selalu saja palu gada memukul-mukul kepalaku
menumpahkan banjir yang tertahan di kelopak mataku
biji bola mataku pecah,
kulahirkan senyum dalam senyap dari rahim kediamanku
kepada Azure,
aku tertawa saat kau kata
bahwa senyuman lebih kau utamakan dari jiwa saat kau sekarat
itu tidak benar, Az!
kau tahu?
jika kau sekarat, selamatkan jiwamu
ya, sebab mana mungkin engkau masih mampu menyungging senyum
saat jiwa rapuh?
senyuman terlahir hanya dari jiwa lapang mencipta sketsa pada bagian terbawah
wajah
dan itu adalah senyuman
diam adalah keindahan, Az!
kau tahu, mengapa kukata demikian?
sebab, seseorang hanya mampu melihat kau baik-baik saja
sedang senyummu tetap menggelayut meski perih kau lipat rapat
bila sepi telah sempurna merajam menghentak perih
lahirkan saja senyum
dari sudut-sudut bibir
sebab tak perlu banyak diksi terlahir lewat tenggorokan yang menjepit pita
suara
diamlah di kediaman
dan kediaman itu : jiwamu!
kepada seorang gadis pengeja,
setia, terkadang pekerjaan yang sia-sia
ya, yakin kita tak pernah ada sesuatu yang salah tempat
aku masih menyimpan serumpun temali kenangan setia
sempat kita urai dari
rajutanku kemarin
aku menertawainya
masih lagi sepi, kugenggam lalu kugulung kuat
tak ada lagi tempat untuk setia yang sia-sia
Makassar, Penghujang Desember 2013
Kita masih saja menerima mentah-mentah perkataan-perkataan. Bukankah kita punya kepala?
Makassar, Penghujang Desember 2013
Kita masih saja menerima mentah-mentah perkataan-perkataan. Bukankah kita punya kepala?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar