Senin, 01 Juli 2013

Hidup Dalam Kepungan Orang-orang Baik (part 1)


 Mama, Ki Hujan di Puncak Siang
Orang baik pertama yang aku miliki adalah mama.
Beliau terlahir dari keluarga yang sangat memegang teguh nilai-nilai keagamaan, moral, juga budaya.
Maka pantaslah jika beliau tumbuh menjadi sosok yang sangat menawan. Pribadinya  mencintai dunia pendidikan, juga mencintai keberanian.
           Cara beliau melatih kami untuk berani adalah dengan belajar dengan baik agar tidak mencontek saat ujian, berani untuk mendapatkan nilai paling rendah asalkan hasil dari subuah kejujuran.
Tanteku sering bercerita, bahwa di waktu mudanya, mama adalah kembang desa. Dengan postur yang mini, beliau tetap terlihat sangat menarik, apalagi ketika mengenakan high heels.
Secara keseluruhan, mama adalah Ki Hujan atau trembesi di puncak siang. Daunnya  adalah kebaikannya yang masih tetap mengalir dalam darahku, jika sebulan saja mama tidak menghampiriku, maka bisa dipastikan, aku tak ubahnya bunga yang layu: kebaikannya adalah air yang menyejukkan.
Cintanya tak terbahasakan lewat kata-kata, tapi perbuatannya sudah cukup mampu membuatku payah mengeja hierarki cinta yang tersusun sedemikian apiknya.
Pernah suatu ketika, mama membelikan aku sebuah baju baru. Mama berusaha memilihkan aku baju yang menurut beliau bagus dan mahal, tapi malangnya, baju itu cukup membuat aku merasa risih menggunakannya. Baju itu berwarna ungu tua, terusannya adalah semacam “rok canda” yang sempat booming beberapa waktu yang lalu. Aku risih jika menggunakannya, karena baju terusan yang menawan itu sangat transparan. “Oh….tidak! cukup yang sederhana aja ma.”

Papa, laki-laki Multi talenta
Yang kedua, orang-orang baik itu adalah papa. Beliau laki-laki multi talenta. Aneka jenis pekerjaan mampu dilakukannya. Profesi apa yang sebenarnya tidak mampu beliau lakukan?
Menjadi seorang pendidik, menjadi ayah, menjadi pengajar, menjadi seorang petani, nelayan, tukang batu, tukang kayu, supir, pedagang, pemburu, pemancing yang seharian menghabiskan waktu untuk memancing, dan hasilnya cuma mendapatkan cucu ikan mujair, super mini, maka agar bisa dimakan, cucu ikan mujair itu digoreng kering. Menjadi tukang masak, tukang cuci, tukang ngepel, ah……apa yang tidak mampu dilakukan olehnya?
Jika soal memimpin, maka tidak akan nada yang berani kongkalikong. Papa adalah orang yang sedikit banyak masih mempertahankan keidealan.
Sebenarnya, talenta yang ia miliki tidak datang begitu saja, juga tidak dibawa sejak beliau lahir, yang beliau bawa dari lahir adalah sifat beliau yang sangat keras, karena beliau dilahirkan dari seorang ayah yang menekuni dunia kemiliteran. Telanta itu muncul dan berkembang atas dasar keinginan untuk menghidupi keluarga jauh lebih baik dari kehidupan beliau sewaktu kecil. Beliau tidak ingin kami, anaknya, mengalami kesusahan-kesusahan hidup seperti yang papa alami. Yah, itu sebenarnya alasan yang mewakili semua kemampuan beliau. Diam-diam, papa menginginkan agar aku bisa memiliki seorang pendamping hidup tipikal family man yang multi talent seperti beliau: mampu melakukan jenis pekerjaan apa pun untuk menghidupi keluarga.
Seingatku, waktu kecil, papa sering melarangku memanjat pohon jambu yang tepat berada di samping rumah. Jika aku telah sukses menginjakkan kaki di dahan-dahan pohon jambu, maka papa akan segera menatapku tajam, sebuah tatapan yang bermakna ” cepat turun, nanti kamu bisa jatuh, kamu itu perempuan, tidak baik jika telah tumbuh menjadi gadis tapi bopengan”
Pernah suatu ketika, kira-kira saat itu aku berumur 5 th, aku sakit keras. Aku bahkan susah untuk membuka mataku. Demam tinggi hingga mengigau. Mama khawatir. Sebab papa sedang mengikuti lomba “karya tepat guna” di Solo. Dalam igauan itu, nama papa selalu aku sebut. Maka semasa kecil, seperti itulah makna ketiadaan papa disampingku.
Ah, betapa aku ingin mengatakan bahwa saat ini, saat aku sudah tak kecil lagi, aku masih merindukannya setengah mati. Namun tercekat di tenggorokan, tak berani keluar. Maka aku hanya berani menatapnya pelan saat Senin kemarin mengantar beliau kembali ke Bima, padahal, jauh di kedalaman hatiku, aku telah ambruk. Sisi lain kuliah ternyata pelan-pelan membuatku,jasadku terpisah dengan orang-orang yang aku sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar