Sabtu, 14 Desember 2013

Sajak-sajak Hujan I



Surat Hujan

pada suratku yang tintanya telah luntur oleh hujan
ada hatiku yang kian mengering

Makassar, Desember 2013



Didedikasikan untukmu, Penulis!




Setiap penulis memiliki gaya masing-masing dalam menulis. Persis seperti penembang yang sedang melantunkan sebuah tembang dengan warna suara yang berbeda. Untuk cukup tahu siapa yang sedang menembang, engkau tak perlu mendongakkan wajahmu ke atas wajahnya, kau cukup menyiapkan kedua daun telinga yang cukup peka  sekaligus mampu membedakan warna suara si penembang.

_Emy Gufarni_ 
Makassar, 2013

Kamis, 12 Desember 2013

Setelah Pembagian Kondom Gratis


barangkali nanti, maksudku
sesudah pembagian kondom gratis
kau akan membuat sebuah mesin
di mana masyarakat bisa membeli kondom
dengan hanya memasukkan beberapa koin uang receh
yah, ala ATM
itu artinya, nanti senggama bahkan menjadi hal yang wajar
dipertontonkan di depan anak-anak yang sedang bermain petak umpet

Selasa, 10 Desember 2013

"Pare dan Catatan tak Usai" (sebuah resensi)

Saya selalu saja menggunakan kacamata ray-ben satiap kali menyaksikan aksi demonstrasi di jalanan. Tentu saja yang bisa saya saksikan dari aksi demo hanyalah sisi hitamnya saja (negatif): kemacetan, anarkisme, sok jadi pahlawan, merusak fasilitas umum, dll. Saya sama sekali tidak pernah melihat sisi lain dari demonstrasi. Saya tidak pernah mengerti mengapa orang-orang harus berdemo saat  menyampaikan keinginan mereka pada pemerintah. Bagi saya, demonstrasi adalah bentuk kegagalan para petinggi sebuah organisasi atau kampus untuk mendidik dengan benar para anggota organisasi atau anak didiknya.

“Demonstrasi tidak menghasilkan apa-apa” saya selalu mengeluh demikian saat harus terjebak macet akibat aksi demo teman-teman mahasiswa.