Jumat, 09 Mei 2014
Hadiah Terbaik
Tulisan ini adalah buah tangan Muhary Wahyu Nurba. Saya sengaja meng-copy-kannya di beranda saya. Sebab, ada sesuatu yang tiba-tiba saya rindukan sesaat setelah membaca tulisan ini.
Siapa yang sebenarnya mengajar siapa? Kitakah yang menanamkan berbagai ajaran penting kepada anak-anak kita atau justru merekalah yang menunjukkan dan menghadiahi kita hal-hal terbaik dalam hidup kita: cinta, ketulusan, kesabaran, sekaligus pengorbanan?
Seringkali kita merasa kesal karena diminta oleh anak kita mengambilkan sesuatu yang dalam pandangan kita hal yang sangat biasa dan tidak penting. Kita harus merangkak kesana-kemari hanya untuk mencari sebuah tutup botol bekas atau sesobek kertas berisi coretan “masterpiece” miliknya yang hilang. Kadang pula kita harus menemaninya duduk, mengikuti setiap benda yang ia tunjuk dan meminta kita menjawab pertanyaannya yang sama berulang-ulang “Apa ini? Apa itu?”
Kita, karena alasan letih seharian berkubang dalam bengkalai rutinitas pekerjaan, lantas membiarkan anak kita menangis sedih tanpa mengusahakan apa yang telah menjadi permintaannya itu. Dan entah dari mana pula datangnya pikiran rendah ini, setiap kali kita terpaksa harus mengerjakan itu semua, kita tiba-tiba merasa jadi jongos, tawanan, atau budak dari buah hati kita.
Seorang psikolog bernama Pierro Ferrucci dalam bukunya What Our Children Teach Us, menunjukkan kepada kita bahwa perjalanan hidup kita sebagai orang tua bisa menjadi perjalanan spiritual. Ferrucci menuturkan bahwa semestinya hidup kita bersama anak-anak bisa memperkaya dan mengubah kepribadian kita. Mereka adalah guru terbaik dalam menempa kondisi kejiwaan kita hingga mencapai tingkat kebijakan dan kematangan.
Tapi yang terjadi kadang sebaliknya. Setelah beranjak dewasa, sedikit banyaknya kita mulai kehilangan sentuhan kelembutan, keleluasan, kepolosan, kebebasan, yang sebenarnya tersimpan rapi dalam satu folder bernama kreativitas. Kreativitas ternyata adalah mengikuti impuls asli diri kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa anak-anak yang kreatif atau jenius terkesan aneh dan seringkali ditertawai. Mereka sesungguhnya adalah pribadi yang merdeka. Mereka mengeksplorasi dan mengekspresikan secara tuntas orisinalitas dalam diri mereka.
Bagaimana dengan kita? Apa yang kita pahami tentang kedewasaan justru menjebak kita untuk menghindari hal-hal yang tidak dewasa, tidak wajar, aneh, remeh temeh, dan kekanak-kanakan. Kita dituntut untuk menjadi serius, mengejar yang logis, masif, dan prediktif. Untuk apa pula tutup botol yang ada di bawah ranjang atau gulungan kertas, yang menurut pikiran dewasa kita bisa saja ditukar dengan benda yang kurang lebih sama bentuk atau warnanya. Menghabiskan maktu mencarinya adalah kesia-siaan belaka.
Saya sendiri sebagai orang tua pernah jengkel dan putus asa dengan keadaan seperti ini. Saya bahkan semakin merasa tertekan sejak kematian istri saya satu setengah tahun lalu. Jabatan yang kemudian disandangkan ke pundak saya bernama single parent. Saya seperti kebingungan mengurus empat orang anak perempuan dengan kebutuhan yang berbeda. Saya tentu tidak ingin memanjangkan kesedihan saya dengan kepergian istri saya. Sekarang saya harus melakoni peran baru saya, menjadi ayah sekaligus ibu. Ini rasanya seperti sebuah permainan yang melelahkan namun menyenangkan, menakutkan tetapi penuh kejutan. Masih menurut Ferrucci, kehidupan kita bersama anak-anak menempatkan kita pada sebuah paradoks yang aneh. Berurusan dengan persoalan-persoalan kecil membuat kita merasa lebih besar. Di saat merunduk rendah, semangat kita malah membubung.
Saya merasakan hal yang sama. Setiap kali Fatimah, anak saya yang berumur tiga setengah tahun, melempar bola kasti kepada saya, maka saya saat itu saya menyiapkan tenaga ekstra memulai petualangan saya layaknya Indiana Jones, menebak dan mencari-cari bola kasti yang melenceng entah kemana. Kadang saya merasa hendak meledak dengan suara-suara mereka sepanjang hari. Tapi bila salah seorang di antara mereka saya titipkan untuk beberapa hari ke neneknya, saya malah merindukan kembali “suara surgawi” yang keluar dari mulut mungil mereka. Nada-nada indah tersebut spontan menyambungkan seluruh lorong kenangan masa kecil bersama orang tua dan saudara-saudara saya.
Situasi paradoksal seperti inilah yang kemudian membuat saya merenung. Tanpa disadari mereka telah menjadi guru terbaik bagi kehidupan saya. Mereka tak pernah bisa terpisahkan dari saya. Mereka selalu ada bersama saya dalam keadaan apapun. Mereka menangis bersama saya tetapi tidak ingin membiarkan saya larut. Mereka tertawa dan “bahagia” melihat hasil cucian saya semua berubah aneh karena saya tidak sengaja mencampur pakaian putih dengan pakaian berwarna. Mereka mengajari saya arti kata ikhlas dan sabar bilamana saya telat mengantar atau menjemputnya di sekolah. Mereka mengajari menjadi manusia baru dan merdeka dengan cara melompat-lompat setinggi mungkin di atas spring bed bersama mereka.
Dan sekarang rumah kami hangat kembali seperti sedia kala. Kami kedatangan seorang perempuan yang rela menerima seluruh kegilaan dan keriangan dalam rumah kami. Anak-anak saya memanggilnya Bunda. Seorang perempuan bermata belati berhati telaga. Bersamanya kami akan melewati kebisingan dan keheningan sepanjang perjalanan hidup kami.[]
(sebagai tanda mata untuk istriku, Lina Kulsum)
Muhary Wahyu Nurba
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar