Saat menulis,
kamu terkadang tak membutuhkan seseorang bernama teman
Kamu hanya butuh
sebuah pena
Juga kertas
tempatnya menari-nari di ruang yang temaram
Saat menulis,
kamu tak butuh banyak telinga yang ikhlas mendengar bebanmu
Sebab secarik
kertas bahkan mampu menampung apa-apa yang tak mampu kau utarakan pada
seseorang kamu hanya butuh pena
Saat menulis,
kamu tak butuh pundak seseorang tempatmu bersandar sesenggukan
Perihal
beban-beban yang boleh jadi, sebenarnya kamu belum cukup pantas untuk
memikulnya, tapi karena Tuhan telah memilihmu di antara jutaan manusia untuk dijadikan
makhluk yang beruntung, maka engkau dibebankan-Nya
Dengan pena, kamu sesungguhnya telah memiliki
sesuatu yang lebih dari sahabat
Saat menulis,
sesungguhnya perasaanmu sedang bermain-main dengan rangkaian alfhabet
kata-kata. Jangan khawatir ia lelah, ia tak seperti manusia yang senang
menghakimimu bukan? Karena boleh jadi manusia bosan mendengar kita karena kita
lebih dahulu dihakimi ini-itu
Dengan pena, kata-kata dari rangkaian alfhabet
itu akan menentramkan pikiranmu. Sekalut apapun. Sebab terkadang pena mengajak
mata untuk mencari mata air mata
Itu akan membuatmu menjadi lebih tentram
Menulislah, jika
engkau tak menemukan sosok yang bisa membuatmu teduh seperti Spathodea dengan jingga pada senja yang
mulai perlahan malam, sebab dengan menulis, setidaknya engkau bisa mendapatkan
keuntungan lain selain membagi bebanmu dengan kertas juga pena, yakni engkau
sebenarnya sedang melatih otakmu agar tidak cepat peot
Dengan menulis,
aku seperti menjelajahi tempat lain
Engkau mengerti
sekarang bukan mengapa aku memilih menulis dari pada bercerita kepada orang yang aku jumpai?
Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar