Tentangmu juga kenyataan yang ternyata
lebih sulit dari tirakat
Lalu tiba-tiba semuanya memburam
Karena aku dan kau berjarak umpama langit
dan bumi yang tak pernah tersulam
Kita jauh………
Jauh…..
Sejauh langit dan bumi yang dekat namun
tak pernah bertemu pada satu titik,
Kecuali kaki langityang aku tatap di sore yang mulai menghitam
ini
Pada satu titik waktu
Aku sempat merindukan sebuah pertemuan
Tepat di tempat yang aku sebut taman
Tempat dimana segala lelah dibelai
kedamaian
Disitujasadmu tiba-tiba saja hidup
Dari berupa-rupa simpul ilmu yang
tertiup
Sementara, di bawah tangkupan kedua
tanganku sesuatu berdegup
Aku melihatmu, mendengarmu, merasakanmu
Dari aroma patriotik sekaligus heroik
Aku mengikutimu, dan diam mengaminimu
Pelan-pelan aku tersadar,
aku ternyata perlahan menjauhimu wahai
pangeran Badar
Kuda pacu yang aku pakai tiba-tiba
gentar
Oleh sesuatu, mungkin halilintar
Aku ingin kembali
Seperti waktupertama kali
Kemudian doa dari bayanganmu utuh
menimpali
Pelan-pelan ku ikuti:
“Ya
Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku
dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang paling pengasih di antara para
pengasih, engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada
siapa hendak Kau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam
kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli
asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang
Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari
segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar
Engkau tidak menurunkan kemarahanMu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah
yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tak ada daya dan kekuatan selain
dariMu”
Wahai, yang lembut hatinya,
Adakah engkau pernah memikirkan rupa
juga harta?
Hanya ummatmu yang kian berlari jauh
berbayang di mata
Lalu kini, kami tengah mencari sosokmu
di lembaran-lembaran masa
Namun tak jua dapat, sebabsosokmu adalah cahaya yang tercipta
Aku
masih ingat, dulu waktu kecil aku ingin sekali menjadi siswa yang cerdas lagi
berprestasi, maka aku sampaikan keinginan besar itu pada seorang tetangga.
Namanya Baharuddin. Titahnya pelan-pelan sembari mengingat-ingat ajian pamungkas
warisan leluhur: “dulu aku juga ingin sepertimu Em, terlebih lagi aku dan
kawan-kawanku ingin sekali pandai menghafal Al-quran.” Lalu dikeluarkannya
ajian sakti mandra guna itu:
“Ambillah
robekan Al-quran kemudian bakar hingga menjadi arang. Arangnya direndam dalam
segelas air, perhatikan hingga arangnya benar-benar terendam dan hancur, kau
boleh menggunakan tanganmu untuk menghancurkan arangnya, kemudian minumlah air
rendaman itu.”
Subuh
perlahan turun dari titik-titik cahaya yang merambat pelan di langit. Aku masih
lelap saat itu setelah tertidur tengah malam akibat tugas yang harus aku
selesaikan. Tiba-tiba suara teriakan dari arah bawah pondokan dengan cepat
membangunkanku “kebakaran!!!! Kebakaran!!!! Bangunnn!!!!”. Aku tersentak kaget,
antara sadar dan tidak sadar, aku bangkit dari tidur dan sempoyongan mengambil
jilbab, blazer, rok, juga kaos kaki yang biasa aku simpan pada satu tempat. Ku pakai
sembarang saja, tak aku perhatikan lagi kerapiannya.
Maafkan, terlalu menyakitkan bukan? Dan aku baru sangat menyadarinya sekarang Pada titik dimana seharusnya aku telah benar-benar jauh dari titik pertama kita Aku ini sangat suka berlari, Entah.......