Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Suatu Saat Bulan Pasti Akan Penuh

* Kepada bulan yang masanya pasti akan sampai






Suatu saat bulan pasti akan penuh, meluruhi tanggal pada kalender-kalender tua
Lalu kita saat itu akan saling melupa,
Percayalah
Akan tiba waktunya untuk bisa saling melupakan
Hati manusia benar-benar ajaib
Ia bisa menerima segala cinta
Atau bahkan melupakan segala rasa
Hanya soal waktu saja
Ada yang tak sepakat bahwa waktu adalah pembunuh paling baik?
Ya, tentu saja waktu tak bekerja sendirian untuk membunuh orang-orang yang pernah singgah
Waktu dibantu oleh sahabatnya yang bernama kesempatan
Kesempatan mengendarai waktu,
Anggap kesempatan adalah supir dan waktu adalah mobil
Saat kesempatan kosong, ia akan mencari orang-orang untuk mengisi waktu sepinya
Tapi saat kesempatan telah memenuh sesakkan waktunya, jangankan mengangkut, berhenti sejenak untuk sekedar mengklakson orang-orang yang berdiri di pinggir jalan saja sering kali terlupakan.
Maka jangan heran jika ada dua orang yang pernah dekat, lalu mereka saling melupakan
Barangkali kesibukan telah menyulap perasaan mereka menjadi sedingin ice cream

BIma, 24 April 2014
 

Senin, 27 Januari 2014

Dermaga Batu


 
Sirimau pelan merapat dermaga batu
Sirinenya berteriak memekakkan telinga
Diam-diam ngilu  mengalir deras
Mendesir  umpama darah

Saat kakiku baru saja mengecup tanah kering Mbojo
Kuhirup lagi bekas-bekas kenangan
Melekat di batu-batu dermaga
Persis seperti ini; aku menatap kosong puluhan manusia yang berdesakan
Kudapati diriku hanya seorang diri
Mengusung mimpi yang baru saja diputar dari memori

Bima, 13 Januari 2014

Perasaan aneh yang membekap mulut, mengunci ngilu dalam dada. Aneh, sangat aneh. Aku tidak memiliki alasan perihal ngilu yang tetiba saja muncul. Padahal bapak kepala empat di sampingku ini sepertinya jauh lebih berhak untuk ngilu. Dia menginjakkan kakinya di tanah  Mbojo setelah menempuh perjalanan lama dari negeri Jiran Malaysia, hendak mengecup kening istrinya yang tertanam dalam tanah merah basah. Beberapa hari yang lalu, istrinya menutup mata tanpa ia di sisinya. Masih dengan sesegukan dan awan yang menggelantung di bola matanya, ia berucap pamit padaku.
Sabarlah, dunia memang seperti ini, bukan?
Kemarin tertawa, hari ini lara, entah esok apa lagi…

Sabtu, 25 Januari 2014

Kemarau Saat Hujan





Doa-doa ini basah sekali, Mikail
Aku tahu itu
Kau mendengarnya?
Doa-doa ini pendek, tapi lebat

Lihatkah kau padi-padi yang hijau ini?
Sampaikan padi-padi ini hingga masa panen tiba
Aku ingin kau menurunkan hujan di sini,
Pada berpetak-petak sawah dan hatiku yang kemarau

Mikail,
Turunkan hujanmu
Tetiba saja aku persis seperti petani
Aku merindukan hujanmu

Bima, 15 Januari 2014
Tepat di salah satu pematang sawah, dan mendongak ke langit tanpa gurat mendung

Selasa, 31 Desember 2013

Temani Aku



Pada pepuisiku, semoga nafasmu tetap hidup
Hingga laut, angin, juga jaket parasut merah bata
Menjadi latar saat mata matahari berkedip memulai malam


Makassar, Penghujung Desember 2013

Diam di Kediaman (Untuk Azure dan seorang Gadis Pengeja)



selalu saja palu gada memukul-mukul kepalaku
menumpahkan banjir yang tertahan di kelopak mataku
biji bola mataku pecah,
kulahirkan senyum dalam senyap dari rahim kediamanku

kepada Azure,
aku tertawa saat kau kata
bahwa senyuman lebih kau utamakan dari jiwa saat kau sekarat
itu tidak benar, Az!
kau tahu?
jika kau sekarat, selamatkan jiwamu
ya, sebab mana mungkin engkau masih mampu menyungging senyum saat jiwa rapuh?
senyuman terlahir hanya dari jiwa  lapang mencipta sketsa pada bagian terbawah wajah
dan itu adalah senyuman

diam adalah keindahan, Az!
kau tahu, mengapa kukata demikian?
sebab, seseorang hanya mampu melihat kau baik-baik saja
sedang senyummu tetap menggelayut meski perih kau lipat rapat

bila sepi telah sempurna merajam menghentak perih
lahirkan saja senyum dari sudut-sudut bibir
sebab tak perlu banyak diksi  terlahir lewat tenggorokan yang menjepit pita suara
diamlah di kediaman
dan kediaman itu : jiwamu!

kepada seorang gadis pengeja,
setia, terkadang pekerjaan yang sia-sia
ya, yakin kita tak pernah ada sesuatu yang salah tempat
aku masih menyimpan serumpun temali kenangan setia
sempat kita urai dari rajutanku kemarin
aku menertawainya
masih lagi sepi, kugenggam lalu kugulung kuat
tak ada lagi tempat untuk setia yang sia-sia

 Makassar, Penghujang Desember 2013

Kita masih saja menerima mentah-mentah perkataan-perkataan. Bukankah kita punya kepala?