Jumat, 04 Oktober 2013

Kebakaran


Subuh perlahan turun dari titik-titik cahaya yang merambat pelan di langit. Aku masih lelap saat itu setelah tertidur tengah malam akibat tugas yang harus aku selesaikan. Tiba-tiba suara teriakan dari arah bawah pondokan dengan cepat membangunkanku “kebakaran!!!! Kebakaran!!!! Bangunnn!!!!”. Aku tersentak kaget, antara sadar dan tidak sadar, aku bangkit dari tidur dan sempoyongan mengambil jilbab, blazer, rok, juga kaos kaki yang biasa aku simpan pada satu tempat. Ku pakai sembarang saja, tak aku perhatikan lagi kerapiannya.
`               Sementara suara itu masih melolong memecah lelap anak pondokan yang meringkuk di bawah selimut subuh, aku cepat-cepat turun dan berlari sejauh mungkin, tepat di selasar, aku menengok ke arah datangnya hawa panas, oh….api yang berwarna merah jingga itu melalap sebuah rumah laundry, yang jaraknya sekira tiga ruko besar dari pondokanku. Semakin lama badanku kian bergetar. Semua barang-barang tak ada satu pun yang aku ingat, yang aku utamakan adalah keselamatanku. Pikiran panikku menghalangi dari menyelamatkan barang-barang itu, aku takut api itu menjalari kabel-kabel yang digantung sekenanya pada dinding-dinding ruko dan mulai membakar ruko lain juga pondokan kami. Maka hanya dengan satu lompatan besar, aku berhasil melewati beberapa anak tangga pondokan.
Anak pondokan mulai terlihat bangun, sebagian ada yang berteriak agar saklar listrik dimatikan, sebagian ada yang berteriak meminta ember dan air, sebagian ada yang menggeser letak motor yang menghalangi jalanan, sisanya menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan. Suasana semakin mencekam ketika dua unit truk pemadam kebakaran datang menderum lantang dan api semakin ganas merambat ke warung internet (warnet) yang berada di lantai dua warung makanan tepat di depan rumah laundry, namun sayangnya, truk pemadam kebakaran itu tak membawa serta air dalam jumlah banyak, hanya sedikit, akhirnya dua truk itu harus kembali mengisi air dan api semakin mengamuk melahap warnet. Warnet itu berdinding tripleks kering, api dengan mudah melahapnya habis, tak tersisa. Sementara warung makanan di lantai dasarnya tidak banyak yang habis karena dinding-dindingnya adalah tembok.
Aku menelepon kakak pertamaku, kak Yes. “tet….tet…..tet….”, Hp dimatikan. Mungkin kak Yes mengira aku sedang mengigau memencet Hp saat subuh buta. Kusambungkan lagi ke nomornya “tet…tet….hallo”, belum sempat Ia bertanya “mengapa”, aku sudah lebih dulu menguraikan titah darurat kepadanya “kak Yes, Workshop kebakaran, tolong jemput saya”.
Beberapa menit aku menunggu di pinggir jalan dalam keadaan panik, juga badan yang masih bergetar dan lafaz istigfar yang tak putus, seorang laki-laki bermotor merah berhenti tepat di hadapanku, “ayo naik”, tak banyak kata aku langsung duduk dan beku tak berbicara apa pun.
Aku kira, pemboncengku yang tak lain adalah iparku, suami dari kak Yes akan membawaku berlindung di rumah mungilnya di  Perdos, ternyata tidak! Dia membelokkan motornya masuk area pondokan. “selamatkan barang yang bisa di selamatkan”, aku  semakin sesak. Ah, dalam keadaan begini aku tak memikirkan barang-barang berharga seperti laptop juga berkas-berkas penting lainnya. Kak Ifatlah yang dengan bijak mengingatkanku. Akhirnya aku memtuskan untuk turun dari motor dan berlari kencang untuk mengambil barang-barang berharga.
Setelah beberapa lama bergelut dengan gelapnya kamar, aku berusaha memberanikan diri menengok ke arah kebakaran. Api yang tertangkap oleh mataku kian membiru dan mulai merontokkan dahan Ki Hujan yang kering akibat lama tak disirami hujan yang menaungi bagian depan warnet. Kabel-kabel mulai ikut terbakar persis seperti kembang api. Api yang terpancar itu juga semakin menambah panas area pondokan. Aku terdiam sesaat, memikirkan sesuatu. “Mungkin Tuhan sedang menegur kami, anak pondokan yang sering lalai dari mengingatNya. Sekiranya masih ada kebaikan dari terselamatkannya kami, maka selamatkan kami dalam keadaan utuh tanpa cacat Tuhan”
 _Emy Gufarni_
11 Jam setelah kejadian
Makassar 4 September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar