Minggu, 02 Februari 2014

5 cm



Kepada Dealouva 
Malam semakin pekat saja, namun mata tak jua kunjung mampu terlelap dalam pejam


Ini tentang kita, saat sebuah gedung yang kita sebut sebagai sekolah menautkan ikatan, yang masih terekat kiranya hingga sekarang. Di suatu sudut kelas di siang yang kering, tawa terburai bersama sepoi angin dari ujung sawah yang membingkai halaman kelas kita.

Ini tentang kamu, Nis. Perempuan yang memilih jalan serupa dengan ayah yang telah membesarkanmu. Aku pikir kelak keluargamu menjadi keluarga dokter. Tapi untunglah Si Sani mengimbangi dan duduk di kursi profesi yang berbeda tapi kurang lebih sama-sama bermanfaatnya untuk banyak orang.

Ini tentang kamu, An. Kau lebih pantas aku sebut sebagai wanita. Di kepalaku engkau akan sempurna menyandang gelar sebagai seorang ibu. Benih di rahimmu semoga kian kokoh. Kelak kita akan bertemu dan bertatap muka sembari mengizinkan anak-anak kita bermain bebas dan mencandai ilalang seperti yang pernah kita lakukan di penyepian pada sudut-sudut kelas yang hening.

Ini tentang kamu, Pril. Kamu masih saja seperti yang dulu. Kau ada namun tak ada. Tapi persahabatan tetap membingkai diri-diri kita.

Ini tentang kamu, Oca. Perempuan mungil yang menakjubkan. Aku tak ingat ini tahun keberapa kita, yang aku ingat kita tak pernah lagi saling membersamai hingga hari luruh satu-satu.

Ini tentang kamu, Uci. Perempuan yang jiwanya selalu memberontak. Pada segala ketakberdayaan, ketertindasan. Kau perempuan pelukis yang lukisannya pernah membuat aku terpejam sembari merasakan guratan tangan di atas kertas kanvas.

Ini tentang kamu, Lina. Kau ini mirip jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Kau datang pelan-pelan tanpa aku undang, memasuki potongan-potongan hari semasa kita 
kecil dulu. Lalu tetiba saja kau pergi. Entah dengan alasan apa. Tapi kau wanita yang baik hati. Selamanya kita akan bersahabat. 

Oh, aku ingat saat kita menabrak udara yang kering, meloncati pagar demi mencari remah-remah makanan dari toko yang letaknya bersebelahan dengan sekolah kita. Saat itu, kita tak menyadari bahwa tindakan tersebut telah melanggar kode etik “sekolah”. Melompati pagar bukan naturenya perempuan. Tapi kita masih saja membandel sembari tertawa lebar menatap jauh menjenguk ke dalam jiwa satu sama lain. Betapa kita bahagia telah menjalinkan setia, setia pada sebuah ikatan persahabatan. Aku kira, persahabatan adalah salah satu bentuk berkasih sayang. Suatu hari kita akhirnya tersadarkan, bahwa ada jenis lapar lain selain lapar perut, aku menyebutnya sebagai “kelaparan kasih sayang”.
Selamanya, manusia hanya mampu hidup berdampingan dengan sesamanya, makhluk ciptaan Tuhan. 
Selamanya, manusia hanya mampu hidup jika berteman dengan alam, maka izinkan alam menjalankan titah Tuhannya. 
Entah hujan ataupun panas, biarkan mereka saling mengisi. Laiknya kita sekarang, meski jarak membentang umpama kita sedang menatap kaki langit, terlihat seperti tak pernah terjangkau. Tapi masih saja dekat dari jiwa kita, ya….hanya 5 cm di sebelah jiwa kita. Duduk dalam diam disela denyut jantung yang tak pernah letih.
Semoga kalian baik-baik saja. Berpucuk-pucuk surat telah lahir dari rahim kata-kataku. Tapi tak pernah mampu terbang, meski sebenarnya surat bak penyanyi bersayap. Ia mampu ke mana saja. Dipunggungi rindu yang kian menebal bersama helai demi helai bulu-bulunya. Biar Tuhan saja menjaga kalian.

Bima, 2 Februari 2014

Untuk sahabat-sahabatku, Dealouva. Teriring setangkup tangan yang tengadah berdoa, semoga kita kembali dipertemukan dalam sebuah kebaikan.

2 komentar:

  1. Kak Em, pada tulisan ini ada Kak Em... beberapa tulisan sebelumnya tak kutemukan ia. Namun, yang kutemukan adalah aku, azur dan beberapa penulis bayangan.

    Di tulisan ini jiwamu hadir. Di tulisan ini, aku mampu menghirup aroma tubuhmu. Jadilah dirimu saja... :*

    BalasHapus