Hai,
kenalkan teman baru saya. Vivi Revina. Oh, maaf, sebenarnya dia adalah junior
saya dulu semasa duduk di bangku sekolah menengah atas. Antara saya dan Vivi
berbeda setahun umur saja. Jadi walaupun kami bekerja di tempat yang sama dan
dia lebih senior di tempat itu, dia tetap memanggil saya “kak Ice”. Oh ya,
“Ice” adalah nama kecil saya. Di kampung malah tak ada yang tahu bahwa nama
lengkap saya adalah Emy Gufarni. Kecuali teman-teman saya tentunya. Lucu yah.
Well,
lain kali saja saya bercerita tentang “Ice”-Cream-
(yummy....^^)
Pernah
melihat seorang perempuan kekar karena otot-ototnya dilatih dengan dambel atau barbel? Menurut kamu,
perempuan seperti itu keren? Luar biasa? Jika jawabanmu iya, saya ingin
tunjukkan perempuan lain yang jauh lebih keren lagi.
Tubuhnya
cukup berisi, yah, setidaknya mendesak lengan baju berukuran L. Perawakannya
tak seperti Xena. Jika berjalan, selalu cepat, seolah ada yang sedang ia kejar.
jika berkata-kata, suaranya mantap dengan fokal yang sangat penuh, kira-kira
suaranya berada pada tangga nada ke 4, juga sangat jelas sejelas nun sukun
bertemu dengan huruf ro. Tapi jika tersenyum, wajahnya penuh sekali, penuh
dengan aura optimistis lagi manis.
Menurut
saya, diusianya yang setahun lebih muda dari saya, barangkali ia mendesak-desak
pikirannya dengan kata-kata kangen pada seorang pacar. Tapi tidak! Tak pernah
sama sekali ia berbicara tentang lak-laki seperti kebanyakan teman-teman saya
yang lain. Topik pembicaraan kami setiap masa-masa dinas selalu sama, tentang
dagang jilid I, dagang jilid II, dagang jilid III, bahkan mungkin nanti hingga
dagang jilid tak terhingga. Sampai saya pening memikirkannya. Terbawa hingga
masuk ke dalam arus mimpi yang menjebak saya kepada jalan kebenaran. Jalan kebenaran
yang saya maksud adalah mandiri. Tak meminta lagi uang pada orang tua. Mencoba
berdagang apa saja yang bisa dilakukan.
Sejak
kecil, naluri dagangnya sudah dilatih oleh sang ibu yang memang pedagang.
Rumahnya terletak di pinggir pasar, jadi setiap hari dia berinteraksi dengan
banyak pedagang. Menjelang duduk di bangku SLTP, dia mulai membawa dagangannya
ke sekolah. “Yah, sekedar cemilan-cemilan kecil kak Ice”.
Di
tingkatan sekolah lebih tinggi lagi ia mengepakkan sayap. Ia membawa aneka
barang-barang kebutuhan khas perempuan, pakaian juga perlengkapan lainnya. Ia
memberikan kredit kepada teman-temannya. Barang-barang itu dicicil sesuai
kantong pemesan, hingga lunas.
“Semasa
kuliah kak saya masih bedagang, bahkan pernah saya membawa sepatu dua karung
dan saya jual di pinggir kampung. Saya meminjam uang sebagi modal, saya putar
untuk mendapatkan keuntungan yang halal, subuh-subuh saya sudah bangun membantu
mamak yang menjual nasi. Muka saya ini kak legam terpanggang api. Saya sudah
terbiasa dengan hidup pahit kak. Setidaknya melatih diri saya untuk tidak kaget
jika suatu saat saya harus berada dalam kondisi yang sama. Di pasar itu apa aja
laku kak. Yang penting mau dan tidak malu. Itu aja. Rumah orang tua saya, saya
sendiri yang membeli seng ratusan lembar, ubin saya beli juga. Uangnya saya
dapat dari hasil dagang. Nanti, jika saya punya suami, saya tidak mau hanya mengharapkan
nafkah dari darinya, tapi jika diberi saya bersyukur.”
Saya
hanya bisa khusyuk mendengarkan ceritanya. Lebih tepatnya gagu hendak berbicara
apa. Pengalaman apa yang bisa saya bagi? Perempuan muda itu seperti lebih tua
dan jauh lebih dewasa puluhan tahun dari saya. Saya seolah-olah menjadi anak
bimbingannya yang sedang ditatar untuk memasuki kehidupan bermasyarakat
sesungguhnya. Selama ini, berada dalam lingkungan perkuliahan, saya seolah-olah
mampu menaksir hidup ideal, banyak uang dan apapun bisa saya lakukan. Tapi bagaiman
jika kelak telah hidup sesungguhnya? Bermasyarakat, lingkungan kerja, dan
lain-lain? Benarkah masih mampu seideal
seperti kuliah dulu? Atau jangan-jangan
buku-buku telah banyak menyulap pikiran tanpa mampu diintegrasikan dengan bijak
dengan kehidupan yang sesungguhnya?
Seperti
hari-hari yang pernah saya lalui di kampung orang, saya memulai lagi dari nol.
Vivi mengajak saya untuk bedagang.
“masalah
jual menjual kak Ice tak usah pikirkan, yang penting pasokan barang lancar”
Kira-kira
maksudnya, saya produsen dan dia distributor.
Bagi
saya, Vivi adalah perempuan keren.
Bima, 25 Mei 2014