Rabu, 15 Oktober 2014

Saat Menulis



Saat menulis, kamu terkadang tak membutuhkan seseorang bernama teman
Kamu hanya butuh sebuah pena
Juga kertas tempatnya menari-nari di ruang yang temaram

Saat menulis, kamu tak butuh banyak telinga yang ikhlas mendengar bebanmu
Sebab secarik kertas bahkan mampu menampung apa-apa yang tak mampu kau utarakan pada seseorang kamu hanya butuh pena 

Saat menulis, kamu tak butuh pundak seseorang tempatmu bersandar sesenggukan
Perihal beban-beban yang boleh jadi, sebenarnya kamu belum cukup pantas untuk memikulnya, tapi karena Tuhan telah memilihmu di antara jutaan manusia untuk dijadikan makhluk yang beruntung, maka engkau dibebankan-Nya 
Dengan pena, kamu sesungguhnya telah memiliki sesuatu yang lebih dari sahabat

Saat menulis, sesungguhnya perasaanmu sedang bermain-main dengan rangkaian alfhabet kata-kata. Jangan khawatir ia lelah, ia tak seperti manusia yang senang menghakimimu bukan? Karena boleh jadi manusia bosan mendengar kita karena kita lebih dahulu dihakimi ini-itu
Dengan pena, kata-kata dari rangkaian alfhabet itu akan menentramkan pikiranmu. Sekalut apapun. Sebab terkadang pena mengajak mata untuk mencari mata air mata
Itu akan membuatmu menjadi lebih tentram

Menulislah, jika engkau tak menemukan sosok yang bisa membuatmu teduh seperti Spathodea dengan jingga pada senja yang mulai perlahan malam, sebab dengan menulis, setidaknya engkau bisa mendapatkan keuntungan lain selain membagi bebanmu dengan kertas juga pena, yakni engkau sebenarnya sedang melatih otakmu agar tidak cepat peot
Dengan menulis, aku seperti menjelajahi tempat lain

Engkau mengerti sekarang bukan mengapa aku memilih menulis dari pada bercerita kepada  orang yang aku jumpai?

Oktober 2014

Selasa, 14 Oktober 2014

Masih Ingatkah Engkau?

Ah, kalian teman-temanku. Ada begitu banyak hari yang telah aku hitung. Tapi aku lupa ternyata aku pelupa yang paling akut. Sudah berapa lama kita tak bertemu?

Adalah mobil pick up tua yang telah banyak keriput di bodynya. Hari itu, kami mengadakan kerja bakti bersama warga desa tetangga jauh. Sepulang dari kerja bakti, kami singgah berrsilaturrahim ke posko teman yang lain. Layaknya tamu istimewa, kami disuguhi dengan makanan, gorengan ala mahasiswa. Setelah puas makan gorengan yang kriuknya hampir membuat gigi tanggal, kami pulang.

Di perjalanan, bebatuan di sisi kanan dan kiri jalan beterbangan akibat pikc up yang terhentak-hentak begitu keras membentur tanah. Tiba-tiba keanehan terjadi. Mobil yang telah sepuh itu berhenti, padahal mesin tak dimatikan. Berulang kali si supir, teman saya si cantik Rara kembali membujuk sang sepuh. Tapi dia mungkin terlanjur lelah, dia mogok sebelum sukses mengantar kami menuju posko.

Kami membersamai Jumat yang indah, cerah. Tempat kami mogok itu sebenarnya lebih tepat di sebut hutan. Tak ada satupun rumah warga. Yang ada hanya pohon-pohon Jati putih yang hening saat terik mulai turun menyentuh tanah. Kami saling berpangku tangan. Sang sepuh ternyata kehabisan bekalnya, bensin. Jadi bagaimana? Signal tak dapat dimasukkan ke dalam kantong. Kami terus saja memburunya, sang signal nakal sekali. Kadang ia datang satu-satu, lalu hilang lagi. Tak seorang pun yang bisa dihubungi. Bagaimana ini? Kami mulai bangkit dan turun dari sang sepuh.

Seketika kami dihadang pikiran-pikiran buruk. Memori jangka panjang dari masing-masing kepala mulai bangkit. Sembari menceritakan bahwa hutan adalah tempat para lelembut, kami masih saja mencoba tetap kompak. Ide pertama muncul, berselfie ria. Maka mulailah kami mengambil posisi.

Berbekal kamera digital sang Dewi, kami pun bersepakat untuk mengabadikan momen langka ini.
“cheers” jepretttt!!
Dan hasilnya, sungguh diluar jangkauan akal sehat. Bermacam-macam pose kami abadikan. Mulai dari pose paling manis sampai pose paling jenaka.
**

Masih ingatkah kau tentang perjalanan kita ini?
Saat pick up tiba-tiba saja mogok
Dan kita yang kehabisan akal untuk bisa kembali pulang ke rumah
Serta merta akal bulus untuk berselfie ria mendadak muncul
Pada akhirnya, perpisahan bukanlah akhir, bukan?
Kita malah menyimpan memori di kepala masing-masing
Lalu suatu ketika kita memanggil memori-memori bermain bersama-sama
Di pelupuk mata
Ya, kita sungguh tak pernah tahu betapa berartinya orang-orang di sekeliling kita
Sebelum perpisahan membekap jarak
Lalu kita terperangkap di dalamnya

memoar 2011



Senin, 13 Oktober 2014

Saat Senja Pulang Dari Kota



(kepada Rain)

hujan akan sempurna tumpah dari langit
cumulus nimbus bergumpal menudungi bumi,
senja sepi

persis seperti jam waktu,
engkau berdentang sekali lagi
lalu senja sempurna menghilang...
kembali pulang dari kaki langit yang menghitam

senyum kau kulum pelan
tapi bukankah bola matamu adalah cermin?
di sana, aku lihat engkau kusut masai
halusinasi membincangi sesuatu yang kau simpan dalam sebuah ruang tak bernama dalam hatimu

Rain,
aku kira engau adalah hujan!
siapa yang telah menampakkan warna saga di bola matamu
saat rinai dihentak angin memeluk bumi?

angin membuatmu berhenti sejenak
kau ucap doa lewat hembusan nafas yang nyeri pada getaran udara
pelan-pelan tercekat ditenggorokan
dan harus kau sembunyikan
mungkin, seperti itu caramu melindungi dan merindui yang telah pergi
seerat yang engkau bisa:
“kali ini, engkau lebih lama pergi, tidakkah engkau ingin pulang?
liburan hampir dekat. Pulanglah sejenak
lalu bawalah pergi rindu yang kau seduh dengan segelas susu”

Makassar, 2013