Orang baik pertama yang aku
miliki adalah mama.
Beliau terlahir dari keluarga
yang sangat memegang teguh nilai-nilai keagamaan, moral, juga budaya.
Maka pantaslah jika beliau tumbuh
menjadi sosok yang sangat menawan. Pribadinya mencintai dunia pendidikan,
juga mencintai keberanian.
Cara beliau melatih kami untuk berani adalah dengan belajar dengan baik agar tidak mencontek saat ujian, berani untuk mendapatkan nilai paling rendah asalkan hasil dari subuah kejujuran.
Tanteku sering bercerita, bahwa
di waktu mudanya, mama adalah kembang desa. Dengan postur yang mini, beliau
tetap terlihat sangat menarik, apalagi ketika mengenakan high heels.
Secara keseluruhan, mama adalah
Ki Hujan atau trembesi di puncak siang. Daunnya
adalah kebaikannya yang masih tetap mengalir dalam darahku, jika sebulan
saja mama tidak menghampiriku, maka bisa dipastikan, aku tak ubahnya bunga yang
layu: kebaikannya adalah air yang menyejukkan.
Cintanya tak terbahasakan lewat
kata-kata, tapi perbuatannya sudah cukup mampu membuatku payah mengeja hierarki
cinta yang tersusun sedemikian apiknya.
Pernah suatu ketika, mama
membelikan aku sebuah baju baru. Mama berusaha memilihkan aku baju yang menurut
beliau bagus dan mahal, tapi malangnya, baju itu cukup membuat aku merasa risih
menggunakannya. Baju itu berwarna ungu tua, terusannya adalah semacam “rok
canda” yang sempat booming beberapa
waktu yang lalu. Aku risih jika menggunakannya, karena baju terusan yang
menawan itu sangat transparan. “Oh….tidak! cukup yang sederhana aja ma.”
Papa,
laki-laki Multi talenta
Yang kedua, orang-orang baik itu
adalah papa. Beliau laki-laki multi talenta. Aneka jenis pekerjaan mampu
dilakukannya. Profesi apa yang sebenarnya tidak mampu beliau lakukan?
Menjadi seorang pendidik, menjadi
ayah, menjadi pengajar, menjadi seorang petani, nelayan, tukang batu, tukang
kayu, supir, pedagang, pemburu, pemancing yang seharian menghabiskan waktu
untuk memancing, dan hasilnya cuma mendapatkan cucu ikan mujair, super mini,
maka agar bisa dimakan, cucu ikan mujair itu digoreng kering. Menjadi tukang masak,
tukang cuci, tukang ngepel, ah……apa yang tidak mampu dilakukan olehnya?
Jika soal memimpin, maka tidak akan
nada yang berani kongkalikong. Papa adalah orang yang sedikit banyak masih
mempertahankan keidealan.
Sebenarnya, talenta yang ia
miliki tidak datang begitu saja, juga tidak dibawa sejak beliau lahir, yang beliau
bawa dari lahir adalah sifat beliau yang sangat keras, karena beliau dilahirkan
dari seorang ayah yang menekuni dunia kemiliteran. Telanta itu muncul dan
berkembang atas dasar keinginan untuk menghidupi keluarga jauh lebih baik dari
kehidupan beliau sewaktu kecil. Beliau tidak ingin kami, anaknya, mengalami
kesusahan-kesusahan hidup seperti yang papa alami. Yah, itu sebenarnya alasan
yang mewakili semua kemampuan beliau. Diam-diam, papa menginginkan agar aku
bisa memiliki seorang pendamping hidup tipikal family man yang multi talent seperti
beliau: mampu melakukan jenis pekerjaan apa pun untuk menghidupi keluarga.
Seingatku, waktu kecil, papa
sering melarangku memanjat pohon jambu yang tepat berada di samping rumah. Jika
aku telah sukses menginjakkan kaki di dahan-dahan pohon jambu, maka papa akan
segera menatapku tajam, sebuah tatapan yang bermakna ” cepat turun, nanti kamu
bisa jatuh, kamu itu perempuan, tidak baik jika telah tumbuh menjadi gadis tapi
bopengan”
Pernah suatu ketika, kira-kira
saat itu aku berumur 5 th, aku sakit keras. Aku bahkan susah untuk membuka
mataku. Demam tinggi hingga mengigau. Mama khawatir. Sebab papa sedang
mengikuti lomba “karya tepat guna” di Solo. Dalam igauan itu, nama papa selalu
aku sebut. Maka semasa kecil, seperti itulah makna ketiadaan papa disampingku.
Ah, betapa aku ingin mengatakan
bahwa saat ini, saat aku sudah tak kecil lagi, aku masih merindukannya setengah
mati. Namun tercekat di tenggorokan, tak berani keluar. Maka aku hanya berani
menatapnya pelan saat Senin kemarin mengantar beliau kembali ke Bima, padahal, jauh
di kedalaman hatiku, aku telah ambruk. Sisi lain kuliah ternyata pelan-pelan
membuatku,jasadku terpisah dengan orang-orang yang aku sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar