Aku
masih ingat, dulu waktu kecil aku ingin sekali menjadi siswa yang cerdas lagi
berprestasi, maka aku sampaikan keinginan besar itu pada seorang tetangga.
Namanya Baharuddin. Titahnya pelan-pelan sembari mengingat-ingat ajian pamungkas
warisan leluhur: “dulu aku juga ingin sepertimu Em, terlebih lagi aku dan
kawan-kawanku ingin sekali pandai menghafal Al-quran.” Lalu dikeluarkannya
ajian sakti mandra guna itu:
“Ambillah
robekan Al-quran kemudian bakar hingga menjadi arang. Arangnya direndam dalam
segelas air, perhatikan hingga arangnya benar-benar terendam dan hancur, kau
boleh menggunakan tanganmu untuk menghancurkan arangnya, kemudian minumlah air
rendaman itu.”
Maka
dengan suka cita aku melakuknnya. Aku pikir karena yang dibakar adalah robekan
lembaran al-quran maka rasanya pasti manis. Tapi arang tetaplah arang.
Semoderen apa pun teknik serta peralatan yang digunakan untuk membakarnya,
rasanya tetap sama, rasa arang. Aku hampir muntah meminum air rendaman itu
apalagi arang tersebut sudah lebih dulu aku kremek-kremek
sebelum meminumnya, pastilah bakteri dari tanganku mengamuk, dan akhirnya
memutuskan untuk nomaden, berpindah secara tidak terhormat ke dalam air
rendaman. Setelah agak besar baru aku tahu, bahwa membakar Alquran adalah
perbuatan dosa yang tidak boleh sembarangan dimaafkan. Kemalangan yang lain
lagi adalah rendaman itu sesungguhnya
racun, karena arang adalah zat karsinogen pemicu sel-sel kanker. Betul-betul innocent.
Saban
hari, aku sengaja dikuat-kuatkan oleh tetangga sang pemilik ide “over
brilliant”, sebuah penguatan yang aku maksud adalah mengulangi hal yang
sama untuk beberapa kali. Alasan dari penguatan itu tidak lain karena dia
benar-benar percaya akan kemampuan ramuan rendaman tersebut. Dia menganggap
bahwa kehebatannya sekarang adalah khasiat dari ramuan itu. Dibujuknya aku lagi,
“kamu harus coba terus, baru satu kali meneguknya mana mungkin bisa mendapatkan
hasil??? Kamu lihat aku ini, sangat kuat dan jago, pandai berkelahi juga kuat
bekerja” .
Aku cekikikan
melihat tingkahnya. “tidak, aku tidak mau lagi, kamu lihatkan aku kemarin hampir
muntah karena ramuan itu???”
“ah,
itukan karena kamu baru mencobanya”
Aku
langsung membalikkan badan, keluar secara tidak wajar menghindari adu mulut
dengannya. Dia memang tetangga yang sangat jago, ya…jago berkelahi. Sering kali
aku bersama kakak pertamaku adu mulut
atau saling melempar batu dengan si Baharuddin. Ah….anak-anak selalu merasa
dirinya hebat. Memang, dalam diri setiap anak-anak terdapat kekuatan dahsyat yang hampir
punah pada diri setiap orang dewasa. Anak-anak selalu merasa diri mereka bisa
melakukan apa pun, menjadi apa pun. Jika mereka ingin menjadi Batman, maka hanya dengan bermodalkan
sarung yang diikatkan kedua ujungnya pada leher, juga gaya kuda-kuda yang
sebenarnya salah tempat, mereka sudah menjadi Batman. Jika ingin menjadi Ksatria Baja Hitam, maka dengan gaya
yang sama dan penambahan asesoris jam tangan, mereka telah menjadi seorang
Ksatria. Demikianlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar