Seketika
bahagia menaburi petak-petak hatiku, hadirmu, kalian, anak-anak penyejuk mata
hati...
Sepasang
pipi anak-anak menyimpan konsentrat aroma therapy
yang kuat juga kelembutan yang melebihi ice
cream. Bayangkan, hanya dengan mengecup sembari mengendus bau mereka, Anda
bisa merasa rileks. Saratnya, cukup kecup dengan segenap ketulusan dan rasa
sayang, maka Anda bisa mendapatkan apa yang Anda cari: ketenangan!
Penelitian
kecil-kecilan ini saya lakukan pada beberapa anak-anak yang pernah saya peluk. Hohoho, mereka memang qurrata ‘ayun, penyejuk mata sekaligus
penyejuk hati. Seperti tiga orang keponakan saya.
Si
Sulung, Hilmy, adalah bocah pertama yang saya miliki. Tidak, dia tak pernah
mampir apalagi mendiami rahim saya, hanya saja, karena pertalian darah saya dan
ibundanya, maka saya menganggapnya seperti anak saya sendiri. Dia pernah saya
ceritakan pada tulisan sebelumnya. Secara garis besar, memiliki keponakan
sepertinya adalah anugerah yang luar biasa. Untuk pertama kalinya saya
menyaksikan secara langsung proses kelahiran seorang anak manusia. Awal
kelahirannya saya sempat gugup lantaran baby
Hilmy tidak menangis, kepanikan mengalihkan fokus saya. Sebab, yang menandakan
bayi lahir dalam keadaan sehat adalah kemampuannya menangis kencang. Bidan yag
menggendongnya mencubit baby Hilmy,
dan Alhamdulillah, Ia adalah baby yang lincah. Pekikan suaranya
melengking keras. Hingga hari ini, perasaan saya ketika menatapnya sama seperti
kali pertama ia saya gendong. Sebuah perasaan yang tak pernah mampu saya definisikan
dengan jelas. Seperti tatkala tulisan ini terangkai, saya benar-benar
merindukannya. Sewaktu di Makassar, sesibuk apapun, saat saya merindukannya
saya bahkan mampu berjalan kaki di siang yang terik dari pondokan menuju
rumahnya yang jauhnya sekira 1,5 km hanya untuk sekedar menyaksikan ia menatap
layar laptop berlama-lama atau untuk mencari informasi apalagi yang telah ia
lakukan terhadap teman-teman di sekolahnya.
Si
Tengah, Faruq. Ia berbeda dari keponakan pertama saya. Anak ini lembut tapi
cerewet. Di usianya yang menginjak 2 tahun, si kecil Faruq benar-benar anak
yang tak boleh diajari sembarang kalimat. Kepintaran vokalnya telah membuat
ayah bundanya menggeleng-geleng kepala. Anak ini memiliki kulit yang lebih
cerah dari Hilmy. Waktu kelahirannya adalah pengalaman yang paling menegangkan
sepanjang rentang hidup saya. Ibundanya terpaksa harus dirangsang menggunakan
hormon dari luar, Oksitosin. Dokter telah memperingatkan bahwa sang bunda harus
memeriksakan kandungannya pada pekan tersebut, tapi karena banyak hal yang
harus ia kerjakan, akhirnya jadwal pemeriksaan itu terlewatkan begitu saja.
Di
subuh buta, sang bunda merasakan nyeri pada bagian perutnya. Teringat bahwa ia
telah mencapai pekan terakhir usia kehamilan normal, sadarlah ia mungkin nyeri
tersebut merupakan tanda awal persalinan. Cepat-cepat ia dan sang suami menuju
klinik di pinggiran kota Makassar. Berdasarkan hasil pemeriksaan dalam dari
bidan klinik, sang bunda telah memasuki tahap kala I persalinan fase laten.
Tahap ini ditandai dengan membukanya serviks atau mulut rahim selebar 1 cm atau
sekitar 1 jari tangan (pembukaan 1) juga disertai dengan bercak darah.
Mendengar hal tersebut, sang suami menyuruh istrinya untuk tetap tinggal di
klinik. Sang istri menurut, lagian sang dokter telah memberikan wejangan manis
padanya untuk tinggal di klinik.
Tak
ada perubahan, sakit ataupun kemajuan persalinan. Pasangan suami istri itu
telah lama di klinik, tapi tak ada tanda-tanda kemajuan persalinan. Entahlah,
mungkin karena primipara alias hamil anak pertama maka ia mengalami lambatnya
kemajuan persalinan. Akhirnya sang dokter mengizinkan mereka pulang dan kembali
lagi esoknya.
Malam-malam
dilewati seperti hari-hari biasanya, hanya disertai keluhan sakit yang masih
mampu ia tahan. Malam itu saya masih bisa terlelap meski diliputi kecemasan.
Tinggal bersama mereka tentu saja menjadi bagian dari mereka.
Esoknya,
kami berangkat menuju klinik. Alhamdulillah,
kemajuan persalinan semakin meningkat, pembukaan 2. Lama kami menunggu di
klinik. Pekerjaan saya adalah memijati seluruh tubuhnya, sementara suaminya
mengelus-elus kepalanya pelan-pelan. Saat sang istri mengerang kesakitan,
dipeluknya kuat-kuat sang istri seolah-olah ia ingin memindahkan rasa sakit
pada tubuhnya. Memang, tak ada yang bisa membuat seorang anak manusia nyaman
dari rasa nyeri selain obat kecuali perhatian dalam bentuk usapan atau pelukan
dari orang-orang yang tersayang. Jika sudah seperti ini, mata saya seketika
berembun, kasian melihat mukanya memerah akibat menahan rasa sakit sekaligus
teringat semasa kecil. Ingatan masa kanak-kanak adalah saat yang sungguh nyaman,
saat saya sakit, mama akan meniupkan doa-doa pada telapak tangannya,
diusapkannya uap doa-doa itu dari ujung rambut hingga ujung kaki saya, hingga
saya tertidur.
Berjam-jam
kami lalui hanya dengan menunggui kak Erin. Akhirnya sang dokter memutuskan
untuk menyuntikkan hormon dari luar untuk merangsang uterus atau rahimnya lebih
berkontraksi, Ia tambah kesakitan, jika awalnya dia merasa nyaman dengan usapan
dan pelukan, sekarang tidak lagi. Ia tak ingin di sentuh, tak ingin mendengar
suara pembicaraan, kami hanya sekedar menjadi penontonnya, melihatnya kesakitan
sendiri, yah, tapi setidaknya kami tetap bisa menemaninya. Tambah kepayahan,
air matanya meleleh dari bukit-bukit pipinya.
Alhamdulillah,
setelah lama menunggu, tanda-tanda persalinan semakin sempurna, pembukaan 10,
cairan ketuban pun sudah pecah. Bidan membimbingnya mengejan, lama sungguh sangat
lama, aneh, kepala bayi seolah-olah tidak turun dari dasar panggul menuju liang
pengeluaran. Bidan memprediksikan bahwa sang bayi terlilit tali pusat. Oh
Tuhan, mudahkanlah!
Detik demi
detik kami lalui dengan penuh ketegangan. Sang suami beku menatap istrinya. Tak
mampu melakukan apapun. Sementara sang istri merintih kesakitan, bidan akhirnya
angkat tangan. Jalan terakhir, harus di-caesar.
Saya akhirnya beku. Lama kami berunding. Tak ada jalan lain kecuali diopersi.
Sang bayi ternyata ingin melihat dunia lewat jendela, bukan lewat pintu yang
lazimnya dilalui. Cepat-cepat ia dibawa dengan taksi menuju klinik yang lebih
besar.
Ruangan
itu hanya terlihat seperti sebuah rumah singgah dengan ornamen-ornamen artistik.
Lukisan dewi-dewi antah berantah memenuhi ruangan. Bunga-bunga aneka warna memperindah
sudut ruang. Tak kelihatan bahwa tempat ini adalah klinik bersalin,
satu-satunya yang menandakan bahwa rumah tersebut adalah klinik hanyalah
foto-foto dokter bersama perawat dan bacaan-bacaan seputar persalinan yang
tertepel manis di dinding juga papan besar bertuliskan nama klinik tersebut
yang berada tepat di pintu masuk. Kak Salman di panggil untuk menemui bayi yang
lama kami tunggu. Alhamdulillah, puji
Tuhan, Rabb yang di tanganNya semua urusan manusia. Bayi mungil itu membiru pada akralnya, mungkin
karena ketubannya kering selama perjalanan menuju klinik, tapi masih kuat
bernafas meski suara tangisannya seperti rintihan-rintihan kecil. Saya menatap jemarinya yang mungil. Pipinya lembut sekali. Ah, saya tak
berani memeganginya, takut kalau-kalau saya ini terlalu kotor untuk bayi mungil
sepertinya. Bayi itu diberi nama Qais Al Faruq.
Sebulan
lamanya saya mengasuhnya, urusan menyusui saya serahkan pada ibundanya. Alasan
teknis, saya pelajari pelan-pelan. Tetiba saja saya menjadi seorang ibu rumah
tangga dadakan. Tak ada persiapan khusus apalagi yang lain. Hanya sedikit ilmu keperawatan
yang saya pelajari di kampus menjadi modal saya. Ibunya harus banyak istirahat.
Meskipun ia juga tak boleh berdiam diri di tempat tidur. Banyak berjalan akan
memperlancar aliran darah menuju jejas dari luka opesi di perutnya, sehingga
proses penyembuhan lebih optimal.
Si
Bungsu saya, Hisyam Annabih. Bayi ini tenang sekali. Hisyam adalah adik kandung
dari Hilmy. Tak banyak yang bisa saya ceritakan selain senyum-senyumnya yang
indah. Dia tidak ribut seperti kakaknya. Baby
Hisyam tak suka banyak bertingkah. Seringkali saya sengaja membangunkannya
dari tidurnya yang lelap. Saya gemas, bayi saya ini sangat menyukai tidur.
Hingga umurnya 6 bulan, ia lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya untuk
tidur.
Ketiga
bayi ini, membesar di telapak tangan saya. Saya adalah ibu kedua dari ibu
kandungnya. Seperti itulah pertalian antara saya dengan mereka, seperti
kelindan benang dari sebuah lubang jarum yang saling bertaut.
Bima, 1 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar