Senin, 27 Januari 2014

Dermaga Batu


 
Sirimau pelan merapat dermaga batu
Sirinenya berteriak memekakkan telinga
Diam-diam ngilu  mengalir deras
Mendesir  umpama darah

Saat kakiku baru saja mengecup tanah kering Mbojo
Kuhirup lagi bekas-bekas kenangan
Melekat di batu-batu dermaga
Persis seperti ini; aku menatap kosong puluhan manusia yang berdesakan
Kudapati diriku hanya seorang diri
Mengusung mimpi yang baru saja diputar dari memori

Bima, 13 Januari 2014

Perasaan aneh yang membekap mulut, mengunci ngilu dalam dada. Aneh, sangat aneh. Aku tidak memiliki alasan perihal ngilu yang tetiba saja muncul. Padahal bapak kepala empat di sampingku ini sepertinya jauh lebih berhak untuk ngilu. Dia menginjakkan kakinya di tanah  Mbojo setelah menempuh perjalanan lama dari negeri Jiran Malaysia, hendak mengecup kening istrinya yang tertanam dalam tanah merah basah. Beberapa hari yang lalu, istrinya menutup mata tanpa ia di sisinya. Masih dengan sesegukan dan awan yang menggelantung di bola matanya, ia berucap pamit padaku.
Sabarlah, dunia memang seperti ini, bukan?
Kemarin tertawa, hari ini lara, entah esok apa lagi…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar