Senin, 28 Oktober 2013

Dosa yang Apatis

Andis,
Andis,
Andis,
Engkau memang manis
Tahanlah perih untuk tidak menangis
Andis,
Andis,
Andis,
Di bawah hujan yang gerimis
Aku masih mengais-ngais
Teka-teki berbau amis
Andis,
Andis,
Andis,
Aku kira cukup romantis
Tapi ternyata sangat pragmatis
Andis,
Andis,
Andis,
Di bumi kita ini banyak yang mengaku humanis
Tapi mengapa hidup urakan, tragis
Andis,
Andis,
Andis,
Kau lihat ke seberang, nun di bawah lingkup awan pada bumi yang sferis
Hujan tiba-tiba saja membuat sampah menggunung, membusuk , tak ada yang peduli, skeptis
Jangan salahkan hujan, tapi mereka yang suka membuang sampah sembarangan mengotori sisi bumi, lalu mengaku idealis
Andis,
Andis,
Andis,
Aku mulai berpikir, jangan-jangan kita ini calon-calon mayat yang pesimis
Berwajah tampan lagi manis
Andis,
Andis,
Andis,
Aku akan menyudahi diksi yang kritis
Izinkan diri merasai noktah noda realistis
Biar Tuhan menghukum segala dosa yang apatis

28 Oktober 2013

Kamis, 24 Oktober 2013

Tanpa Judul



Bungur mulai mekar,Wan
Dan September yang kering telah berlalu
Kau tahu bahwa Oktober mulai basah

Sesuatu di tengah pipimu belum juga kering
Padahal sore akan usai
Sementara malam akan kembali datang menyelimutimu

Sesuatu perlahan menampakkan sebuah kepastian :
Engkau tak akan kembali setelah berhembus kencang
Di sabana yang jauh

Liukan bungur ungu, menggoda untuk menoleh
Tidak!!!!
Tak ada bekas semilirmu di sana
Hanya buliran hujan yang mulai merambat turun ke tanah

Bukan tidak ingin,
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja ketakutan menjalari sekujur tubuhku
Melumpuhkan sarafku
Aku mulai berpikir, aku mencintai sebuah kesia-siaan
Malangnya, mungkin kesia-siaan itu adalah Engkau

Bagaimana mungkin seseorang yang mengiginkanmu tapi tak pernah ingin berjuang???
Itu sia-sia bukan?
Wan, kapan ujian-ujianmu akan berakhir?
Aku mulai berpikir lagi, betapa dunia ini penuh dengan ujian, termasuk bahwa dirimu sendiri adalah ujian bukan?

Wan, jika aku percikan hujan dan engkau adalah cahaya yang menembus angin
Maka mungkin saja itu adalah pelangi
Tapi pelangi dengan gradasi warna samar, tidak jelas
(bersambung)

_Emy Gufarni_
Makassar, 22 Oktober 2013

Rabu, 16 Oktober 2013

Aku dan Kau


Suatu hari, riuh rendah Thaif menyambangi
Terompah yang basah oleh darah dan sepi
Sedang kau masih jua berdiri
Kau berharap banyak yang mengamini
Atas doa dan pengharapan pada Ilahi Rabbi
Setiap yang datang kau ajak
Kau seru setumpuk nasehat
Kepada  cahaya Islam yang kian dekat
Aku masih ingat,
Seseorang membuatku merapalkan hikayat
Tentangmu juga kenyataan yang ternyata lebih sulit dari tirakat
Lalu tiba-tiba semuanya memburam
Karena aku dan kau berjarak umpama langit dan bumi yang tak pernah tersulam
Kita jauh………
Jauh…..
Sejauh langit dan bumi yang dekat namun tak pernah bertemu pada satu titik,
Kecuali kaki langit  yang aku tatap di sore yang mulai menghitam ini
Pada satu titik waktu
Aku sempat merindukan sebuah pertemuan
Tepat di tempat yang aku sebut taman
Tempat dimana segala lelah dibelai kedamaian
Disitu  jasadmu tiba-tiba saja hidup
Dari berupa-rupa simpul ilmu yang tertiup
Sementara, di bawah tangkupan kedua tanganku sesuatu berdegup
Aku melihatmu, mendengarmu, merasakanmu
Dari aroma patriotik sekaligus heroik
Aku mengikutimu, dan diam mengaminimu
Pelan-pelan aku tersadar,
aku ternyata perlahan menjauhimu wahai pangeran Badar
Kuda pacu yang aku pakai tiba-tiba gentar
Oleh sesuatu, mungkin halilintar
Aku ingin kembali
Seperti waktu  pertama kali
Kemudian doa dari bayanganmu utuh menimpali
Pelan-pelan ku ikuti:
Ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang paling pengasih di antara para pengasih, engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahanMu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tak ada daya dan kekuatan selain dariMu”
Wahai, yang lembut hatinya,
Adakah engkau pernah memikirkan rupa juga harta?
Hanya ummatmu yang kian berlari jauh berbayang di mata
Lalu kini, kami tengah mencari sosokmu di lembaran-lembaran masa
Namun tak jua dapat, sebab  sosokmu adalah cahaya yang tercipta
_Emy Gufarni_

Kamis, 10 Oktober 2013

Ajian Salah Siasat


Aku masih ingat, dulu waktu kecil aku ingin sekali menjadi siswa yang cerdas lagi berprestasi, maka aku sampaikan keinginan besar itu pada seorang tetangga. Namanya Baharuddin. Titahnya pelan-pelan sembari mengingat-ingat ajian pamungkas warisan leluhur: “dulu aku juga ingin sepertimu Em, terlebih lagi aku dan kawan-kawanku ingin sekali pandai menghafal Al-quran.” Lalu dikeluarkannya ajian sakti mandra guna itu:
“Ambillah robekan Al-quran kemudian bakar hingga menjadi arang. Arangnya direndam dalam segelas air, perhatikan hingga arangnya benar-benar terendam dan hancur, kau boleh menggunakan tanganmu untuk menghancurkan arangnya, kemudian minumlah air rendaman itu.”

Jumat, 04 Oktober 2013

Kebakaran


Subuh perlahan turun dari titik-titik cahaya yang merambat pelan di langit. Aku masih lelap saat itu setelah tertidur tengah malam akibat tugas yang harus aku selesaikan. Tiba-tiba suara teriakan dari arah bawah pondokan dengan cepat membangunkanku “kebakaran!!!! Kebakaran!!!! Bangunnn!!!!”. Aku tersentak kaget, antara sadar dan tidak sadar, aku bangkit dari tidur dan sempoyongan mengambil jilbab, blazer, rok, juga kaos kaki yang biasa aku simpan pada satu tempat. Ku pakai sembarang saja, tak aku perhatikan lagi kerapiannya.
`              

Rabu, 02 Oktober 2013

Maafkan

Maafkan, terlalu menyakitkan bukan?
Dan aku baru sangat menyadarinya sekarang
Pada titik dimana seharusnya aku telah benar-benar jauh dari titik pertama kita
Aku ini sangat suka berlari,
Entah.......