Angin
malam mengusap-usap pipi, masuk ke dalam pori-pori, menggigilkan nadi. Tapi
bulan sedang purnama. Tak apa-apakan menikmatinya sedang angin dingin
menggigilkan badan?
Tak
jauh dari lingkaran bulan, tiga buah
bintang mengitari. Kecil, hampir tak tampak, cahayanya redup terkalahkan oleh
sinar rembulan yang jauh lebih terang. Semoga bulan tidak akan pernah sombong,
sebab seingatku, bulan tak pernah memiliki cahaya sendiri. Itu lebih
menyedihkan dari pada sebuah bintang yang hampir tak tampak dalam redup
cahayanya. Bulan hanya meminjam cahaya matahari untuk dipantulkan menjadi
sinar. Indah memang.
Dulu,
pernah sekali waktu aku menikmatinya di atas Ikhtiar, mesjid mewah di jalan
Perintis, Makassar. Kutabrak saja rinai hujan yang gerimis. Aneh, hebat nian
malam masih mengizinkan bulan bercahaya begitu terang padahal awan merintihkan
tangisan dan turun sebagai gerimis.
Basah sudah kulit tanganku yang sedari tadi sengaja aku tampakkan di hadapan
malam. Malam itu aku mendapat jatah dinas siang di salah satu Rumah Sakit.
Ketika pulang tak ada yang sempat untuk menjemput. Ah, maaf, aku sama sekali
tak memiliki ojek pribadi. Barangkali kemampuan finansial yang masih
menggelantung di bawah bayangan orang tua membuat aku menjadikannya alasan yang
cukup kuat. Sebagai akibatnya, aku selalu pulang sendirian walaupun malam hari.
Terkadang, aku terlalu berani melawan malam meski malam kadang terlalu lebih
buas dari drakula penghisap darah. Di pikiranku, malam selalu indah, lebih
indah dari kamboja atau Geranium. Saat aku harus keluar malam hari menunaikan
tugas, aku selalu mampu menikmati perjalanan sejauh apapun. Malam memberikan
misteri sekaligus ketenangan yang tak bisa didapatkan di siang hari. Terlebih,
jika ia sedang menerbitkan bulan yang sedang purnama. Bulan separuhpun, aku
pikir sama indahnya. Terang saja, bukankah sehebat apapun, kita tak akan mampu
mencipta bulan?
Dan
hari ini, saat malam perlahan-lahan turun merayapkan kakinya yang berujung
jingga, bulan sudah mulai turun beradu, memamerkan sinar yang tak silaukan
mata. Aku sengaja tak menutup jendela. Kubiarkan saja angin malam menyapu
kamar, lagian, yang begini ini tak setiap hari aku lakukan, hanya
pada
saat aku benar-benar menginginkannya saja.
Pemandangan
ini setidaknya merebahkan ketegangan siang tadi. Aku pikir memang begitu, tak pernah
ada ceritanya alam menyakiti manusia, kecuali jika manusia telah lebih dulu
menyakitinya.
Aku
takkan menyakitimu, bulan. Bersinarlah, meski dengan cahaya pinjaman dari
matahari.
Bima, 16 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar