Minggu, 18 Mei 2014

Bulan di Atas Ikhtiar


Angin malam mengusap-usap pipi, masuk ke dalam pori-pori, menggigilkan nadi. Tapi bulan sedang purnama. Tak apa-apakan menikmatinya sedang angin dingin menggigilkan badan?

Tak jauh dari lingkaran  bulan, tiga buah bintang mengitari. Kecil, hampir tak tampak, cahayanya redup terkalahkan oleh sinar rembulan yang jauh lebih terang. Semoga bulan tidak akan pernah sombong, sebab seingatku, bulan tak pernah memiliki cahaya sendiri. Itu lebih menyedihkan dari pada sebuah bintang yang hampir tak tampak dalam redup cahayanya. Bulan hanya meminjam cahaya matahari untuk dipantulkan menjadi sinar. Indah memang. 

Dulu, pernah sekali waktu aku menikmatinya di atas Ikhtiar, mesjid mewah di jalan Perintis, Makassar. Kutabrak saja rinai hujan yang gerimis. Aneh, hebat nian malam masih mengizinkan bulan bercahaya begitu terang padahal awan merintihkan tangisan dan turun sebagai  gerimis. Basah sudah kulit tanganku yang sedari tadi sengaja aku tampakkan di hadapan malam. Malam itu aku mendapat jatah dinas siang di salah satu Rumah Sakit. Ketika pulang tak ada yang sempat untuk menjemput. Ah, maaf, aku sama sekali tak memiliki ojek pribadi. Barangkali kemampuan finansial yang masih menggelantung di bawah bayangan orang tua membuat aku menjadikannya alasan yang cukup kuat. Sebagai akibatnya, aku selalu pulang sendirian walaupun malam hari. Terkadang, aku terlalu berani melawan malam meski malam kadang terlalu lebih buas dari drakula penghisap darah. Di pikiranku, malam selalu indah, lebih indah dari kamboja atau Geranium. Saat aku harus keluar malam hari menunaikan tugas, aku selalu mampu menikmati perjalanan sejauh apapun. Malam memberikan misteri sekaligus ketenangan yang tak bisa didapatkan di siang hari. Terlebih, jika ia sedang menerbitkan bulan yang sedang purnama. Bulan separuhpun, aku pikir sama indahnya. Terang saja, bukankah sehebat apapun, kita tak akan mampu mencipta bulan?

Dan hari ini, saat malam perlahan-lahan turun merayapkan kakinya yang berujung jingga, bulan sudah mulai turun beradu, memamerkan sinar yang tak silaukan mata. Aku sengaja tak menutup jendela. Kubiarkan saja angin malam menyapu kamar, lagian, yang begini ini tak setiap hari aku lakukan, hanya
pada saat aku benar-benar menginginkannya saja.

Pemandangan ini setidaknya merebahkan ketegangan siang tadi. Aku pikir memang begitu, tak pernah ada ceritanya alam menyakiti manusia, kecuali jika manusia telah lebih dulu menyakitinya. 

Aku takkan menyakitimu, bulan. Bersinarlah, meski dengan cahaya pinjaman dari matahari.

Bima, 16 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar