Senin, 03 Juni 2013

Lelaki Senja

Hampir empat tahun melewati jalanan yang sama, batu-batu yang masih teronggok tak beraturan masih sama seperti awal kedatanganku di kota ini, bau tanah yang masih menyengat, pohon-pohon yang ranting-rantingnya menjulang tinggi, rerumputan yang sesekali dipangkas, semuanya masih sama, ah…betapa semuanya membuat aku bosan. Hidup dengan ritme yang sangat beraturan sebagai mahasiswa terkadang membuat aku bosan, tapi untunglah aku memilih menyibukkan diriku dengan kegiatan lain di luar jadwal kampus, setidaknya sedikit mengobati kebosanan. Berjalan sedikit malas membuatku lemah di bawah panasnya matahari siang ini.          Tiba-tiba mataku diam, tak berani menggerakkan meski angin siang memaksaku mengedip-kedipkan mata. Pria itu lalu muncul, sesekali mengendap-endap, melongo ke dalam hitamnya air limbah di parit yang sangat jarang dibersihkan penduduk di sekitarnya. Seorang anak kecil, kecil sangat kecil, lusuh, keletihan berbaring dalam gerobak sampah milik sang ayah, rupanya sedari pagi ia menemani ayahnya mencari gelas minuman bekas. Iya….gelas air minum sisa minuman kita, yang sangat sering kita membuangnya seolah ia adalah sampah tak berdaya guna, tapi bagi laki-laki senja ini, sampah itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.
Anak itu lalu terbangun menatapku. Kosong, senyumnya senyuman kosong, seperti ia ingin mengatakan sesuatu, tapi suara itu tercekik di tenggorokan. Mungkin ia kehausan, mungkin ia kelaparan. Aku berlalu meninggalkan pemandangan yang memilukan itu.
Ku buang pandanganku sejauh mungkin, bukan karena sombong, tapi aku terlalu sering melihatnya murung menatap limbah-limbah itu, namun sesekali bibirnya tersenyum getir. Bagiku menjadi pemulung jauh lebih baik daripada hidup dari belas kasihan manusia, mereka lebih terhormat dari diriku yang masih bersembunyi di bawah ketiak orang tua, mereka lebih sopan dari pencuri kesiangan yang bekerja di tempat-tempat milik Negara.
Semuanya berlalu begitu saja, kadang tak menimbulkan kesan. Padahal mungkin Tuhan hendak menegurku lewat tatapan kosong anak pemulung itu, atau mungkin lewat senyum getir lelaki senja itu, atau lewat kaki tuanya yang telah kering, aus termakan tanah. Tuhan ingin bertanya padaku, telahkah aku membantu mereka? Atau pernahkah aku bersedekah untuk mereka? Semuanya diam, aku diam. Atau karena kesibukan yang membuatku lupa bahwa aku adalah saudara dari keturunan yang sama? Dari bangsa yang sama? Dari tanah yang sama? Tuhan bertanya padaku: Sejauh mana aku telah bersyukur dengan semuanya? Sekali lagi, Tuhan ingin mengujiku. Tak hanya sekali atau dua kali aku menyaksikan mereka bertengger bak burung kelaparan, hanya mengais-ngais sisa sampah di tempat pembuangan. Tapi terlalu sering, hingga aku kebal, tak lagi peka dengan pemandangan yang elok ini, sebuah rencana Tuhan untuk menyadarkan aku dan kamu.
Masih sore. Aku berjalan pelan….laki-laki senja itu muncul lagi. Namun si anak tak dibawa serta. Kembali ia mengendap-endap, membuang seluruh energinya untuk berkeliling mencari sampah botol dan gelas minuman. Ia tak seperti kebanyakan orang miskin lainnya, ia adalah orang kaya yang pernah kujumpai, ia kaya dalam ketiadaannya, ia sangat kaya dalam ketersiksaannya. Mungkin ia jauh lebih bisa menikmati hidupnya dari pada kita yang berlebihan, namun terkadang sangat pelit untuk mereka. Kita miskin dalam kelimpah-ruahan, miskin dalam masalah yang melilit kita.
Baru-baru aku menyaksikan pemandangan unik dari sejumlah rekan mahasiswa, mereka terkadang terlalu pintar tapi  bodoh. Di setiap aksi “selamatkan bumi” mereka menyerukan kalimat-kalimat milik orang cerdas. Seperti “mari selamatkan bumi dari Global Warming!” atau…yang lainnya. Tapi di sisi lain, sebuah mobil sedan meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi dari pengemudi biasa  di jalan-jalan kampus, satu dari mereka membuang sampah lewat kaca mobilny…Haaaah….mereka??? mahasiswa??? kaum intelek itu??? Sampahkah yang mereka buang di pingir-pinggir jalan itu?
Sampah yang kita buang, terkadang menyisakan perih bagi saudara kita yang lain,
Sampah yang kita buang adalah bekas dari tangan-tangan kotor kita.
Tidak adakah orang yang mau membantu mereka dengan membuang sampah di tempat yang telah disediakan??? Yang dengannya sang lelaki senja tak perlu membuang tenaga banyak, ia cukup mendatangi tempat sampah, lalu di angkutnya sampah itu kedalam gerobak tua miliknya. Atau minimal mereka menjaga keberlangsungan tanah tumpah darah ini?
Lelaki senja kembali melirikku esoknya, ia mengayuh gerobak sampah miliknya dengan semangat. Ia mungkin ingin berkata “sekuat apa kamu berjalan mahasiswa???”, tapi untungnya kata-kata itu tak keluar menyapaku, sebab aku bisa malu.
Seharusnya aku bisa belajar dari lelaki senja itu, ia yang telah menyadarkan aku bahwa semangatlah yang membuat kelemahan itu hengkang dari diriku, lalu aku mulai bersemangat melewati batu-batu yang sama, menciumi wangi tanah yang sama, pohon-pohon yang ranting-rantingnya menjulang, dan rerumputan yang sesekali dipangkas, semuanya sama, dan aku kembali bersemangat.
Ku temukan paradoks pertama hidupku: aku justru belajar dari seoarang lelaki senja tentang semangat, belajar berbesar hati dari ia yang melimpah dalam ketiadaannya.
 (tulisan ini telah tua, saya hanya ingin membagi apa yang pernah saya lihat, saya dengar, saya rasa, sempat ada jiwa yang tercerahkan)
Makassar, 30 Maret 2011

4 komentar:

  1. mmm...sebelum ku komen...kunjungi memang blogku gang...mmm...cukup menyentuh...eh gimana saling mengkritik tulisan...tapi kritik yang sehat na

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Setiap komentar, bisa menjadi sehat bagi jiwa yang lapang. Setiap komentar, seindah apa pun, hanya sia-sia bagi yang berjiwa sempit, meganggap dirinya paling benar.

      *sok ku deh.

      Hapus