Subuh
perlahan turun dari titik-titik cahaya yang merambat pelan di langit. Aku masih
lelap saat itu setelah tertidur tengah malam akibat tugas yang harus aku
selesaikan. Tiba-tiba suara teriakan dari arah bawah pondokan dengan cepat
membangunkanku “kebakaran!!!! Kebakaran!!!! Bangunnn!!!!”. Aku tersentak kaget,
antara sadar dan tidak sadar, aku bangkit dari tidur dan sempoyongan mengambil
jilbab, blazer, rok, juga kaos kaki yang biasa aku simpan pada satu tempat. Ku pakai
sembarang saja, tak aku perhatikan lagi kerapiannya.
` Sementara suara itu masih
melolong memecah lelap anak pondokan yang meringkuk di bawah selimut subuh, aku
cepat-cepat turun dan berlari sejauh mungkin, tepat di selasar, aku menengok ke
arah datangnya hawa panas, oh….api yang berwarna merah jingga itu melalap
sebuah rumah laundry, yang jaraknya sekira tiga ruko besar dari pondokanku. Semakin
lama badanku kian bergetar. Semua barang-barang tak ada satu pun yang aku
ingat, yang aku utamakan adalah keselamatanku. Pikiran panikku menghalangi dari
menyelamatkan barang-barang itu, aku takut api itu menjalari kabel-kabel yang
digantung sekenanya pada dinding-dinding ruko dan mulai membakar ruko lain juga
pondokan kami. Maka hanya dengan satu lompatan besar, aku berhasil melewati
beberapa anak tangga pondokan.
Anak
pondokan mulai terlihat bangun, sebagian ada yang berteriak agar saklar listrik
dimatikan, sebagian ada yang berteriak meminta ember dan air, sebagian ada yang
menggeser letak motor yang menghalangi jalanan, sisanya menyelamatkan
barang-barang yang bisa diselamatkan. Suasana semakin mencekam ketika dua unit
truk pemadam kebakaran datang menderum lantang dan api semakin ganas merambat
ke warung internet (warnet) yang berada di lantai dua warung makanan tepat di
depan rumah laundry, namun sayangnya, truk pemadam kebakaran itu tak membawa
serta air dalam jumlah banyak, hanya sedikit, akhirnya dua truk itu harus
kembali mengisi air dan api semakin mengamuk melahap warnet. Warnet itu
berdinding tripleks kering, api dengan mudah melahapnya habis, tak tersisa. Sementara
warung makanan di lantai dasarnya tidak banyak yang habis karena
dinding-dindingnya adalah tembok.
Aku
menelepon kakak pertamaku, kak Yes. “tet….tet…..tet….”, Hp dimatikan. Mungkin kak
Yes mengira aku sedang mengigau memencet Hp saat subuh buta. Kusambungkan lagi
ke nomornya “tet…tet….hallo”, belum sempat Ia bertanya “mengapa”, aku sudah
lebih dulu menguraikan titah darurat kepadanya “kak Yes, Workshop kebakaran,
tolong jemput saya”.
Beberapa
menit aku menunggu di pinggir jalan dalam keadaan panik, juga badan yang masih
bergetar dan lafaz istigfar yang tak putus, seorang laki-laki bermotor merah
berhenti tepat di hadapanku, “ayo naik”, tak banyak kata aku langsung duduk dan
beku tak berbicara apa pun.
Aku
kira, pemboncengku yang tak lain adalah iparku, suami dari kak Yes akan
membawaku berlindung di rumah mungilnya di
Perdos, ternyata tidak! Dia membelokkan motornya masuk area pondokan. “selamatkan
barang yang bisa di selamatkan”, aku
semakin sesak. Ah, dalam keadaan begini aku tak memikirkan barang-barang
berharga seperti laptop juga berkas-berkas penting lainnya. Kak Ifatlah yang
dengan bijak mengingatkanku. Akhirnya aku memtuskan untuk turun dari motor dan
berlari kencang untuk mengambil barang-barang berharga.
Setelah
beberapa lama bergelut dengan gelapnya kamar, aku berusaha memberanikan diri
menengok ke arah kebakaran. Api yang tertangkap oleh mataku kian membiru dan
mulai merontokkan dahan Ki Hujan yang kering akibat lama tak disirami hujan
yang menaungi bagian depan warnet. Kabel-kabel mulai ikut terbakar persis
seperti kembang api. Api yang terpancar itu juga semakin menambah panas area
pondokan. Aku terdiam sesaat, memikirkan sesuatu. “Mungkin Tuhan sedang menegur
kami, anak pondokan yang sering lalai dari mengingatNya. Sekiranya masih ada
kebaikan dari terselamatkannya kami, maka selamatkan kami dalam keadaan utuh
tanpa cacat Tuhan”
_Emy Gufarni_
11 Jam setelah kejadian
Makassar 4 September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar