Kamis, 10 Oktober 2013

Ajian Salah Siasat


Aku masih ingat, dulu waktu kecil aku ingin sekali menjadi siswa yang cerdas lagi berprestasi, maka aku sampaikan keinginan besar itu pada seorang tetangga. Namanya Baharuddin. Titahnya pelan-pelan sembari mengingat-ingat ajian pamungkas warisan leluhur: “dulu aku juga ingin sepertimu Em, terlebih lagi aku dan kawan-kawanku ingin sekali pandai menghafal Al-quran.” Lalu dikeluarkannya ajian sakti mandra guna itu:
“Ambillah robekan Al-quran kemudian bakar hingga menjadi arang. Arangnya direndam dalam segelas air, perhatikan hingga arangnya benar-benar terendam dan hancur, kau boleh menggunakan tanganmu untuk menghancurkan arangnya, kemudian minumlah air rendaman itu.”
Maka dengan suka cita aku melakuknnya. Aku pikir karena yang dibakar adalah robekan lembaran al-quran maka rasanya pasti manis. Tapi arang tetaplah arang. Semoderen apa pun teknik serta peralatan yang digunakan untuk membakarnya, rasanya tetap sama, rasa arang. Aku hampir muntah meminum air rendaman itu apalagi arang tersebut sudah lebih dulu aku kremek-kremek sebelum meminumnya, pastilah bakteri dari tanganku mengamuk, dan akhirnya memutuskan untuk nomaden, berpindah secara tidak terhormat ke dalam air rendaman. Setelah agak besar baru aku tahu, bahwa membakar Alquran adalah perbuatan dosa yang tidak boleh sembarangan dimaafkan. Kemalangan yang lain lagi adalah  rendaman itu sesungguhnya racun, karena arang adalah zat karsinogen pemicu sel-sel kanker. Betul-betul innocent.
Saban hari, aku sengaja dikuat-kuatkan oleh tetangga sang pemilik  ide “over brilliant”, sebuah penguatan yang aku maksud adalah mengulangi hal yang sama untuk beberapa kali. Alasan dari penguatan itu tidak lain karena dia benar-benar percaya akan kemampuan ramuan rendaman tersebut. Dia menganggap bahwa kehebatannya sekarang adalah khasiat dari ramuan itu. Dibujuknya aku lagi, “kamu harus coba terus, baru satu kali meneguknya mana mungkin bisa mendapatkan hasil??? Kamu lihat aku ini, sangat kuat dan jago, pandai berkelahi juga kuat bekerja” .
Aku cekikikan melihat tingkahnya. “tidak, aku tidak mau lagi, kamu lihatkan aku kemarin hampir muntah karena ramuan itu???”
“ah, itukan karena kamu baru mencobanya”
Aku langsung membalikkan badan, keluar secara tidak wajar menghindari adu mulut dengannya. Dia memang tetangga yang sangat jago, ya…jago berkelahi. Sering kali aku  bersama kakak pertamaku adu mulut atau saling melempar batu dengan si Baharuddin. Ah….anak-anak selalu merasa dirinya hebat. Memang, dalam diri setiap  anak-anak terdapat kekuatan dahsyat yang hampir punah pada diri setiap orang dewasa. Anak-anak selalu merasa diri mereka bisa melakukan apa pun, menjadi apa pun. Jika mereka ingin menjadi Batman, maka hanya dengan bermodalkan sarung yang diikatkan kedua ujungnya pada leher, juga gaya kuda-kuda yang sebenarnya salah tempat, mereka sudah menjadi Batman. Jika ingin menjadi Ksatria Baja Hitam, maka dengan gaya yang sama dan penambahan asesoris jam tangan, mereka telah menjadi seorang Ksatria.  Demikianlah.
_Emy Gufarni_
Makassar, Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar