Hampir empat tahun melewati jalanan
yang sama, batu-batu yang masih teronggok tak beraturan masih sama seperti awal
kedatanganku di kota ini, bau tanah yang masih menyengat, pohon-pohon yang
ranting-rantingnya menjulang tinggi, rerumputan yang sesekali dipangkas,
semuanya masih sama, ah…betapa semuanya membuat aku bosan. Hidup dengan ritme yang
sangat beraturan sebagai mahasiswa terkadang membuat aku bosan, tapi untunglah
aku memilih menyibukkan diriku dengan kegiatan lain di luar jadwal kampus,
setidaknya sedikit mengobati kebosanan. Berjalan sedikit malas membuatku lemah
di bawah panasnya matahari siang ini. Tiba-tiba mataku diam, tak berani
menggerakkan meski angin siang memaksaku mengedip-kedipkan mata. Pria itu lalu
muncul, sesekali mengendap-endap, melongo ke dalam hitamnya air limbah di parit
yang sangat jarang dibersihkan penduduk di sekitarnya. Seorang anak kecil,
kecil sangat kecil, lusuh, keletihan berbaring dalam gerobak sampah milik sang
ayah, rupanya sedari pagi ia menemani ayahnya mencari gelas minuman bekas.
Iya….gelas air minum sisa minuman kita, yang sangat sering kita membuangnya
seolah ia adalah sampah tak berdaya guna, tapi bagi laki-laki senja ini, sampah
itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.
Anak itu lalu terbangun menatapku.
Kosong, senyumnya senyuman kosong, seperti ia ingin mengatakan sesuatu, tapi
suara itu tercekik di tenggorokan. Mungkin ia kehausan, mungkin ia kelaparan.
Aku berlalu meninggalkan pemandangan yang memilukan itu.
Ku buang pandanganku sejauh mungkin,
bukan karena sombong, tapi aku terlalu sering melihatnya murung menatap
limbah-limbah itu, namun sesekali bibirnya tersenyum getir. Bagiku menjadi
pemulung jauh lebih baik daripada hidup dari belas kasihan manusia, mereka lebih
terhormat dari diriku yang masih bersembunyi di bawah ketiak orang tua, mereka
lebih sopan dari pencuri kesiangan yang bekerja di tempat-tempat milik Negara.
Semuanya berlalu begitu saja, kadang
tak menimbulkan kesan. Padahal mungkin Tuhan hendak menegurku lewat tatapan
kosong anak pemulung itu, atau mungkin lewat senyum getir lelaki senja itu,
atau lewat kaki tuanya yang telah kering, aus termakan tanah. Tuhan ingin
bertanya padaku, telahkah aku membantu mereka? Atau pernahkah aku bersedekah
untuk mereka? Semuanya diam, aku diam. Atau karena kesibukan yang membuatku
lupa bahwa aku adalah saudara dari keturunan yang sama? Dari bangsa yang sama?
Dari tanah yang sama? Tuhan bertanya padaku: Sejauh mana aku telah bersyukur
dengan semuanya? Sekali lagi, Tuhan ingin mengujiku. Tak hanya sekali atau dua
kali aku menyaksikan mereka bertengger bak burung kelaparan, hanya
mengais-ngais sisa sampah di tempat pembuangan. Tapi terlalu sering, hingga aku
kebal, tak lagi peka dengan pemandangan yang elok ini, sebuah rencana Tuhan
untuk menyadarkan aku dan kamu.
Masih sore. Aku berjalan
pelan….laki-laki senja itu muncul lagi. Namun si anak tak dibawa serta. Kembali
ia mengendap-endap, membuang seluruh energinya untuk berkeliling mencari sampah
botol dan gelas minuman. Ia tak seperti kebanyakan orang miskin lainnya, ia
adalah orang kaya yang pernah kujumpai, ia kaya dalam ketiadaannya, ia sangat
kaya dalam ketersiksaannya. Mungkin ia jauh lebih bisa menikmati hidupnya dari
pada kita yang berlebihan, namun terkadang sangat pelit untuk mereka. Kita
miskin dalam kelimpah-ruahan, miskin dalam masalah yang melilit kita.
Baru-baru aku menyaksikan pemandangan
unik dari sejumlah rekan mahasiswa, mereka terkadang terlalu pintar tapi bodoh. Di setiap aksi “selamatkan bumi” mereka
menyerukan kalimat-kalimat milik orang cerdas. Seperti “mari selamatkan bumi
dari Global Warming!” atau…yang lainnya. Tapi di sisi lain, sebuah mobil sedan
meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi dari pengemudi biasa di jalan-jalan kampus, satu dari mereka
membuang sampah lewat kaca mobilny…Haaaah….mereka??? mahasiswa??? kaum intelek
itu??? Sampahkah yang mereka buang di pingir-pinggir jalan itu?
Sampah yang kita buang, terkadang
menyisakan perih bagi saudara kita yang lain,
Sampah yang kita buang adalah bekas
dari tangan-tangan kotor kita.
Tidak adakah orang yang mau membantu
mereka dengan membuang sampah di tempat yang telah disediakan??? Yang dengannya
sang lelaki senja tak perlu membuang tenaga banyak, ia cukup mendatangi tempat
sampah, lalu di angkutnya sampah itu kedalam gerobak tua miliknya. Atau minimal
mereka menjaga keberlangsungan tanah tumpah darah ini?
Lelaki senja kembali melirikku
esoknya, ia mengayuh gerobak sampah miliknya dengan semangat. Ia mungkin ingin
berkata “sekuat apa kamu berjalan mahasiswa???”, tapi untungnya kata-kata itu
tak keluar menyapaku, sebab aku bisa malu.
Seharusnya aku bisa belajar dari lelaki
senja itu, ia yang telah menyadarkan aku bahwa semangatlah yang membuat
kelemahan itu hengkang dari diriku, lalu aku mulai bersemangat melewati
batu-batu yang sama, menciumi wangi tanah yang sama, pohon-pohon yang
ranting-rantingnya menjulang, dan rerumputan yang sesekali dipangkas, semuanya
sama, dan aku kembali bersemangat.
Ku temukan paradoks pertama hidupku:
aku justru belajar dari seoarang lelaki senja tentang semangat, belajar
berbesar hati dari ia yang melimpah dalam ketiadaannya.
Makassar,
30 Maret 2011
mmm...sebelum ku komen...kunjungi memang blogku gang...mmm...cukup menyentuh...eh gimana saling mengkritik tulisan...tapi kritik yang sehat na
BalasHapuskomen yang sehat....
BalasHapusSetiap komentar, bisa menjadi sehat bagi jiwa yang lapang. Setiap komentar, seindah apa pun, hanya sia-sia bagi yang berjiwa sempit, meganggap dirinya paling benar.
Hapus*sok ku deh.
Bebebs.....
HapusYuhuuu....Yuhu....