Sabtu, 01 Februari 2014

Kelindan



 Seketika bahagia menaburi petak-petak hatiku, hadirmu, kalian, anak-anak penyejuk mata hati...

Sepasang pipi anak-anak menyimpan konsentrat aroma therapy yang kuat juga kelembutan yang melebihi ice cream. Bayangkan, hanya dengan mengecup sembari mengendus bau mereka, Anda bisa merasa rileks. Saratnya, cukup kecup dengan segenap ketulusan dan rasa sayang, maka Anda bisa mendapatkan apa yang Anda cari: ketenangan!


Penelitian kecil-kecilan ini saya lakukan pada beberapa anak-anak yang pernah  saya peluk. Hohoho, mereka memang qurrata ‘ayun, penyejuk mata sekaligus penyejuk hati. Seperti tiga orang keponakan saya.

Si Sulung, Hilmy, adalah bocah pertama yang saya miliki. Tidak, dia tak pernah mampir apalagi mendiami rahim saya, hanya saja, karena pertalian darah saya dan ibundanya, maka saya menganggapnya seperti anak saya sendiri. Dia pernah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya. Secara garis besar, memiliki keponakan sepertinya adalah anugerah yang luar biasa. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung proses kelahiran seorang anak manusia. Awal kelahirannya saya sempat gugup lantaran baby Hilmy tidak menangis, kepanikan mengalihkan fokus saya. Sebab, yang menandakan bayi lahir dalam keadaan sehat adalah kemampuannya menangis kencang. Bidan yag menggendongnya mencubit baby Hilmy, dan Alhamdulillah, Ia adalah baby yang lincah. Pekikan suaranya melengking keras. Hingga hari ini, perasaan saya ketika menatapnya sama seperti kali pertama ia saya gendong. Sebuah perasaan yang tak pernah mampu saya definisikan dengan jelas. Seperti tatkala tulisan ini terangkai, saya benar-benar merindukannya. Sewaktu di Makassar, sesibuk apapun, saat saya merindukannya saya bahkan mampu berjalan kaki di siang yang terik dari pondokan menuju rumahnya yang jauhnya sekira 1,5 km hanya untuk sekedar menyaksikan ia menatap layar laptop berlama-lama atau untuk mencari informasi apalagi yang telah ia lakukan terhadap teman-teman di sekolahnya.

Si Tengah, Faruq. Ia berbeda dari keponakan pertama saya. Anak ini lembut tapi cerewet. Di usianya yang menginjak 2 tahun, si kecil Faruq benar-benar anak yang tak boleh diajari sembarang kalimat. Kepintaran vokalnya telah membuat ayah bundanya menggeleng-geleng kepala. Anak ini memiliki kulit yang lebih cerah dari Hilmy. Waktu kelahirannya adalah pengalaman yang paling menegangkan sepanjang rentang hidup saya. Ibundanya terpaksa harus dirangsang menggunakan hormon dari luar, Oksitosin. Dokter telah memperingatkan bahwa sang bunda harus memeriksakan kandungannya pada pekan tersebut, tapi karena banyak hal yang harus ia kerjakan, akhirnya jadwal pemeriksaan itu terlewatkan begitu saja.
Di subuh buta, sang bunda merasakan nyeri pada bagian perutnya. Teringat bahwa ia telah mencapai pekan terakhir usia kehamilan normal, sadarlah ia mungkin nyeri tersebut merupakan tanda awal persalinan. Cepat-cepat ia dan sang suami menuju klinik di pinggiran kota Makassar. Berdasarkan hasil pemeriksaan dalam dari bidan klinik, sang bunda telah memasuki tahap kala I persalinan fase laten. Tahap ini ditandai dengan membukanya serviks atau mulut rahim selebar 1 cm atau sekitar 1 jari tangan (pembukaan 1) juga disertai dengan bercak darah. Mendengar hal tersebut, sang suami menyuruh istrinya untuk tetap tinggal di klinik. Sang istri menurut, lagian sang dokter telah memberikan wejangan manis padanya untuk tinggal di klinik.
Tak ada perubahan, sakit ataupun kemajuan persalinan. Pasangan suami istri itu telah lama di klinik, tapi tak ada tanda-tanda kemajuan persalinan. Entahlah, mungkin karena primipara alias hamil anak pertama maka ia mengalami lambatnya kemajuan persalinan. Akhirnya sang dokter mengizinkan mereka pulang dan kembali lagi esoknya.
Malam-malam dilewati seperti hari-hari biasanya, hanya disertai keluhan sakit yang masih mampu ia tahan. Malam itu saya masih bisa terlelap meski diliputi kecemasan. Tinggal bersama mereka tentu saja menjadi bagian dari mereka.
Esoknya, kami berangkat menuju klinik. Alhamdulillah, kemajuan persalinan semakin meningkat, pembukaan 2. Lama kami menunggu di klinik. Pekerjaan saya adalah memijati seluruh tubuhnya, sementara suaminya mengelus-elus kepalanya pelan-pelan. Saat sang istri mengerang kesakitan, dipeluknya kuat-kuat sang istri seolah-olah ia ingin memindahkan rasa sakit pada tubuhnya. Memang, tak ada yang bisa membuat seorang anak manusia nyaman dari rasa nyeri selain obat kecuali perhatian dalam bentuk usapan atau pelukan dari orang-orang yang tersayang. Jika sudah seperti ini, mata saya seketika berembun, kasian melihat mukanya memerah akibat menahan rasa sakit sekaligus teringat semasa kecil. Ingatan masa kanak-kanak adalah saat yang sungguh nyaman, saat saya sakit, mama akan meniupkan doa-doa pada telapak tangannya, diusapkannya uap doa-doa itu dari ujung rambut hingga ujung kaki saya, hingga saya tertidur.
Berjam-jam kami lalui hanya dengan menunggui kak Erin. Akhirnya sang dokter memutuskan untuk menyuntikkan hormon dari luar untuk merangsang uterus atau rahimnya lebih berkontraksi, Ia tambah kesakitan, jika awalnya dia merasa nyaman dengan usapan dan pelukan, sekarang tidak lagi. Ia tak ingin di sentuh, tak ingin mendengar suara pembicaraan, kami hanya sekedar menjadi penontonnya, melihatnya kesakitan sendiri, yah, tapi setidaknya kami tetap bisa menemaninya. Tambah kepayahan, air matanya meleleh dari bukit-bukit pipinya.
Alhamdulillah, setelah lama menunggu, tanda-tanda persalinan semakin sempurna, pembukaan 10, cairan ketuban pun sudah pecah. Bidan membimbingnya mengejan, lama sungguh sangat lama, aneh, kepala bayi seolah-olah tidak turun dari dasar panggul menuju liang pengeluaran. Bidan memprediksikan bahwa sang bayi terlilit tali pusat. Oh Tuhan, mudahkanlah!
Detik demi detik kami lalui dengan penuh ketegangan. Sang suami beku menatap istrinya. Tak mampu melakukan apapun. Sementara sang istri merintih kesakitan, bidan akhirnya angkat tangan. Jalan terakhir, harus di-caesar. Saya akhirnya beku. Lama kami berunding. Tak ada jalan lain kecuali diopersi. Sang bayi ternyata ingin melihat dunia lewat jendela, bukan lewat pintu yang lazimnya dilalui. Cepat-cepat ia dibawa dengan taksi menuju klinik yang lebih besar.
Ruangan itu hanya terlihat seperti sebuah rumah singgah dengan ornamen-ornamen artistik. Lukisan dewi-dewi antah berantah memenuhi ruangan. Bunga-bunga aneka warna memperindah sudut ruang. Tak kelihatan bahwa tempat ini adalah klinik bersalin, satu-satunya yang menandakan bahwa rumah tersebut adalah klinik hanyalah foto-foto dokter bersama perawat dan bacaan-bacaan seputar persalinan yang tertepel manis di dinding juga papan besar bertuliskan nama klinik tersebut yang berada tepat di pintu masuk. Kak Salman di panggil untuk menemui bayi yang lama kami tunggu. Alhamdulillah, puji Tuhan, Rabb yang di tanganNya semua urusan manusia. Bayi mungil itu membiru pada akralnya, mungkin karena ketubannya kering selama perjalanan menuju klinik, tapi masih kuat bernafas meski suara tangisannya seperti rintihan-rintihan kecil. Saya menatap jemarinya yang mungil. Pipinya lembut sekali. Ah, saya tak berani memeganginya, takut kalau-kalau saya ini terlalu kotor untuk bayi mungil sepertinya. Bayi itu diberi nama Qais Al Faruq.
Sebulan lamanya saya mengasuhnya, urusan menyusui saya serahkan pada ibundanya. Alasan teknis, saya pelajari pelan-pelan. Tetiba saja saya menjadi seorang ibu rumah tangga dadakan. Tak ada persiapan khusus apalagi yang lain. Hanya sedikit ilmu keperawatan yang saya pelajari di kampus menjadi modal saya. Ibunya harus banyak istirahat. Meskipun ia juga tak boleh berdiam diri di tempat tidur. Banyak berjalan akan memperlancar aliran darah menuju jejas dari luka opesi di perutnya, sehingga proses penyembuhan lebih optimal. 

Si Bungsu saya, Hisyam Annabih. Bayi ini tenang sekali. Hisyam adalah adik kandung dari Hilmy. Tak banyak yang bisa saya ceritakan selain senyum-senyumnya yang indah. Dia tidak ribut seperti kakaknya. Baby Hisyam tak suka banyak bertingkah. Seringkali saya sengaja membangunkannya dari tidurnya yang lelap. Saya gemas, bayi saya ini sangat menyukai tidur. Hingga umurnya 6 bulan, ia lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya untuk tidur.
Ketiga bayi ini, membesar di telapak tangan saya. Saya adalah ibu kedua dari ibu kandungnya. Seperti itulah pertalian antara saya dengan mereka, seperti kelindan benang dari sebuah lubang jarum yang saling bertaut.

Bima, 1 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar