebenarnya saya menulis?

Saya suka menulis apa-apa yang ingin saya sampaikan jika sesuatu itu sangat berat untuk disampaikan secara langsung. Saya lebih suka memilih menjadi pendengar setia daripada bercurhat secara langsung. Maka tak heran, jika kalimat-kalimat sahabat saya memantik sisi lain pengalaman yang ia ceritakan sekaligus menyinggung pengalaman pribadi saya, tak segan saya menuliskannya lalu memostingnya begitu saja tanpa sensor. Tapi akhirnya saya sadar, sepenuhnya tulisan yang baik hanyalah tulisan-tulisan yang memberikan bekas yang baik pula bagi pembacanya, memberikan informasi, memberi pencerahan, mengajak kepada kebaikan, tak sekedar curhat-curhatan. Maka untuk itu, beberapa hari saya memutuskan untuk tidak memosting tulisan apapun. Saya jadi sering bertanya kepada diri saya usai menuliskan dan berniat memostingkan buah tangan saya, seberapa bermanfaatkah tulisan tersebut? Seberapa baikkah ia mengajak kepada kebaikan, atau jangan-jangan tulisan saya hanya artis-artis aji mumpung? Menggandeng akun sosial untuk sekedar mencari popularitas?

Saya terhenyak dengan jawaban seorang sahabat saat kami sedang berdiskusi, beliau mengatakan bahwa ia  mendapatkan pencerahan dari tulisan-tulisan saya, tak sungkan pula ia menyampaikan bahwa memang ada beberapa tulisan saya yang hanya untuk menjadi teman ngenet, tak ada manfaat apalagi mengajak kepada sebuah kebaikan. Maka untuk itu, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pengunjung beranda saya jika pernah dihinggapi kekecewaan dengan tulisan-tulisan saya.

Saya memutuskan untuk tetap menulis, seburuk apapun rupa mereka. Saya hanya bisa berharap bahwa suatu hari tulisan-tulisan itu akan kembali menyapa saya, menasehati atau malah menyiggung diri saya. Saya mengutip kalimat seseorang yang pernah berada di balik dinginnya jeruji besi, tapi itu malah membuatnya mampu menghasilkan karya-karya tangan yang gemilang “ karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Bima. Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar