Sabtu, 12 April 2014

Jangan Jauh-jauh, Dek!




Ada apa dengan kata-kata dan kalimatmu?

Seperti tendangan yang berhasil membuat mataku bocor. Lalu tiba-tiba air dari bola mataku tumpah ruah. Kita memang selalu begitukan, dek?

Mengandalkan mata hanya untuk melarikan diri sejenak saja.

Sore ini dalam kalimatmu. Aku melahap semua kue-kue di berandamu. Tapi ada satu jenis kue yang membuatku tersedak. Beberapa teguk aku coba masukkan dalam tenggorokan, air yang yang kuminum dari mata air mata. Asin. Tak cukup mampu membelesakkan kuemu. Bagaimana ini? Tak mampu aku tahan sebab selalu melawan arah nafasku.

Baiklah. Tenanglah. Atur nafasmu pelan-pelan

Aku hanya ingin bilang. Kau, adikku paling nakal. Kau sudah lupa ingatan rupanya, bahwa dulu, di kamar 3x2,5 meter yang pengap dan berbau kau pernah menasehatiku. Untuk pulang dan berkhidmat.

Kau tak sadar?

Hari ini kau jauh sekali.

Jauh….

Bahkan hampir tak mungkin kakiku bertandang menjengukmu.
Aku juga hanya ingin bilang, jika urusanmu telah selesai. Pulanglah, dek! Jangan main  jauh-jauh.
Tanamlah akar di rahim perkampungan yang pernah melahirkanmu.

-Pada sudut mata yang menyipit
Bima, 12 April 2014

Jumat, 11 April 2014

Phi




3 malam bersilang sengketa dengan lembaran soal TPA (Test Potensi Akademik) yang saya cetak dari si Canon itu membuat saya kembali akrab dengan Matematika. Si ilmu mati-matian. Meski soal-soal yang ditawarkan adalah soal-soal yang terbilang gampang bagi sebagian orang, namun bagi saya cukup menguras energi.  Dulu, semasa di sekolahan, saya bukan termasuk golongan murid yang pandai Matematika, tak heran di rapor nilai Matematika saya pas-pasan. Saya cuma mengerti hitung-hitungan sederhana, sedangkan menafsirkan sebuah cerita ke dalam bentuk persamaan Matematika saya bisa ngos-ngosan.
Tersebutlah satu soal Aritmetika, begini tulisannya (perhatikan jawaban soal nomor 18) :


             
Yang ada dalam memori saya, lambang tepat di depan kurung itu adalah Phi dengan ketetapan nilai 3,14 atau 22/7. Maka jika diselesaikan soal itu akan begini :

                                                        3,14x5041=15,828

Pilihan jawaban yang disediakan dari A-E berturut-turut adalah 61, 71, 81, 91, dan 51. Sayang sekali jawaban dari hitungan saya tak muncul pada pilihan yang tersedia. Saya memutar otak, mencoba berspekulasi dan mengkambinghitamkan soal. Jangan-jangan soalnya salah.

Berhari-hari saya mengulang soal tersebut setiap malam menjelang tidur. Rasa penasaran kini berubah menjadi rasa kesal yang memuncak. Padahal telah jelas, rumus umum dalam mengerjakan soal-soal TPA adalah “jika tidak bisa, tinggalkan!”.

Akhirnya, saya menyerah. Saya mengirim pesan pendek pada seseorang nun di seberang lautan. Saya menceritakan perihal soalnya. Awalnya guru saya ini seperti lambat merespon. Mungkin karena kesibukan beliau. 

Waktu berdenting, dimulailah obrolan tentang pembahasan soal. ya, walaupun mata saya rada sepat, saya berusaha untuk membaca dengan penuh semangat balasan pesan yang saya kirim beberapa jam yang lalu. Berikut pesan beliau :

Baca baik-baik soalnya.

Iya, udah kak.

Diliatin kemudian ambil balpoin dan buku

Iya, udah.

Soalnya dipelototin, benar gak nih? Bentuk soalnya seperti itu?

Iya, soalnya malah dipegang nih.

Di depan itu bukan tanda phi, melainkan akar.

(Glek! Muka kusut, kening berkerut) (pelan-pelan saya cair, mata melotot memperhatikan lambang phi yang sedang catwalk di depan tanda kurung. Saya tertawa terpingkal-pingkal. Hei, bagaimana mungkin tanda phi yang berlenggang manis itu seketika berubah menjadi akar?!)

Nah, seandainya tertulis tanda phi, bolehlah, soal itu berarti salah tulis, tapi tugas kamu adalah menyesuaikan. Kira-kira hasil soal itu masuk akal gak? Dengan soal tersebut, kesimpulannya soal-soal psikotes membantu kita cepat berpikir.

Secepat Yamaha saya menghitung. Oh..oh…ternyata akar dari 5041 itu adalah 71. Saya melirik kunci jawaban, benar, jawabannya 71. Dalam hati saya cekikikan.

Kalau phi itu kadang di keterangan soalnya langsung ditulis 3,14

Hahaha, iya kak, dapat hasilnya nih.

Adek, kalau liat tanda phi sebenarnya masih ngambang. Atau sekalipun kamu yakin itu adalah tanda phi yang bernilai 3,14 atau soalnya tidak kau temukan jawabannya, maka tugasmu oret-oret jawabannya. Kan itu ada pilihan..sampai 5. Apa tadi 51, 61, 71, 81, 91. Tugas adek semua jawabannya adek tambahin, kaliin, bagiin. Dan itu cepat mendapatkan jawaban. Adek disuruh lebih agresif dalam berpikir alias menghitung

(membaca dengan khusyuk)

Matematika dasar itu mudah sekali jika kita ikut mengotak atiknya
Jawabannya, jadi gak harus monoton liat soal.

(Seketika saya tergelak. Hihihi, kemana aja kamu Em!)
Berkat penjelasan itu, saya mampu menyelesaikan soal yang serupa pada nomor soal yang berbeda. Ah, senangnya luar biasa!

Hikmah dari obrolan Matematika itu, saya jadi berkesimpulan, jika tes potensi akademik adalah salah satu tes yang sering digunakan untuk mengukur tingkat intelengensi seseorang, maka bolehlah saya mengatakan bahwa intelegensi itu bisa di up-grade dengan sering berlatih dan membaca. Tingkat intelegensi sama sekali tidak berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang. Nah, udah dapat pencerahan belum nih? iya…kamu yang lagi baca tulisan ini. Semoga bermanfaat yah^^

Februari 2014

Rabu, 09 April 2014

Fisi




Ini tentang satu keluarga nun di seberang lautan. Ayahnya adalah seorang laki-laki berbadan kekar dengan tombak terpancang, terselip pada pinggangnya. Tombak itu bukan untuk berburu. Hanya dipakai untuk menakuti sang bocah laki-lakinya saja. Istrinya seorang wanita yang patuh. Ia bagai pembantu di rumahnya sendiri sekaligus seperti selir yang melayani rajanya, di rumahnya sendiri. Setiap saat akan makan, keluarga ini melewatinya penuh khidmat. Laki-laki selalu makan duluan, sedang anak-anak dan istri makan belakangan, mereka hanya boleh makan saat para laki-laki pemimpin ini telah kenyang dan menyimpankan sisa-sisa makanan untuk anak juga isterinya.

Tetangga sebelah kanannya pun sama, tetangga sebelah kirinya juga sama. Ayah beranak ini memegang teguh satu tradisi yang sama, para isteri juga anak-anak tak boleh menyentuh makanan sebelum para laki-laki dewasa makan terlebih dahulu.

Aku, saat itu masih kecil.masih terbilang lugu untuk tahu tetek bengek aturan makan seperti itu. Yah, darahku memang dialiri oleh darah yang sama dengan moyang penghuni tempat ini. Meskipun aku sebagai tamu di rumah mereka, adat tetap berlaku. Adagium tentang adat budaya harus dijunjung tinggi di tempat ini. Jika tidak, dengarlah adagium selanjutnya berlagu dari mulut para nenek dan kakek yang telah sepuh.

Hingga akhirnya, suatu peristiwa memaksa aku untuk menuliskan hal ini. Barangkali banyak yang mengalaminya, namun karena masalah adat sekaligus penghormatan atas para lelaki, mereka masih bersetia memegang teguh tradisi leluhur mereka.

Sebenarnya bukan soal perut, bukan soal makanan. Ini soal fisi. Sebuah pemisahan. Aku berpikir bahwa mendahulukan yang lebih tua itu baik, mendahulukan laki-laki itu baik. Tapi tidak jika berlebihan.

Bagiku, tradisi demikan hanya akan memberikan kemungkinn berdirinya sekat pemisah antara anak, isteri juga suami. Takkah menyenangkan saat seluruh keluarga besar berkumpul untuk bersantap bersama? Nuansa apa lagi kiranya yang akan tertangkap oleh mata kecuali kehangatan?

Yah, mungkin dulu saat para raja makan, barangkali tak ada orang lain yang menemaninya makan. Jika pun ada mungkin para selir yang menatap pelan-pelan, memerhatikan tanpa menyentuh makanan, ataupun sekedar memotong-motongkan buah saja. Keadaan seperti itu menurutku tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin seorang pasangan tega melihat pasangannya hanya menikmati gambar sepiring makanan yang tertangkap masuk ke retinanya, tanpa menyantapnya? Itu menyedihkan! Tak ada sisi kebersamaan sebagai pasangan.

Juga saat memisahkan piring nasi, mangkuk nasi, gelas minuman. Luar biasa sekali isteri yang memperlakukan suaminya seperti demikian. Tapi tidak bagiku!

Teringat kisah tentang Rasulullah dengan isteri beliau, Aisyah. Beliau pernah meminum dari gelas bekas bibir Aisyah. Rasulullah pernah menggendong Aisyah dan berlomba lari dengannya. 

Sewaktu Rasulullah kecil, beliau pernah bermain-main di singgasana di mana tak seorang pun berani mendudukinya kecuali kakeknya, Abdul Muthalib. Kakek seperti beliau bahkan merasa senang cucunya menempati tempat duduknya. 

Lalu, penghormatan seperti apa yang diinginkan oleh serang lelaki yang meminta-minta barang-barang keperluan makan, peralatan tidur harus dipisah dengan anak dan isterinya?
Allahu’alam. Hanya mereka yang tahu persis perasaan saat mereka diperlakukan demikian.


Maret 2014

Senin, 07 April 2014

Addendum




Di luar masih gelap, peralihan dari subuh ke pagi mendadak dipenuhi rinai hujan. Aku kira hanya embun, tapi tidak! Embun tak pernah lebat, bukan?

Dingin yang sedari tadi membuat kaki harus terlipat rapat dalam kain sarung, perlahan-lahan terusir oleh sebuah nasehat manis yang menghangatkan “tak ada yang mampu mengalahkan fokus!”

Katanya, kalimat itu telah membuatnya mencicip kesuksesan terlebih dahulu, yah, lebih dahulu dari pada aku.

Aku telah sukses????
Menurutmu sukses itu apa?
Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa sukses?
Apakah sukses itu berarti fokus?
“Lalu bagiamana caranya agar aku bisa fokus?” tanyaku membuat ia gusar, tapi masih selalu saja bernasehat pelan dan lembut.
“kau harus punya tujuan” balasnya tegas.

Memang, selama ini aku masih saja mengandalkan satu rumus yang paling sepuh diantara sekian banyak rumus yang aku pakai “aku akan mengikuti ujian, berharap lulus, namun kurang menguatkan tujuan. Barangkali sekedar memeriahkan hari-hari yang pelan-pelan sepi, pengisi jeda waktu saja.”

Bukan hanya itu, ketidakadaan tujuan membuat aku semakin blingsatan, liar tak terkendali. Semakin banyak maunya tapi entah yang mana harus aku maksimalkan. Istilah moyangku, terlalu rakus. Banyaknya keinginan membuat aku bingung menentukan skala prioritas.

Tak pernah aku seberani ini, berani itu adalah saat aku harus kembali dan berkemul dengan waktu-waktu kemarin. Sebuah titik waktu dimana semuanya terlihat hanya seperti kabut tebal yang menghalangi pandangan ke jalan setapak jauh di depan mata. Siapapun, aku kira akan ketakutan saat ia tak memegang lentera saat berjalan. Lentera api tak ada, lentera jiwa dan hati tak ada. Kita akan kesasar!

Baiklah, aku ingin belajar abai dengan titik waktu itu. Menganggap bahwa semuanya hanyalah sebuah puncak dari sebuah kurva kehidupan. Sebuah titik di mana semua manusia akan merasainya. Tak peduli ia Aristokrat atau rakyat jelata, proletar!

Addendum, lampiran tulisan ini semoga menjadi pengingat.

Medio Maret 2014