Rabu, 16 Oktober 2013

Aku dan Kau


Suatu hari, riuh rendah Thaif menyambangi
Terompah yang basah oleh darah dan sepi
Sedang kau masih jua berdiri
Kau berharap banyak yang mengamini
Atas doa dan pengharapan pada Ilahi Rabbi
Setiap yang datang kau ajak
Kau seru setumpuk nasehat
Kepada  cahaya Islam yang kian dekat
Aku masih ingat,
Seseorang membuatku merapalkan hikayat
Tentangmu juga kenyataan yang ternyata lebih sulit dari tirakat
Lalu tiba-tiba semuanya memburam
Karena aku dan kau berjarak umpama langit dan bumi yang tak pernah tersulam
Kita jauh………
Jauh…..
Sejauh langit dan bumi yang dekat namun tak pernah bertemu pada satu titik,
Kecuali kaki langit  yang aku tatap di sore yang mulai menghitam ini
Pada satu titik waktu
Aku sempat merindukan sebuah pertemuan
Tepat di tempat yang aku sebut taman
Tempat dimana segala lelah dibelai kedamaian
Disitu  jasadmu tiba-tiba saja hidup
Dari berupa-rupa simpul ilmu yang tertiup
Sementara, di bawah tangkupan kedua tanganku sesuatu berdegup
Aku melihatmu, mendengarmu, merasakanmu
Dari aroma patriotik sekaligus heroik
Aku mengikutimu, dan diam mengaminimu
Pelan-pelan aku tersadar,
aku ternyata perlahan menjauhimu wahai pangeran Badar
Kuda pacu yang aku pakai tiba-tiba gentar
Oleh sesuatu, mungkin halilintar
Aku ingin kembali
Seperti waktu  pertama kali
Kemudian doa dari bayanganmu utuh menimpali
Pelan-pelan ku ikuti:
Ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang paling pengasih di antara para pengasih, engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahanMu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tak ada daya dan kekuatan selain dariMu”
Wahai, yang lembut hatinya,
Adakah engkau pernah memikirkan rupa juga harta?
Hanya ummatmu yang kian berlari jauh berbayang di mata
Lalu kini, kami tengah mencari sosokmu di lembaran-lembaran masa
Namun tak jua dapat, sebab  sosokmu adalah cahaya yang tercipta
_Emy Gufarni_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar