Senin, 13 Oktober 2014

Saat Senja Pulang Dari Kota



(kepada Rain)

hujan akan sempurna tumpah dari langit
cumulus nimbus bergumpal menudungi bumi,
senja sepi

persis seperti jam waktu,
engkau berdentang sekali lagi
lalu senja sempurna menghilang...
kembali pulang dari kaki langit yang menghitam

senyum kau kulum pelan
tapi bukankah bola matamu adalah cermin?
di sana, aku lihat engkau kusut masai
halusinasi membincangi sesuatu yang kau simpan dalam sebuah ruang tak bernama dalam hatimu

Rain,
aku kira engau adalah hujan!
siapa yang telah menampakkan warna saga di bola matamu
saat rinai dihentak angin memeluk bumi?

angin membuatmu berhenti sejenak
kau ucap doa lewat hembusan nafas yang nyeri pada getaran udara
pelan-pelan tercekat ditenggorokan
dan harus kau sembunyikan
mungkin, seperti itu caramu melindungi dan merindui yang telah pergi
seerat yang engkau bisa:
“kali ini, engkau lebih lama pergi, tidakkah engkau ingin pulang?
liburan hampir dekat. Pulanglah sejenak
lalu bawalah pergi rindu yang kau seduh dengan segelas susu”

Makassar, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar