Kepada Dealouva
Malam
semakin pekat saja, namun mata tak jua kunjung mampu terlelap dalam pejam
Ini
tentang kita, saat sebuah gedung yang kita sebut sebagai sekolah menautkan
ikatan, yang masih terekat kiranya hingga sekarang. Di suatu sudut kelas di siang
yang kering, tawa terburai bersama sepoi angin dari ujung sawah yang membingkai
halaman kelas kita.
Ini
tentang kamu, Nis. Perempuan yang memilih jalan serupa dengan ayah yang telah
membesarkanmu. Aku pikir kelak keluargamu menjadi keluarga dokter. Tapi
untunglah Si Sani mengimbangi dan duduk di kursi profesi yang berbeda tapi kurang
lebih sama-sama bermanfaatnya untuk banyak orang.
Ini
tentang kamu, An. Kau lebih pantas aku sebut sebagai wanita. Di kepalaku engkau
akan sempurna menyandang gelar sebagai seorang ibu. Benih di rahimmu semoga
kian kokoh. Kelak kita akan bertemu dan bertatap muka sembari mengizinkan
anak-anak kita bermain bebas dan mencandai ilalang seperti yang pernah kita
lakukan di penyepian pada sudut-sudut kelas yang hening.
Ini
tentang kamu, Pril. Kamu masih saja seperti yang dulu. Kau ada namun tak ada.
Tapi persahabatan tetap membingkai diri-diri kita.
Ini
tentang kamu, Oca. Perempuan mungil yang menakjubkan. Aku tak ingat ini tahun
keberapa kita, yang aku ingat kita tak pernah lagi saling membersamai hingga
hari luruh satu-satu.
Ini
tentang kamu, Uci. Perempuan yang jiwanya selalu memberontak. Pada segala
ketakberdayaan, ketertindasan. Kau perempuan pelukis yang lukisannya pernah
membuat aku terpejam sembari merasakan guratan tangan di atas kertas kanvas.
Ini
tentang kamu, Lina. Kau ini mirip jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang
tak diantar. Kau datang pelan-pelan tanpa aku undang, memasuki
potongan-potongan hari semasa kita
kecil dulu. Lalu tetiba saja kau pergi.
Entah dengan alasan apa. Tapi kau wanita yang baik hati. Selamanya kita akan
bersahabat.
Oh,
aku ingat saat kita menabrak udara yang kering, meloncati pagar demi mencari
remah-remah makanan dari toko yang letaknya bersebelahan dengan sekolah kita.
Saat itu, kita tak menyadari bahwa tindakan tersebut telah melanggar kode etik
“sekolah”. Melompati pagar bukan naturenya perempuan. Tapi kita masih saja
membandel sembari tertawa lebar menatap jauh menjenguk ke dalam jiwa satu sama
lain. Betapa kita bahagia telah menjalinkan setia, setia pada sebuah ikatan
persahabatan. Aku kira, persahabatan adalah salah satu bentuk berkasih sayang.
Suatu hari kita akhirnya tersadarkan, bahwa ada jenis lapar lain selain lapar
perut, aku menyebutnya sebagai “kelaparan kasih sayang”.
Selamanya,
manusia hanya mampu hidup berdampingan dengan sesamanya, makhluk ciptaan Tuhan.
Selamanya, manusia hanya mampu hidup jika berteman dengan alam, maka izinkan
alam menjalankan titah Tuhannya.
Entah hujan ataupun panas, biarkan mereka
saling mengisi. Laiknya kita sekarang, meski jarak membentang umpama kita
sedang menatap kaki langit, terlihat seperti tak pernah terjangkau. Tapi masih
saja dekat dari jiwa kita, ya….hanya 5 cm di sebelah jiwa kita. Duduk dalam
diam disela denyut jantung yang tak pernah letih.
Semoga
kalian baik-baik saja. Berpucuk-pucuk surat telah lahir dari rahim kata-kataku.
Tapi tak pernah mampu terbang, meski sebenarnya surat bak penyanyi bersayap. Ia
mampu ke mana saja. Dipunggungi rindu yang kian menebal bersama helai demi
helai bulu-bulunya. Biar Tuhan saja menjaga kalian.
Bima, 2 Februari 2014
Untuk sahabat-sahabatku, Dealouva. Teriring setangkup tangan yang tengadah berdoa, semoga kita kembali dipertemukan dalam sebuah kebaikan.
Kak Em, pada tulisan ini ada Kak Em... beberapa tulisan sebelumnya tak kutemukan ia. Namun, yang kutemukan adalah aku, azur dan beberapa penulis bayangan.
BalasHapusDi tulisan ini jiwamu hadir. Di tulisan ini, aku mampu menghirup aroma tubuhmu. Jadilah dirimu saja... :*
wah, asem yah,,,,belum mandi^^
BalasHapus