Sirimau pelan merapat dermaga batu
Sirinenya berteriak memekakkan
telinga
Diam-diam ngilu mengalir deras
Mendesir umpama darah
Saat kakiku baru saja mengecup
tanah kering Mbojo
Kuhirup lagi bekas-bekas kenangan
Melekat di batu-batu dermaga
Persis seperti ini; aku menatap
kosong puluhan manusia yang berdesakan
Kudapati diriku hanya seorang diri
Mengusung mimpi yang baru saja
diputar dari memori
Bima, 13 Januari 2014
Perasaan aneh yang membekap mulut,
mengunci ngilu dalam dada. Aneh, sangat aneh. Aku tidak memiliki alasan perihal
ngilu yang tetiba saja muncul. Padahal bapak kepala empat di sampingku ini sepertinya
jauh lebih berhak untuk ngilu. Dia menginjakkan kakinya di tanah Mbojo setelah
menempuh perjalanan lama dari negeri Jiran Malaysia, hendak mengecup kening
istrinya yang tertanam dalam tanah merah basah. Beberapa hari yang lalu,
istrinya menutup mata tanpa ia di sisinya. Masih dengan sesegukan dan awan yang
menggelantung di bola matanya, ia berucap pamit padaku.
Sabarlah, dunia memang seperti ini,
bukan?
Kemarin tertawa, hari ini lara,
entah esok apa lagi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar