Bungur mulai mekar,Wan
Dan September yang kering telah berlalu
Kau tahu bahwa Oktober mulai basah
Sesuatu di tengah pipimu belum juga kering
Padahal sore akan usai
Sementara malam akan kembali datang menyelimutimu
Sesuatu perlahan menampakkan sebuah kepastian :
Engkau tak akan kembali setelah berhembus kencang
Di sabana yang jauh
Liukan bungur ungu, menggoda untuk menoleh
Tidak!!!!
Tak ada bekas semilirmu di sana
Hanya buliran hujan yang mulai merambat turun ke tanah
Bukan tidak ingin,
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja ketakutan menjalari
sekujur tubuhku
Melumpuhkan sarafku
Aku mulai berpikir, aku mencintai sebuah kesia-siaan
Malangnya, mungkin kesia-siaan itu adalah Engkau
Bagaimana mungkin seseorang yang mengiginkanmu tapi tak pernah
ingin berjuang???
Itu sia-sia bukan?
Wan, kapan ujian-ujianmu akan berakhir?
Aku mulai berpikir lagi, betapa dunia ini penuh dengan ujian, termasuk bahwa dirimu sendiri adalah ujian bukan?
Wan, jika aku percikan hujan dan engkau adalah cahaya yang menembus angin
Maka mungkin saja itu adalah pelangi
Tapi pelangi dengan gradasi warna samar, tidak jelas
(bersambung)
_Emy Gufarni_
Makassar, 22 Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar